Selamat Tinggal Jazz

By on January 23, 2001

JIKA ada dua panggung tersedia, yang satu menampilkan grup musik Jimsaku (ex-Casiopea) dan yang lain Incognito, sedang 99,9 persen penonton yang berjumlah sekitar 20.000-an lari ke panggung Incognito, akan dapat ditebak bahwa pengunjung JakJazz tahun 1997 ini 99,9 persen adalah penggemar musik pop. Incognito yang diundang oleh panitia Jakjazz ’97 khusus untuk memikat penonton tak pelak lagi adalah grup musik pop yang sedikit berbau jazz (R & B).

Jumlah penonton nampaknya memang menjadi sasaran utama JakJazz tahun ini. Alasannya tentu saja dapat ditebak yaitu panitia tidak mau rugi. Mengingat modal festival musik tersebut tahun ini sepenuhnya dari seorang pengusaha (Peter Gontha), masuk akal jika untung-rugi secara finansial menjadi pertimbangan utama penyelenggaraan.

Dalam konteks itulah panitia agaknya memilih grup-grup musik yang kemarin tampil. Alhasil komposisi grup musik yang muncul dalam Jakjazz ’97 (di luar panggung ARH) adalah sebagai berikut: 40 persen grup musik pop semacam Incognito (termasuk grup lokal), 40 persen jazz murni, dan 20 persen grup musik jazz yang eksperimental.

Komposisi demikian inilah yang membuat penampilan grup-grup jazz dalam kandangnya sendiri, yaitu JakJazz, menjadi tenggelam. Sebanyak 40 persen dari nama-nama grup dan penyanyi pop yang sangat populer seperti Incognito, Earth, Wind and Fire (menjelma menjadi LA All Stars), Total Touch, Phil Perry, dan Elfa’s Big Band (plus Elfas Singer) agaknya cukup untuk menelan popularitas grup-grup jazz yang tampil dalam JakJazz. Apalagi panitia masih memasukkan grup-grup pop dan penyanyi dangdut Indonesia yang sangat beken seperti Dewa 19, Farid Hardja, Hamdan AT, dan Camelia Malik, ke dalam komposisi tersebut. Oleh sebab itu tidak heran jika Indra Lesmana mengatakan bahwa lebih baik JakJazz tahun ini tidak usah disebut sebagai festival musik jazz, tetapi festival musik umum saja.

PENYELENGGARAAN sebuah festival jazz di Indonesia agaknya masih akan selalu dihadapkan pada dua persoalan yang mendasar, yaitu pendanaan dan upaya mendatangkan penonton sebanyak mungkin untuk menanggulangi masalah pendanaan tersebut. Kedua hal ini tentu saja berhubungan dengan peluang untuk kelangsungan penyelenggaraan festival itu sendiri.

Dari tahun ke tahun penyelenggaraan JakJazz yang telah berlangsung sebanyak tujuh kali selalu terbentur pada masalah tersebut. Jika tidak terancam oleh tidak adanya dana, ia selalu khawatir dengan kurangnya penonton.

Baru pada tahun inilah kedua hal tersebut dapat teratasi dengan baik. Kehadiran figur seperti Peter Gonta dalam konteks ini dapat dikatakan merupakan pilihan Ireng Maulana yang sangat tepat untuk mendukung kelangsungan penyelenggaraan pesta musik in. Namun sebagai seorang pengusaha bidang hiburan dan media elektronik, Peter Gonta tentu saja datang dengan konsep yang matang untuk bisa mengembalikan investasinya, bahkan jika mungkin mendapat keuntungan.

Ketajaman visinya inilah yang membuat Jakjazz ’97 dapat mengeruk keuntungan yang tidak sedikit dari segi finansiil. Untuk itu wajah festival harus berubah menjadi sebuah festival musik pop berbau jazz.

Dengan kata lain, Peter Gonta samasekali bukanlah seorang dewa penolong yang diharapkan oleh dunia musik jazz Indonesia. Ia adalah seorang pengusaha bermodal kuat yang datang ke dunia jazz dengan visi bisnis yang jauh kedepan, karena jika musik “jazz” ala Peter Gonta semakin digemari oleh masyarakat, usahanya di bidang hiburan dan media elektronik (Jamz, SCTV, RCTI, ARH, Trijaya, Indovision, dan lain-lain) akan mendapat keuntungan yang paling besar. Kompetisi grup-grup yang tampil dalam JakJazz tahun ini adalah komposisi yang baik untuk dapat menyedot pe-nonton sebanyak mungkin.

Yang menjadi masalah bagi saya adalah, konsep tontonan JakJazz tersebut hanya akan membuat selera masyarakat kita akan musik jazz (yang baru saja tumbuh) menjadi semakin berorientasi kepada musik-musik R & B produk Barat. Dalam konteks ini dunia musik jazz Indonesia tidak akan mendapat keuntungan apa-apa, karena jenis musik ini jelas sampai didominir oleh grup-grup musik Amerika dan Eropa.

Mengingat perkembangan dunia musik jazz di Indonesia masih berada pada tahap mencari jatidiri, hal tersebut bahkan dapat sangat merugikan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa umumnya para pemusik jazz di Indonesia sangat gemar ikut-ikutan apa yang sedang laris di Barat. Allhasil mereka sendiri menjadi konsumen musik jazz, bukan seperti yang kita harapkan, yaitu menjadi produsen agar masyarakat kita dapat menghemat devisa.

Dewasa ini grup-grup musik jazz lokal yang sedang berusaha keras untuk memiliki orisinalitas dalam berkarya, mungkin hanya beberapa gelintir saja. Padahal kita semua tahu bahwa hanya dengan bekal orisinalitas sajalah grup-grup musik jazz Indonesia dapat muncul ke permukaan dunia musik internasional dan menjual produknya. Hal tersebut baru-baru ini terbukti oleh suksesnya penampilan grup Krakatau pada sebuah festival musik jazz di Sydney.

DEMI kepentingan jangka panjang para pemusik jazz Indonesia inilah, peristiwa yang sangat penting dan bergengsi internasional seperti JakJazz seharusnya dapat menjadi wadah bagi para pemusik jazz Indonesia, untuk menguji hasil dari proses kreativitasnya dan sekaligus menunjukkan jatidiri karya-karya mereka.

Hal ini jelas memang bukan menjadi tanggung jawab seorang pengusaha seperti Peter Gonta. Di negara manapun juga hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga-lembaga kebudayaan yang bersifat non-komersiil.

Oleh sebab itu idealnya JakJazz diselenggarakan oleh badan yang bersifat non-komersiil sehingga pertimbangan yang menjadi dasar dari penyelenggaraan tersebut semata-mata bukanlah sedikit-banyaknya jumlah uang yang masuk (baca: jumlah penonton). Konsep dasar penyelenggaraan JakJazz seharusnya adalah perimbangan antara upaya untuk meningkatkan jumlah para penggemar musik jazz dan mendorong lahirnya grup-grup musik jazz lokal yang berbobot dan memiliki orisinalitas. (Oleh: Franki Raden, peneliti musik)

Sumber : KOMPAS, Selasa, 11-11-1997. Hal. 1