Vokalis Jazz, Potensi Yang Terabaikan Industri Musik

By on January 23, 2001

WAJAH yang ayu, suara merdu, dan teknik menyanyi yang baik ternyata tidak selamanya menjadi modal untuk menarik kalangan industri musik. Hal itu dialami para penyanyi jazz wanita, lebih lagi para penyanyi prianya. Di sisi lain, industri musik Indonesia bahkan memunculkan artis-artis baru yang beberapa memang ayu, tapi suaranya tidak merdu, dan nyaris tak menguasai teknik menyanyi sama sekali. Industri musik dalam negeri mungkin memang tidak adil. Apa kurangnya Otti, Syaharani, Aska Daulika, Emil S Praja, atau Vonny Sumlang? Mereka berparas enak dilihat dan bernyanyi enak didengar.

Apa pula kurangnya Jacky Bahasowan dan Johan Untung dalam hal kemampuan bernyanyi. Berbagai lagu jazz, dengan cengkok khas jazz yang butuh penguasaan khusus untuk bisa melagukannya, dibawakan ketujuh vokalis jazz itu dengan baik pada Jamz Matra Jazz, Rabu (28/2) malam di Jamz Cafe, Jakarta.

Sesungguhnya, antara tahun 1980 sampai 1990 musik jazz pernah mendapatkan tempat cukup terhormat dalam industri musik nasional. Album-album karya pemusik jazz, antara lain album kelompok Bhaskara, Karimata, Krakatau, Chris Kayhatu, banyak beredar di pasaran. Lagu-lagu mereka menduduki tempat terhormat di radio-radio swasta, bahkan juga TVRI yang rutin menyediakan waktunya untuk musik jazz.

Tetapi seperti terkena wabah penyakit yang mematikan, kelompok-kelompok musik jazz tidak mampu bertahan, kreativitas mencipta lagu pun seperti hilang ditelan bumi. Musisi yang dulu begitu akrab dengan jazz, sebut saja Candra Darusman dan Indra Lesmana, kini yang satu beralih lebih mengurusi soal hak cipta dan satunya lagi lebih banyak berkiprah di jalur pop.

“Sulit untuk mendapatkan lagu-lagu jazz saat sekarang ini,” ungkap Emil S Praja memberi salah satu alasan. Seperti juga Vonny dan Jacky yang pernah mengeluarkan album rekaman, Emil juga pernah mengalami masa “emas” industri rekaman jazz. Olah vokal dan penampilannya masih mempesona ketika membawakan lagu-lagu Triste dan Easy to Love.

Emil yang termasuk jajaran vokalis jazz senior pada saat ini, masih beruntung mendapatkan tempat untuk tampil secara rutin sekaligus mendapatkan mata pencaharian, yaitu di Hotel Hilton, enam malam dalam seminggu. Mereka yang masih tergolong yunior seperti Syaharani (Rani) atau Otti, belum cukup punya pegangan untuk terus bergelut dengan jazz.

***

MEMASUKI penyelenggaraan ketujuh, kegiatan bulanan Jamz Matra Jazz yang berupaya mengakrabkan kembali para pemusik jazz, belum mampu menggerakkan para musisi dan pecinta jazz untuk melangkah lebih jauh. Padahal melalui kegiatan tersebut, seperti juga pada penampilan tujuh vokalis jazz Rabu (28/2) malam, para musisi dan vokalis dari warna jazz sesungguhnya mempunyai karakter dan kelebihan-kelebihan dibandingkan mereka yang menekuni warna musik pop atau rock, misalnya.

Tetapi seperti juga enam pertemuan Jamz Matra Jazz sebelumnya, kehadiran tujuh vokalis jazz Vonny Sumlang dan kawan-kawan pun jadi hanya semacam nostalgia. Dibuka oleh Otti dengan lagu melankolis My Romance dan ditutup oleh Jacky dengan lagu Take Five, sebelum akhirnya bernyanyi bersama, ketujuh vokalis jazz itu “terperangkap” untuk membawakan lagu-lagu jazz standar. Tak satu pun yang cukup bangga membawakan lagu jazz made in Indonesia. Padahal lagu-lagu pada album Jacky, atau lagu yang dibawakan Vonny ketika mendampingi Bhaskara, sesungguhnya patut dibanggakan.

Terlepas dari itu, diam-diam regenerasi vokalis jazz berjalan. Angin segar dihembuskan Rani yang berparas cantik dan oleh vokalnya mendekati Diane Schuur. Meski semakin sepi dari publikasi, Johan Untung yang semula akrab dengan irama pop, disko, juga disko dangdut, kini malahan terjun ke jazz dengan kemampuan yang tidak mengecewakan.

Di sisi lain, Jacky pun semakin lincah tampil sebagai “Al Jarreau Indonesia”.

Tapi itu semua belum cukup. Para insan jazz sepatutnya kembali
menggali semangat untuk mengobarkan lagi demam jazz ke seluruh
Indonesia. Apalagi musik beraliran pop dan dangdut akhir-akhir ini
cenderung membosankan karena relatif monoton. Untuk sampai ke taraf
itu, pendekatan “lokal” tidak bisa tidak harus ditempuh. Misalnya
dengan memasyarakatkan kembali lagu-lagu jazz Indonesia, memproduksi
kembali lagu-lagu jazz Indonesia, baru kemudian menghadirkan karya
musik jazz tanpa syair.

Dengan bekal sebuah citra bahwa jazz adalah musik kalangan menengah ke atas, musik jazz seharusnya bisa menjadi besar di Indonesia. Namun kelangkaan karya cipta musisi Indonesia menjadi salah satu persoalan besar, sehingga kontinuitas berkiprah di jalur industri sulit diwujudkan. Itu adalah tantangan. Beranikah Anda menerima tantangan wahai insan jazz Indonesia? (Rakaryan S)

Sumber : KOMPAS, Jumat, 1 Maret 1996. Hal. 9