Viktor Bailey: “Saya Tak Mau Disebut Musisi Jazz”

By on April 20, 2000

Victor Bailey adalah salah satu pemain bas legendaris yang memiliki permainan yang khas. Multi instrumentalis ini selalu menghadirkan sesuatu yang baru dalam setiap penampilan, maupun albumnya. Saat mempromosikan alabum teranyar miliknya, misalnya, Victor menggandeng pendekar-pendekar jazz, seperti Kenny Garrett, hingga Dennis Chamber. Di sela-sela penampilannya, 18 April lalu, di “Jubez“, Karlsruhe, Jerman, Victor menerima Ratna Sari Koch, dari Horizon-line.Com, untuk sebuah wawancara. Berikut adalah petikannya:

Jaco Pastorius sangat berarti bagi Anda. Seberapa jauh pengaruhnya dalam hidup dan musik Anda?

Dia sangat mempengaruhi permainan saya. Jacko, Stanley Clarke, Alphonso Johnson dan Larry Graham. Saya banyak dipengaruhi oleh beberapa pemain musik. Tetapi, untuk pemain Bass, dia (Jacko – Red.) adalah yang betul-betul  Berkenan di hati saya. Waktu saya masih muda, saya selalu memainkan bass-line nya, beberapa kali, selalu dan selalu, setiap hari. Jaco memang seorang pemain bass yang istimewa. Saya selalu menyukainya. Saya memiliki sebuah komposisi miliknya, di album terbaru saya. Saat merekamnya di studio, saya merasa seperti dulu, ketika saya masih berusia 16 tahun. Sungguh menakjubkan!

Anda seorang musisi jazz. Mengapa Anda juga bermain di albumnya Madonna?

Saya selalu menolak apabila dicap sebagai seorang musisi jazz. Saya sangat senang apabila dapat menghilangkan batasan itu. Dewasa ini banyak sekali musisi muda yang tidak tahu lagi permainan seorang Jaco atau Stanley Clark. Nah, di situlah saya ingin masuk dan memperkenalkannya.

Dari seorang “side man“, Anda menjelma menjadi ” leader”. Apakah setiap pemain musik, dalam hidupnya, harus memiliki kedua pengalaman tersebut?

Saya selalu menjadi “leader “. Sekarang ini, memang baru sebuah album solo  saya yang ke dua. Maksudnya: bukan hal yang baru bagi saya untuk menulis musik,  membuat komposisi musik, membentuk band atau pun memproduksi sebuah album.   Saya telah banyak mengerjakannya untuk musisi-musisi lain. Tapi, banyak juga yang beranggapan, kalau saya bermain di band-band lain, saya dianggap melangkahi posisi “leader“. Hal ini, malah, semakin memperkuat anggapan tersebut.

Anda pernah mengatakan: ” Saya tidak bermain bass. Saya hanya bermain musik ” Maksudnya?

Saya adalah seorang pemain musik. Saya berada jauh dari sekadar seorang pemain bas. Bermain bas, hanyalah salah satu di antara kemampuan saya yang lain. Maksud saya, bermain bass memang keahlian yang paling menonjol dari saya, tetapi saya juga mampu membuat komposisi, menjadi arranger, memainkan keyboard dan juga bernyanyi. Dan, satu hal yang paling saya sukai adalah bermain bas, ketika terjaga di pagi hari. Tetapi, yang paling penting, saya adalah seorang pemain musik.

Di Amerika, banyak yang sedang “kesengsem” dengan Smooth-Jazz. Kemana industri musik di Amerika saat ini ?

Saya pikir, Its ok kalau smooth jazz punya tempat tersendiri. Saya percaya, nantinya, akan banyak orang yang akan menjadi pendengar jazz serius. Maksud saya begini. Untuk orang-orang yang dulunya hanya mendengarkan rock  atau R&B, dan saat ini merasa terlalu tua untuk mendengarkan musik-musik  modern sekarang ini, atau misalnya dengan hip-hop tak mungkin bisa. Nah, untuk orang-orang itulah, smooth jazz dapat menjadi sebuah alternatif. Ya, begitulah gambaran pecinta Jazz Amerika. Saya berharap kita bisa mendobrak tembok ini. Tapi pasti perlu waktu. Secepat itu tidak akan mungkin terjadi.

Ada pesan untuk pencinta Jazz di Indonesia?

Ya. Beberapa teman musisi pernah bermain di Indonesia. Mungkin, suatu saat, saya juga dapat main di Indonesia. Dan, untuk musisi pemula, rajin-rajinlah mendengar Jazz standar. Jangan hanya mendengarkan smooth jazz. Peace !

(Liputan: Ratna Sari Koch, Jerman)