“Musik Haram” Sapto Rahardjo – Andre Jaume

By on January 23, 2000

GAMELAN dan musik jazz adalah dua seni yang saling bertolak belakang. Yang satu bersifat statis dan teratur, sementara yang lainnya penuh improvisasi. Gamelan juga selama ini dikenal sebagai musik dengan warna tradisional dan jazz selalu berkonotasi modern. Lebih dari itu, dua jenis musik itu memang lahir dari dua dunia berbeda. Timur dan Barat.

Kenyataan ini disadari benar oleh pemusik Sapto Rahardjo yang hari Rabu (28/2) malam tampil bersama musisi jazz asal Perancis, Andre Jaume di Teater Arena Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Kedua musisi kenamaan itu sama-sama memainkan alat musik masing-masing di panggung tanpa saling ganggu. Hal itu dimungkinkan mengingat gamelan, menurut Sapto, mudah menyesuaikan dengan musik apa pun. Maka lahirlah musik gamelan-jazz unik yang di awal terasa aneh di telinga tetapi makin lama makin akrab dan enak dinikmati sekitar 600 penonton.

PERGELARAN dibuka oleh tiupan flute Andre Jaume, beberapa saat  kemudian bunyi gong yang dimainkan Poernomo Nugroho menambah semarak. Ketika dua nada dari alat musik yang amat berbeda itu sudah dalam posisi saling melengkapi, masuklah unsur lain bass gitar oleh Remi Charmasson, kendang, siter, gender dan gambang oleh Sapta Rahardjo, Setyaji Dewanto, Setyanto Prajoko dan Sonny Prajoko. Tak pelak lagi suasana menjadi ‘tak keruan’, campur aduk tapi nyatanya cukup enak di dengar.

Penonton yang kebanyakan kaum muda dan sebagian besar di antara mereka adalah warga negara asing bagai hanyut dalam musik perkawinan dua aliran itu. Apalagi di tengah alunan nada tiba-tiba saja Sapta menghentak-hentakkan kendangnya hingga selintas irama yang keluar seperti gamelan reogan, maka irama yang tadinya sedikit lembut berubah amat dinamis. Otomatis flute dan bass gitar ikut pula menyesuaikan diri dengan irama rancak itu.

Musik terus mengalun selama sekitar 20 menit dan iramanya acapkali berubah-ubah. Menjelang nomor pembukaan berakhir, sepertinya kelompok Sapto Rahardjo dan Andre Jaume sepakat untuk menutupnya dengan gaya gamelan yang ritmenya kian melemah dan akhirnya bunyi gong besar dibarengi flute menutupnya. Begitu musik berhenti spontan para penonton bertepuk tangan riuh.

Acara yang mengalir lancar dan menyuguhkan enam lagu tanpa judul selama satu setengah jam tampaknya merupakan tontonan jenis baru bagi warga Ibu Kota. Jaume tidak hanya menggunakan flutenya, tapi juga saxophone dan seruling, sementara Sapto dan kawan-kawan bergantian memainkan hampir seluruh instrumen gamelan Surakarta milik TIM ditambah rebab dan siter yang mereka bawa dari Yogyakarta.

Deru hujan deras yang terdengar jelas di telinga para penonton sebenarnya mengganggu kenikmatan namun hampir tak ada di antara mereka yang beranjak dari tempatnya. Malah ketika seluruh suguhan telah berakhir, penonton bak tak menyadarinya sampai akhirnya Sapto- Andre Jaume serta seluruh pemain berdiri bersama menghormat penonton.

USAI pertunjukan, penonton mengerubuti para pemain, sedangkan sebagian warga negara asing sibuk mencoba-coba instrumen gamelan.

Kepada wartawan, Sapto mengakui sengaja tidak memberikan judul kepada musik karyanya itu. Meski ada sebagian lagu-lagu itu diambil dari lagu Barat dan Indonesia, tetapi unsur itu amat sedikit karena sebagian besar lagi justru meluncur begitu saja.

“Itu sebabnya satu lagu bisa makan waktu 15 menit atau 20 menit atau bahkan lebih,” ujar Sapto yang akan menampilkan musiknya itu di Festival Banlieues Bleues di Paris (festival jazz Eropa) April mendatang.

Penyesuaian gamelan dengan musik jazznya Jaume dikatakannya tidak makan waktu lama. Hanya sekali bertemu sebelum pertunjukan dan esoknya langsung pentas bareng. “Tapi lagunya bisa jadi berubah lho.

Ya pokoknya asal jalanlah …,” kata Ketua Asosiasi Komponis Indonesiaitu. Satu keinginan Sapto, mengawinkan gamelan dengan musik sehingga tercipta satu aliran baru yang bisa jadi akan sulit diberi nama. Sehingga cukup disebut “musik haram” … (Soelastri)

Sumber : KOMPAS, Jumat, 01-03-1996. Hal. 9