Wanita Musisi di Tengah “Kepungan” Pria

By on April 17, 2001

Emansipasi yang diperjuangkan RA Kartini sudah banyak terwujud sekarang, termasuk dalam dunia musik. Tidak ada hambatan bagi wanita musisi bila ingin bergabung dengan sebuah orkestra atau big  band yang pemainnya masih mayoritas kaum pria. Hanya untuk meraih peluang, kaum wanita memang harus dua kali lebih gigih dibandingkan kaum pria.

Widya Kristanti, Dian HS dan Rita Silalahi adalah contoh wanita musisi yang bekerja di tengah “kepungan” pria musisi. Mereka mengatakan jumlah wanita musisi baru sekitar 30 persen dari pria musisi.

Belum banyaknya wanita meniti karier di bidang musik terjadi karena masih kurangnya dukungan orangtua yang belum yakin bahwa dunia musik akan mampu menghidupi seseorang. Selain itu, kodrat wanita memang mengurus keluarga. Akibatnya, musik hanya sebagai sampingan bukan profesi.

Baik Widya, Rita maupun Dian mengaku belum pernah mengalami hal-hal tidak menyenangkan atau dilecehkan pria musisi saat berkarya. Dunia musik bagi mereka adalah dunia seni dan sesama pekerja seni mempunyai komitmen yang sama untuk menghasilkan karya terbaik.

Lebih Menyenangkan
“Meskipun seseorang membuat album solo, misalnya, tetapi tetap memerlukan bantuan atau kerja sama dengan musisi lain. Kerja sama dengan pria musisi jelas lebih menyenangkan karena bisa lebih disiplin dan profesional. Wanita musisi sulit untuk hal itu karena kodratnya sebagi ibu rumah tangga tadi,” kata mereka yang dihubungi di rumah masing-masing.

Kendala bagi wanita musisi masuk ke dalam lingkungan pria selalu sama dan klasik. Yaitu, persoalan emosi dan ego. “Tetapi bagi mereka yang sudah lama bekerja di dunia musik atau dalam masa yang panjang, persoalan itu bisa diatasi. Mereka bisa lebih beradaptasi, terbiasa dengan sistem kerja pria musisi. Ini jelas akan lebih memperlancar dan cenderung mencairkan suasana,” ungkap Widya Kristanti, komposer yang sudah 30 tahun lebih bergelut dalam dunia musik.

Widya menyadari, sebagai wanita ia tidak bisa seberuntung pria musisi dalam meraih peluang dan tidak hanya di dunia musik tetapi juga bidang lain. “Contoh nyata, Megawati susah sekali menjadi presiden. Hal itu tidak lepas dari faktor karena ia seorang wanita. Perlu perjuangan ekstra untuk meyakinkan orang lain. Tetapi sebagai pekerja musik, yang penting saya kerjakan adalah melakukan pendekatan persuasif terhadap kaum pria dan jangan dilawan dengan ‘kekerasan’. Tunjukkan, wanita juga bisa mengerjakan seperti yang dikerjakan pria musisi. Dengan cara itu kita akan bisa diterima dan dihargai,” kata Widya.

Kodratnya
Pemusik Dian HS menilai kalau wanita musisi kurang mendapat tempat memang sudah kodratnya, bukan karena tidak adanya hak emansipasi. Tetapi harus diakui untuk hal tertentu wanita musisi lebih bagus dibandingkan pria. “Lihat saja, posisi keyboard, bukan piano, lho, pada hampir semua orkes, baik itu Erwin Gutawa, Adhie MS atau Purwacaraka dan lainnya selalu wanita, seperti Widya, Astrid, Irsa, Rita Silalahi dan lainnya. Apa ini tidak hebat?” kata Dian bangga. “Ini membuktikan, keberadaan wanita juga diperhitungkan,” tambahnya.

Menurut Dian, kaum wanita lebih mempunyai pendidikan formal dalam bidang musik, terutama piano. Jika orangtua mereka mengizinkan ikut kursus atau sekolah musik banyak mengarahkan pada alat musik piano. Ada kesan, kursus piano dianggap sebagai sekolah musik yang serius dan cocok untuk kaum wanita, tidak perlu nenteng-nenteng alat musik sehingga tidak merepotkan.

“Biasanya, selesai kursus piano, mereka langsung pulang. Ini harapan semua orangtua. Beda dengan anak laki-laki, usai kursus terus main dengan teman-temannya karena sudah membawa alat musik ma- sing-masing.

Buat anak perempuan, membawa alat musik seperti bas terlalu merepotkan. Dan, saya amati, anak laki banyak yang malas mempelajari piano, lebih senang gitar. Ketika kemudian hari merasa memerlukan bisa memainkan piano, barulah mempelajari alat ini,” begitu kesan Dian yang selama ini dikenal sebagai personel Orkes Telerama.

Beruntung
Rita Silalahi lebih beruntung dibanding kebanyakan wanita musisi lainnya karena dipercaya menjadi konduktor sebuah orkes yang tampil dalam acara Telkomania di sebuah televisi swasta setiap Selasa malam. Kondisi ini sekaligus membuktikan, soal emansipasi juga sudah ada dalam dunia musik Indonesia. Kerja Rita sebagai musisi wanita hasilnya cukup bagus dan tidak mengecewakan, terbukti ia dipercaya menangani paket Telkomania sampai 30 paket lebih. Rita juga mampu mengorganisasi pria musisi yang jumlahnya mencapai 15 orang. Bahkan, Rita dikenal galak dan berani terhadap mereka yang tidak disiplin.

“Saya tidak merasa gamang bermain dengan musisi pria yang jumlahnya mayoritas itu. Soal saya dikatakan galak, ya, saya hanya menerapkan disiplin waktu. Kalau tidak, bisa berantakan.

Ini merupakan kerja tim. Satu molor, yang lain akan molor juga, sehingga kegagalan yang kita dapatkan. Tetapi saya tidak merasa lebih hebat dengan memimpin musisi pria. Saya pikir musik tidak mengenal jenis kelamin, kok,” kata Rita Silalahi yang pernah menimba ilmu soal musik sampai ke Berkley  (Oleh: Eddy Koko)

Sumber: Harian Suara Pembaruan 22 April 2000