Jakarta Open Jazz 2001 Berakhir

By on January 29, 2001

JAKARTA Open Jazz 2001 (JOJ) telah berakhir. Sabtu (27/1) pekan lalu, malam puncak acara musik jazz tersebut berakhir dengan konser jazz di kafe Taman Semanggi, Jakarta Selatan. Penonton memadati kawasan yang penuh dengan ABG itu. Musik jazz pun menjadi primadona pada malam itu.

Marching Band UI tampil sebagai pembuka, membawakan dua buah komposisi. Lenggak dan gaya mereka cukup menarik perhatian penonton. Apalagi komposisi yang dibawakan – yang bernada jazzy, semakin mengantarkan penonton ke dalam atrmosfir jazz. Dengan berpakaian hitam-hitam, anak-anak muda UI itu menunjukan kebolehannya. Sambutan pun membahana.

Sebagai band pembuka malam itu, tampil kelompok Rio Moreno dkk. Penampilan anak-anak asuhan Tjut Nyak Deviana Daudsjah, yang pernah mengikuti serangkaian workshop itu, cukup bagus. Sekitar empat komposisi jazz standar menghiasi penampilan mereka, yang kemudian disusul oleh Fourtiedo, Irsa Destiwi dkk, Indra Lesmana, dan Deviana Daudsjah Quartet.

Penampilan empat anak muda, yang tergabung dalam Fourtiedo mendapat sambutan penonton yang meriah. Pasalnya, di samping penampilan mereka yang memang baik, dua dara remaja: Endah (gitar) dan Titi (drum), paling mendapat perhatian penonton. Banyak yang berdecak kagum dengan gaya dua ABG cantik yang cukup piawai memainkan jazz standar.

Menyusul Fourtiedo, Irsa Destiwi dkk juga tampil menarik. Begitu pula dengan penampilan Indra Lesmana, yang kali ini didukung oleh Mates (bas), dan Sri Aksana Syumandjaya (dram). Komposisi My Favorite Things mereka bawakan dengan enerjik. Penonton seperti tersedot enerjinya, menyaksikan kepiawaian seorang Indra Lesmana yang tampak semakin matang. Dukungan Mates dan Aksana menambah enerjik komposisi tersebut.

Menutup konser JOJ malam itu, Tjut Nyak Deviana Daudsjah, yang didukung Fiona Burnett (saksofon), Karoline Hoefler (bas), dan Carola Grey (dram), tampil menawan membawakan empat komposisi standar. Deviana, dedengkot JOJ yang didukung rekan-rekannya itu, berhasil memukau penonton.

Sebelumnya, pada Jumat (26/1), JOJ juga sukses menggelar The Regent’s Jazz Meet II, di Lobby Hotel Regent, Jakarta. Pada kesempatan itulah, untuk pertama kalinya di Indonesia, sebuah marching band — didukung oleh marching band Universitas Indonesia — tampil di sebuah hotel berbintang. Tiket pertunjukan seharga Rp. 125 ribu laris tak berbekas.

JOJ, boleh dibilang, telah membawa warna baru dari pementasan musik jazz di Indonesia. Kombinasi jazz edukatif adalah sebuah konsep yang baru di Tanah Air. Apalagi targetnya adalah anak-anak muda yang selalu dekat dengan hingar-bingar musik sekelas Sheila On 7 atau Westlife.

Upaya Deviana memasyarakatkan jazz di kalangan ABG terlihat cukup berhasil. Lihatlah acara workshop-nya yang selalu penuh dengan peserta. Deviana sendiri terlihat cukup optimis dengan aktifitas yang didukung oleh PT. Daya Audiovisi Performa dan Yayasan Daya Bina Budaya ini. “Anak-anak muda Indonesia sebenarnya memiliki bakat-bakat yang cukup potensial,” ujar Deviana. Mereka, lanjutnya lagi, harus didukung oleh pendidikan musik yang baik.

Rencananya, seperti diungkapkan pihak panitia, JOJ akan dirubah menjadi Indonesia Open Jazz. Nantinya, even tersebut akan dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia. Sedangkan pada April mendatang, pihak JOJ juga merencanakan untuk mengundang siswa-siswa sekolah musik dari Eropa untuk tampil di Indonesia.

JOJ memang telah berakhir. Namun, gaungnya telah menyadarkan banyak orang yang selama ini kurang memperhatikan pendidikan musik jazz untuk generasi muda. JOJ hadir dengan pertunjukan musik jazz yang edukatif dan menghibur. Sebuah upaya regenerasi musik jazz di Indonesia. (yollismn)