Tuntutan Mencipta Seorang Musisi Jazz

By on January 23, 2001

MEMUDARNYA pesona musik jazz ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia. Di negara asal musik ini pun, Amerika Serikat, musik jazz kini tengah lesu. Industri rekaman musik berpaling dari jazz karena munculnya berbagai warna musik baru yang kemudian mulai digemari kalangan muda.

“Pasar musik jazz sekarang ini sebetulnya mulai terbuka di seluruhdunia. Di Jepang jazz tumbuh dengan pesat, demikian juga di Eropa. Masalahnya adalah di Amerika Serikat justru saat ini tengah terjadi kelesuan. Saya kira, jazz saat ini agak tersisih. Industri ingin mengedepankan musik-musik baru,” ungkap Paul Jackson Jr, di sela-sela penampilannya di Jamz Cafe, Jakarta, yang berlangsung 2-7 April.

Gitaris jazz asal AS yang bergelar the most requested jazz guitarist itu datang bersama rombongan drummer berbakat Michael White tour. Mereka berdua didukung pula oleh musisi jazz Gerald Albright (saxofon), Dwaine Smith (bass), Brian Simpson (keyboard), David Goldblatt (keyboard).

Penampilan keenam pemusik jazz yang masing-masing sudah pernah mengeluarkan album rekaman itu, memukau para penonton yang memenuhi Jamz. Hal itu terlihat dari sambutan penonton ketika mereka bermain. Michael White sebagai motor pertunjukkan dan kawan-kawannya, menunjukkan bahwa mencipta adalah bagian yang tidak boleh pernah dilupakan oleh para pemusik jazz. Mereka menampilkan lebih banyak lagu-lagu karya mereka sendiri, dan ternyata mendapat sambutan antusias dari penonton. Lagu-lagu White dan Paul Jackson Jr tersebut sebagian besar berwarna funky, seperti “Night Time”, “Late Night”, “Giving My Self to You”, tapi ada juga lagu romantik “Elaine”. Mereka juga membawakan lagu terkenal The Beatles “A Long and Winding Road” dengan sentuhan jazz yang sangat manis.

DI tengah kelesuan musik jazz di AS, Paul Jackson Jr dan kawan-kawannya justru melihat adanya “perlawanan” dari para pemusik jazz untuk terus bisa eksis di tengah belantara musik dunia.

“Di AS upaya untuk membangkitkan kembali jazz terlihat datang dari gerakan hip-hop. Mereka mengembangkannya dari wilayah utara, menggabungkan R & B lama tahun 1960-an dan 1970-an, juga awal 1980-an. Hasilnya, kini banyak orang mulai menempatkan lagi jazz dalam tangga lagu,” kata Paul Jackson Jr.

Keengganan industri rekaman memproduksi dan memasarkan album jazz, ditambahkan Paul, dilawan dengan penjualan album di belakang mobil setiap kali para pemusik jazz tampil di sebuah tempat.

“Di AS sudah biasa jika pemusik jazz menjual albumnya di mobil-mobil. Sehabis orang menyaksikan penampilan seorang pemusik jazz, banyak yang kemudian tertarik untuk membeli album si pemusik itu. Oleh karena itulah, mobil pun berfungsi seperti toko kaset,” tambah Pa-ul. Dengan perlawanan seperti itu, Michael White pun melihatadanya kecenderungan akan bangkitnya kembali musik jazz di AS.

Perjuangan Paul Jackson Jr, Michael White, Gerald Albright dan kawan-kawannya untuk terus mengibarkan bendera jazz memang tidak mudah. Menurut mereka, kuncinya adalah terus mencipta dan tampil di depan umum sesering mungkin, sehingga musik mereka pun terus didengar dan diperhatikan orang.

Sebagai musisi jazz, Paul Jackson Jr, Michael White dan kawan-kawannya tidak percaya jika pemusik jazz menggolongkan dirinya ke dalam jazz-player semata. Tantangan terbesar bagi pemusik jazz sekarang justru adalah sekaligus juga menjadi composer dan arranger. Tanpa lagu-lagu jazz baru, atau terus menerus berkutat dengan lagu-lagu yang sudah melegenda, penggemar jazz tidak akan semakin bertambah malahan kemungkinan besar terus berkurang karena orang pun akhirnya akan bosan dengan lagu yang itu-itu juga. (oki)

Sumber : KOMPAS, Senin, 08-04-1996. Hal. 10