Ramsey Lewis, Potret Pemusik Sejati

By on February 12, 1999

PENELITIAN sejumlah pakar yang menghasilkan kesimpulan bahwa musik bisa membuat seseorang panjang umur dan awet muda, terbukti pada kasus Ramsey Lewis. Pianis jazz kelahiran Chicago, Amerika Serikat, 27 Mei 1935 ini, tampak seperti lelaki yang berusia sekitar 45 tahun. Tubuh-nya tegap dan segar, nyaris tak terlihat kerutan di wajahnya. Padahal, dengan tujuh anak pastilah kehidupan Ramsey tidak mudah. Apalagi bidang musik yang dia geluti sudah dikenal bukan ladang yang subur.

Musik jazz memang segalanya bagi Ramsey. Dia menikmati sekali setiap permainannya. Wajahnya cerah dan gembira ketika memainkan piano. Agaknya, bagaimana dia menikmati musik itulah yang membuat Ramsey tampak awet muda.

Pemusik yang mulai dilatih bermain piano pada usia empat tahun itu, patut disebut sebagai pemusik sejati. Sampai saat ini dia sudah menge-luarkan 35 album, belum termasuk album di mana dia membantu pemusik-pemusik lain. Karya-karyanya menunjukkan bagaimana totalitas Ramsey di bidang musik.

Maka, sesungguhnya sangat wajar bila ratusan penikmat jazz di Jakarta, terkagum-kagum melihat penampilan Ramsey Lewis di Jamz, Jakarta, 16-20 Desember. Ramsey bukan saja menunjukkan keterampilan individunya bermain piano, tapi yang lebih utama adalah kemampuannya menularkan “konsep bermusik” yang benar. Musik yang dia mainkan benar-benar mencerminkan alunan melodinya. Ketika susunan melodi mengesankan bunyi sendu, kesedihan, keseluruhan band mengiringnya dalam sebuah kelembutan, kesunyian, tenang.

Dengan ketajaman telinganya yang sudah terlatih, Ramsey menularkan “emosi” musik itu kepada penontonnya. Pada setiap lagunya selalu ada gabungan antara ketenangan, kedamaian dan kegembiraan. Pertunjukan Ramsey yang malam itu juga didampingi vokalis jazz andal, Phil Perry, pada bagian kedua pertunjukannya, jauh dari kesan membosankan. Sebagai “bintang” Ramsey jauh dari kesan ingin menonjolkan diri. Dia malahan memberi kesempatan kepada anggota bandnya yang lain, Oscar Seaton (drum), Henry Johnson (gitar), Chuck Webb (bas), dan Mike Logan (keyboard), serta kesatuan band secara keseluruhan.

Dari sisi sebagai pemusik, Ramsey belumlah menjadi seorang pianis yang lengkap seperti halnya Junior Mance, Gene Harris atau Ahmad Jamal. Namun Ramsey pintar memberikan sinkop, mengolah phrasing pada permainan pianonya, serta memberikan mood musik secara keseluruhan. Permainan solonya ketika membawakan lagu Danny Boy menunjukkan bagaimana piawai-nya Ramsey.

Dari sisi pilihan musik, lagu-lagu yang dia mainkan, antara lain Black Orphens Medley, Come Back To Me, In Crowd menunjukkan kecende-rungan Ramsey lebih ke arah unsur pop. Unsur pop itu dia gabungkan dengan gaya jazz tradisional. Agaknya pendekatan inilah yang membuat penjualan album-album Ramsey terbilang tinggi dibandingkan pemusik jazz lainnya. Ramsey tergolong artis dengan penjualan album terbanyak antara tahun 1955-1981.

BERUNTUNGLAH publik pecinta jazz di Indonesia bila sempat menyak-sikan penampilan Ramsey Lewis. Pasalnya, Ramsey tidak sembarangan memilih tempat pertunjukan karena dia sangat ingin membagi musiknya dengan para pendengarnya. “Saya sering berkeliling ke berbagai negara, tetapi untuk Asia saya baru tampil di Jepang. Saya datang ke sini karena nama Peter Gontha dan Jamz sudah dikenal hampir semua musisi jazz di AS. Hal itulah yang membuat saya datang ke sini, apalagi Phil Perry juga merekomendasikan saya untuk tampil di sini,” ungkap Ramsey ketika berbincang dengan wartawan sebelum rangkaian pementasannya dimulai.

Sebagai pemusik senior, Ramsey cukup bisa menerima kebaruan yang muncul di dalam musik jazz akhir-akhir ini. Munculnya Acid Jazz, misalnya, buat Ramsey biasa saja karena perpaduan jazz dengan pop atau rock sudah sejak dulu pun ada.

“Hanya saja gaya musik jazz lama perlu terus dimasyarakatkan, karena di sanalah orang akan menemukan jazz sebagai bentuk seni yang sesungguhnya. Persoalannya, sekarang banyak pemusik jazz muda yang langsung bermusik jazz masa kini tanpa paham atau menguasai dulu bagaimana memainkan jazz standar,” ungkap Ramsey.

Pesan itu pulalah yang ingin disampaikan Ramsey kepada pemusik-pemusik baru atau calon pemusik sekarang. “Kualitas dan kemampuan berseni jazz akan bisa terbentuk kalau kita memahami apa-apa yang sudah digali para pemusik jazz terdahulu. Dari sana kita akan lebih memahami jazz sebagai sebuah artform yang indah dan apa makna kebe-basan kreatif di dalamnya,” tambahnya.

Soal kurangnya minat pemusik yunior terhadap gaya musik jazz tradisional, Ramsey melihat persoalannya karena kurangnya pemasyara-katan atau ekspos terhadap musik tersebut. “Soal pilihan itu tergan-tung masing-masing orang. Tapi kalau kurang terekspos maka banyak orang tidak akan mengetahuinya, sehingga bagaimana mau mencobanya.

Itu bukan soal salah atau tidak salah kalangan industri. Industri itu hanya bereaksi terhadap apa kemauan orang,” tandasnya. (Rakaryan S)

Sumber : KOMPAS, Minggu, 22-12-1996. Hal. 20