Ramuan Jazz ala Mike del Ferro

By on November 13, 2001

MIKE del Ferro, bagi banyak pencinta jazz di Indonesia, merupakan sebuah nama yang masih asing. Pianis jazz asal Belanda ini memang baru beberapa kali tampil di Indonesia. Musisi jazz berdarah Italy ini telah merilis beberapa buah album, dan mendukung sekitar 20 album rekaman. Gaya dixieland hingga world music pernah dimainkannya. Mike memang senang mencoba beragam aliran musik. Termasuk jazz.

Lahir di Amsterdam, 23 Agustus 1967 dan mulai belajar bermain piano sejak berusia 9 tahun. Lingkungan keluarganya yang mencintai musik, akhirnya membuat Mike kecil juga antusias untuk belajar bermusik. Ayahnya, Leonard del Ferro, adalah seorang penyanyi opera, yang pernah bernyanyi dan rekaman bareng Maria Callas pada 1958.

Pianis yang bersahaja ini menempuh pendidikan musiknya di Conservatory Hilversum, Belanda, dan pada 1990 gelar Master di bidang musik pun diraihnya. Mike sendiri mulai menyukai jazz sejak berusia 17 tahun, dan pernah memenangkan sebuah kompetisi piano pada 1989, di Rotterdam, Belanda, serta pernah juga dinobatkan menjadi pemenang utama pada sebuah Jazz Contest di Karlovyvare – dahulu Chekoslowakia.

Pada album terbarunya, Mike del ferro “Plays Belcanto“, Mike terlihat memadukan unsur opera dalam komposisi-komposisinya. Mike memang cukup akrab dengan musik-musik opera. Agaknya pengaruh ayahnya, yang memang seorang penyanyi opera, cukup membuat Mike memahami karakter musik yang satu ini. Tapi, jangan salah, Mike tak sedang memainkan musik jazz opera. “Musik saya adalah jazz. Tak bisa dikatakan jazz opera,” jelas Mike ketika ditanyakan tentang konsep album teranyar miliknya.

Sebelumnya, pianis yang manggung di beberapa kota di Indonesia – termasuk JGTC ini, pernah merilis sebuah album bertajuk Make Someone Happy. Pada album tersebut, Mike juga didukung oleh Toots Thielemans, peniup harmonika legendaris. Di album yang menyajikan 10 komposisi itu, Mike juga didukung oleh vokalis Sonia Genu.

Boudewijn Lucas – Foto: Situs Bart.NLPenampilannya di panggung JGTC cukup mendapat perhatian penonton. Beberapa komposisi di antaranya Mama, All Blues, Habamera, dan Caravaw, mendapat aplaus penonton. Pada kesempatan tersebut, Mike juga menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan penonton, seputar musik jazz, kepadanya. Ketika itu Mike tampil bersama trionya: Mike del Ferro (piano), Boudewijn Lucas (e-bas), Sebastiaan Kaptein (drum, jambe, perkusi).

Yang menarik, ketika tampil di Erasmus Huis, Senin (12/11), Mike dan grupnya mendapat penggemar-penbggemar baru yang rata-rata ABG, berusia belasan tahun. “Saya sangat senang sekali bisa menghibur penonton Jakarta,” ujar pianis yang kini bernaung di bawah label Universal Music ini.

Sebastiaan Lucas – Foto: Jamsz.NLKehadiran Mike del Ferro Trio di Indonesia, paling tidak, telah membawa sebuah referensi baru tentang musik jazz Eropa, yang kental dengan latar belakang musik klasiknya. Penonton JGTC, juga di tempat lain yang disinggahi Mike, tentunya mendapatkan sebuah hiburan yang sedikit berbeda. Apalagi konsep opera, yang dipadukan diramu dengan tema jazz yang kental. Hal ini tak disangkal oleh Mike, yang mengaku dipengaruhi oleh kultur budaya Italy ini.

Mike memang tak berjalan sendirian. Dia didukung pula oleh dua rekannya yang memiliki jam terbang yang tinggi di dunia musik jazz. Boudewijn Lucas, misalnya. Basist nyentrik ini adalah jebolan The Rotterdam Conservatory, Belanda. Pengalaman bermusiknya cukup banyak. Dia pernah tampil bersama Hans Dulfer, Bob Mintzer, hingga Chet Baker.

Sebastiaan Kaptein lain lagi. Jebolan konservatori dari Groningen ini diam-diam adalah seorang pengajar di salah satu sekolah musik di Belanda. Ketika sedang beraksi di panggung, Sebastian bisa memainkan jambe – perkusi khas Afrika, layaknya sebuah dram. Maka, bisa ditebak, sebuah sound yang unik akhirnya tercipta. Dan, Mike dan juga Lucas, agaknya paham betul dengan gayanya. Penonton akhirnya bertepuk tangan. (yollismn)