Politikus dan Jazz

By on January 23, 2001

Politik itu puisi, kata Richard Nixon, eks presiden Amerika yang tersandung suksesi di tengah jalan lantaran kasus Watergate. Dan orang pun bisa meraba, ke arah mana ungkapan itu ditujukan, kepada siapa ungkapan itu harus berlabuh, manakala seorang politikus – yang sama sekali bukan penyair-politikus macam Pablo Neruda – terpaksa berbicara mengenai puisi. Ia sekadar mau menggarisbawahi keyakinannya bahwa ungkapan-ungkapan politik harus menggetarkan, tetapi tidak harus seratus persen cocok dengan kenyataan.

Di Jakarta, ada pengamat asal Fisip UI, Eep Saefullah Fatah, yang menyamakan politik – yang dilakukan di SU MPR 1999 – dengan musik jazz. Seraya memuji keterampilan para instrumentalis memainkan improvisasi dengan alat-alat musiknya. Sebenarnya ada kerangka sebuah lagu, namun setiap musikus bisa memainkan instrumen secara akrobatik di sekitar kerangka itu. Bersama waktu, suara instrumen-instrumen itu mengalir bagai mengikuti suatu garis petunjuk, namun mereka tak selalu betul-betul mengikuti garis itu, tetapi sampai meloncat-loncat, menari, jungkir balik – semuanya bersifat improvisatoris dan tidak saling merusak.

Sering kali suara-suara itu seolah begitu kacau, namun bukan karena lepas kendali, melainkan karena mereka memang mempermainkan ketertiban, bermain-main dengan keharusan, serta bercanda dengan peraturan musikalitas. Tentu saja permainan dengan kekacauan ini hanya bisa dilakukan para musikus yang sudah beres dengan urusan kesempurnaan teknis.

Jujur saja. Jika Anda membuka dan membolak-balik buku standar mengenai jazz macam Early Jazz karya Gunther Schuller, atau tulisan-tulisan Mark C. Gridley yang diberi judul Jazz Styles atau buku lain berjudul lebih sederhana Jazz, hasil karya John Fordham, sampai mati Anda tak akan menemukan pemain-pemain berambut cepak yang bernama Amien Rais, atau sosok bertubuh tambun yang kelihatannya seperti orang mengantuk, Gus Dur, beraksi dengan instrumennya.

Coba dengarkan sebuah nomor bebop di mana saksofon seorang Charlie Parker berkejaran dengan terompet Dizzy Gillespie, dan coba bandingkan dengan manuver-manuver yang dilontarkan dua tokoh, Gus Dur dan Amien Rais, yang dipisahkan perbedaan tradisi, namun bekerja sama membangun harmoni yang boleh jadi dipahami bersama, setidaknya secara samar.

Namun, makhluk seperti apa sih yang oleh Eep Saefullah Fatah hampir disamakan dengan musikus dan oleh Nixon nyaris disetarakan dengan penyair itu? Dari perjalanan bangsa ini, kita memang telah memproduksi beberapa tokoh politik yang menguasai segenap liku-liku yang paling dalam, dalam the art of politics. Dan kita pun optimistis, Eep Saefullah Fatah dan sejumlah warga negeri ini yang menyempatkan diri nongkrong di depan pesawat televisi guna menyaksikan jalannya SU MPR hingga larut malam, akan menikmati permainan jazz memukau yang mereka suguhkan.

Tetapi, di lain pihak, Indonesia juga terbukti telah membesarkan tokoh-tokoh politik –hingga lebih besar dan lebih cakap dari warna aslinya – dengan kebijakan-kebijakannya yang amat represif. Dengan sendirinya, mitos tentang pahlawan yang telah berkorban banyak ini, selalu menguntit-mengikuti ke mana saja sang jawara itu pergi. Mitos-mitos ini dijamin tak akan pernah sirna ataupun mengerdil, apabila atmosfer yang represif atau yang tak menguntungkan, masih menyelimutinya. Citra, berbeda dengan prasangka, adalah sesuatu yang seperti bayangan: ia seakan-akan mensugestikan sebuah kenyataan dengan bagus dan memikat.

Tetapi, bagaimana caranya sehingga kita bisa membedakan mana yang sesungguhnya mitos, dan mana yang benar-benar kenyataan, di saat para biro iklan atau manajer kampanye selalu menyembunyikan kelemahan dan menutupinya dengan sifat-sifat unggulan si empunya diri?

Dari sejumlah pengalaman kita belakangan ini, mungkin kita bisa menarik kesimpulan, bahwa mitos yang menipu penglihatan, hanya bisa terkuakkan apabila orang yang bersangkutan dikasih kesempatan yang luas, untuk membuktikan kemampuan dirinya. Tidak menjadi soal apakah dia sungguh-sungguh sanggup untuk nimbrung dan memberikan warna dalam permainan jazz para politikus yang penuh improvisasi itu, atau tidak, yang terang hak untuk menilai diberikan kepada para penonton. Toh tidak semua politikus pintar berkata-kata puitis dan bermain jazz. (Oleh: Idrus F. Shahab)

Sumber : Tajuk, Edisi 17 Th II, 14/10/1999