Rasa Swing di Album Oele Pattiselano

By on March 10, 2007

Anda menyaksikan penampilan Oele Pattiselano di Java Jazz Festival  awal bulan Maret 2007 lalu? Petikan gitar musisi jazz berdarah Ambon, yang kental dengan nuansa swing ini, sudah bisa Anda dapatkan di toko CD langganan Anda. Ya, album terbaru dari Oele Pattiselano, Plays Standards, belum lama ini dirilis ke pasar musik jazz tanah air.

Sama seperti nama albumnya, album ini menyajikan komposisi-komposisi jazz standard, yang menjadi repertoar wajib para musisi di panggung-panggung jazz. Sebut saja How Insensitive karya Jobim, My One and Only Love, I Love You, My Romance, Yesterdays, Stella by Starlight, hingga Groovin High.

Sembilan komposisi jazz standard dimainkan dengan menarik oleh Om Oele — biasa gitaris ini dipanggil, di album yang diproduksi oleh Musikita ini. Oele berhasil membangun atmosfir swing yang kental di album ini. Gaya permainan gitarnya yang cool, dapat Anda simak di komposisi How Insensitive dan Stella by Starlight.

Hampir semua komposisi yang ada di album ini dimainkan Om Oele dengan rasa swing yang dominan. Dukungan sejumlah musisi Belanda, yang tergabung dalam Peter Ypma Quartet, sangat mendukung Om Oele dalam memainkan kembali komposisi-komposisi jazz standard. Buat yang sudah “kenal” dengan gaya permainan seorang Oele, maka Anda akan langsung akrab, ketika mendengar komposisi Yesterdays.

Om Oele agaknya tak mau melewatkan kesempatan emas yang diberikan musisi Dwiki Dharmawan untuk merilis album solonya. Itulah sebabnya, gitaris senior ini tampil total di album yang proses rekamannya dilakukan di Studio Pendulum ini.

Yang menarik, di album ini, sejumlah musisi jazz asal Belanda ikut mendukung album Plays Standards. Mereka adalah Peter Ypma (drums), Mariuts Beets (acoustic bass), Aab Schaab (saksofon), Erick van Der Lutj (piano), dan Oele Pattiselano (gitar). Sedangkan proses rekamannya sendiri hanya memakan waktu beberapa hari saja, dan seluruh pekerjaan aransemen dilakukan sendiri oleh Om Oele.

Tampilnya sejumlah musisi jazz asal Belanda tersebut berawal dari kedatangan Peter Ypma Quartet yang datang memberikan workshop di Sekolah Musik Farabi, atas undangan Erasmus Huis. Ketika itu, Dwiki Dharmawan menjadi host-nya. Maka, memanfaatkan momen itulah, Dwiki kemudian memberikan kesempatan kepada Oele Pattiselano untuk melakukan proses rekaman.

Tanggapan Om Oele tentang pengalamannya berkolaborasi dengan musisi jazz Belanda? “Feel-nya dapat. Dialek swing-nya lebih terasa,” ujar Om Oele seperti dikutip di rilis Musikita. Rasa terima kasih juga diberikan kepada Dwiki Dharmawan dan pihak Erasmus Huis, yang berjasa mewujudkan album yang didedikasikan untuk adik kandung Om Oele, Perry Pattiselano, yang menjadi korban ledakan bom teroris di Yordania, 9 November 2005 silam.

Perjalanan panjang seorang Oele Pattiselano sebagai musisi jazz, yang ditekuninya sejak 1968, pada akhirnya dapat didokumentasikan dalam sebuah album solo bertajuk Plays Standards. Benar, selama ini Om Oele hanya menjadi musisi pendukung pada banyak album jazz yang telah dirilis di Indonesia. Album ini layak Anda jadikan referensi dan menjadi tonggak perjalanan Om Oele di ranah jazz tanah air. (ymn)