Ron Reeves Ajak Pemusik Indonesia Mendunia

By on January 12, 2001

ADAKAH peluang musik Indonesia untuk dikenal luas di dunia internasional? Ada! Paling tidak menurut pemusik asal Australia, Ron Reeves yang berada di London, awal Maret ini. Ron berada di ibu kota Inggris ini untuk mencari manajemen atau manajer yang akan menjadi perwakilan dari dua grup musik dari Indonesia.

“Saya sudah bertemu beberapa pihak manajemen musik di Inggris, dan secara umum tanggapannya menyenangkan. Saya ke London untuk mencari manajemen yang bisa memasarkan musik-musik kami, mungkin untuk Eropa atau Amerika, atau kawasan lain,” katanya dalam pembicaraan dengan Kompas pekan lalu.

Kelompok musik di mana Ron bergabung adalah Warogus dan Earth Music, yang dalam beberapa tahun terakhir ini sering tampil di berbagai festival, baik di dalam maupun di luar negeri. Keinginan Ron adalah, rekaman mereka diedarkan dalam bentuk kaset dan CD, karena melihat potensi musik mereka berpeluang diapresiasi oleh masyarakat internasional.

Musik mereka secara keseluruhan pun bukan musik tradisional Indonesia, tetapi gabungan antara tradisional dengan berbagai musik lain dari bagian dunia lain.

“Kami sudah melakukan rekaman. Di Indonesia, April mendatang, kaset kami dari Warogus akan diedarkan PT Gema Nada Pertiwi. Di Australia, kami juga sudah mendapatkan pihak yang mau mengedarkan. Kami juga sedang melakukan perundingan dengan sebuah perusahaan Belanda. Mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lancar, sehingga kami bisa memasarkannya ke seluruh dunia,” kata pemuda asal Australia dalam bahasa Indonesia berlogat Sunda, dengan fasih.

Keyakinan Ron bahwa musik yang mereka mainkan memiliki daya pikat internasional, adalah karena berbagai review ketika mereka tampil di Jerman dan Australia. “Sambutan penonton dan pengamat musik rata-rata sangat mendukung,” kata Ron Reeves, yang sudah mengenal Indonesia hampir 20 tahun itu.

RON Reeves datang ke Indonesia pertama kali di tahun 1977. Dengan latar belakang pengetahuan dan kepandaian musik di Australia, Ron pertama-tama menjadi guru musik di beberapa sekolah. Warogus, yang adalah kependekan dari Wahyu Roche, Ron Reeves, dan Agus Super, tiga pendukung utama kelompok musik itu yang dibentuk tahun 1993.

“Perjumpaan saya pertama kali dengan Wahyu Roche, adalah ketika saya tertarik untuk mempelajari kendang Sunda. Wahyu waktu itu bergabung dengan kelompok musik tradisional Sunda, Jugala, di Soreang, Bandung, dan saya belajar kendang dengan dia,” kata Ron. Oleh pimpinan Jugala, Gugum Gumbira, Ron diminta melakukan eksperimen, menggabungkan musik tradisional Sunda, dengan musik modern, dalam acara televisi Titian Muhibah.

“Dalam proses pembuatan Titian Muhibah itu, saya kenal dengan Wahyu dan Agus Super yang juga bergabung dengan Jugala. Ketika saya diundang tampil di sebuah festival drum di Jakarta, kami lalu bermain dalam trio, dan Warogus resmi berdiri di tahun 1993,” tambah Ron lebih lanjut.

Dasar utama grup Warogus adalah peralatan akustik, yang dalam perjalanannya ditambah dengan berbagai peralatan manca negara, sehingga kemudian bisa disebut sebagai musik dunia.

“Kami berawal dari grup perkusi dengan tiga set gendang, dan setelah itu bereksperimen. Makin lama kami terus menggunakan peralatan, seperti kecapi dan suling, yang berasal dari Sunda sendiri, dan juga yang non-Sunda seperti jembe dari Afrika Barat. Alat tiup yang kami pakai adalah didgeridoo dari Australia, irish whistle dari Irlandia, sarunai dari Sumatera, dan khene dari Thailand,” kata Ron, yang mengaku pemusik profesional.

Menurut Ron, dalam perjalanan selama beberapa tahun terakhir, banyak kritikus musik masih “kebingungan” dalam menentukan jenis musik yang dimainkan Warogus. “Ada beberapa kritikus yang menulis, kami bereksperimen dengan musik Sunda. Itu tidak begitu tepat. Kalau bisa dibuat kategori, ini bisa disebut musik dunia. Musik dunia ini biasanya mencampur unsur tradisi non-Barat. Kadang-kadang hanya itu saja, tetapi juga bisa dicampur dengan musik pop, jazz dari Barat.”

GRUP lainnya, Earth Music, menurut Ron Reeves, juga termasuk golongan musik dunia, namun memiliki beberapa perbedaan mendasar dengan Warogus. Personel Earth Music, selain berasal dari Warogus, ditambah empat orang pemusik jazz terkemuka di Indonesia. Mereka adalah Indra Lesmana memainkan keyboard, Indro Hardjodikoro untuk bass, Cendy Luntungan pada drum, serta Arief pada saksofon dan flute. Earth Music memiliki seorang vokalis wanita, Mutiara, yang juga penabuh gamelan.

“Earth Music pada dasarnya menggunakan gamelan degung, digabung empat pemain jazz, plus perkusi. Jadi di sini ada pertemuan alat-alat tradisi Sunda dengan peralatan jazz. Tetapi musiknya bukan Sunda, dan bukan jazz, tetapi sesuatu yang baru. Ide-ide komposisi juga tidak terbatas pada Sunda dan jazz, tetapi musik dari India, beberapa negara Afrika, atau juga dari jenis musik lain seperti pop, rock, reggae dan lainnya,” tambah Ron Reeves.

Kemauan Ron Reeves bereksperimen musik didukung kemampuannnya. Bertempat tinggal di Perth, pengalaman musiknya antara lain dengan memperkuat Simponi Orkestra Sydney, Iva Davies, Colin Offord, AC/PVC, the Supremes, Java Jazz, dan Toni Childs. Dia juga pernah tampil bersama Synergy, Karnataka College of Percussion dari India, dan World Drum Ensemble.

Trio Ron yang bermarkas di Jerman, Okuta Percussion, pernah meraih hadiah terbaik New World Music di Jerman. (Oleh: L. Sastra Wijaya)

Sumber : KOMPAS, Minggu, 16-03-1997. Hal. 20