John Birks ‘Dizzie’ Gillespie

(21 Oktober 1917- 6 Januari 1993)
.Dizzy Gilespie

Dizzie lahir di Cheraw, Carolina Selatan dan merupakan bungsu dari sembilan bersaudara. Ayahnya adalah seorang pemimpin band local, sehingga Dizzie sudah mengenal musik sejak masa kanak-kanaknya, dia sudah belajar memiankan piano pada usia 4 tahun. Sosok Dizzie Gillespie bersama Charlie Parker dikenal sebagai legenda perkembangan aliran bebop dan modern jazz. Selain itu, Dizzie juga dikenal sebagai salah satu pemain terompet terbaik dalam sejarah musik jazz, bahkan beberapa kritikus menganggap dia adalah yang terbaik.

Selainm belajar piano, ayah Dizzie, John Birks Gillespie sudah mengenalkan trombone padanya sejak kecil. Pada usia 12 tahun, Dizzie memilih terompet sebagai spesialisasinya. Meski ayahnya adalah pemimpin kelompok band local, Dizzie tumbuh dalam kemiskinan. Dia memperoleh bea siswa untuk melanjutkan studi ke sebuah sekolah pertanian namun pada tahun 1935 dia keluar dari sekolah itu dan memilih menjadi musisi. Dalam perjalanan kariernya, Dizzie sangat terpengaruh Roy Eldridge.

Pada tahun 1937 dia bergabung dengan orkestra Teddy Hill danmenempati posisi yang ditinggalkan idolanya Roy Eldridge. Bersama orkestra ini juga Dizzie memperoleh kesempatan pertama masuk dapur rekaman dan mencicipi tur ke Eropa. Setelah sempat menjadi musisi freelance selama setahun, Dizzie kemudian bergabung dengan orkestra Cab Calloway pada tahun 1939-1941. Bersama band ini, Dizzie memiliki banyak kesempatan melakukan rekaman dan semakin mengasah kemampuannya. Penampilannya dalam komposisi Pickin’ the Cabbage menunjukkan dia semakin lepas dari baying-bayang Roy Eldridge.

Dizzie juga merupakan salah satu pencipta gaya Afro-Kuba atau Latin Jazz. Dia menambahkan konga ke dalam orkestranya pada tahun 1947. Sebagai salah satu pemimpin band terbaik dalam sejarah jazz, Dizzie memiliki kelebihan disbanding musisi lain di era bop. Dia berhasil menciptakan musik yang mudah dimengerti dan dinikmati para penggemar jazz. Tak hanya itu, sebagai seorang entertainer, penampilan Dizzie di atas panggung sangat luar biasa. Dia bisa menyanyi dan terkadang memainkan beberapa perkusi khas musik Latin. Namun, kemampuan luar biasanya dalam meniup terompet yang menempatkan Dizzie sebagai salah satu legenda jazz.

Ciri khas lain Dizzie adalah terompetnya bengkok 45 derajat. Menurut otobiografinya, bentuk terompet yang bengkok itu adalah akibat sebuah kecelakaan pada tahun 1953. Meski secara fisik rusak, namun terompet itu malah menghasilkan suara unik yang disukai Dizzie. Penulis biografi Dizzie, Alyn Shipton menulis nampaknya Dizzie memperoleh ide ini setelah melihat instrument serupa di Manchester, Inggris pada 1953 saat menggelar tur dengan orkestra Teddy Hill. Saat itu, Dizzie melihat seorang pemain terompet Inggris menggunakan terompet serupa. Ketika itu, Dizzie bahkan berkesempatan mencoba terompet itu dan dari pengalaman tersebut dia mampu menciptakan gaya sejenis yang cocok untuk dirinya. Pada tahun 1954, dibuatlah sebuah terompet khusus baginya dan kemudian menjadi cirri khas Dizzie Gillespie.

Dizzie Gillespie meninggal dunia pada 6 Januari 1993 dalam usia 75 tahun akibat kanker pancreas dan dimakamkan di pemakaman Queens, New York. Upacara pemakaman Dizzie dilakukan dua kali. Pertama dilakukan dengan tata cara agama Baha’I yang dianutnya dan hanya dihadiri keluarga serta kerabat dekat. Upacara kedua dilakukan di Katedrak St John the Divine, New York dan terbuka untuk umum. (ervan/ymn/dari berbagai sumber)