Miles Davis: Kompas, Senin, 30 September 1991

By on September 16, 2010

Oleh: Jerry S. Justianto

1 tahun setelah ayahku meninggal, 2 tahun setelah kami berdua bersuka cita menonton konser Miles Davis di Waikiki Shell, Honolulu tahun 1989, hari ini pas hari ulang tahun nya, saya berniat untuk menulis sesuatu untuk Ayah saya yang tercinta Jimmy Justianto.

Saya masih ingat hari itu hari Senin, tanggal 10 September 1991, sesaat saya baru balik dari Amerika, setelah belajar, bekerja, menikah dan mendapatkan seorang putri, yang saya beri nama Amandla, nama yang berarti Merdeka diambil dari bahasa Zulu, nama itu juga berasal dari album tahun 1989 milik Miles Davis, lagu yang kami berdua begitu menikmati dibawah cahaya bulan dan deru ombak waikiki, Miles melantunkan banyak dari album ini.

Jam 7:30 pagi saya ke ruang makan untuk bersantap pagi, pada saat itu saya mengambil koran Kompas membaca headlinenya “Presiden Soeharto: Pertahankan Hasil Pembangunan, Jangan Sampai Melangkah Mundur.”  Headline tipikal pada masa era orde baru, tidak ada yang istimewa ataupun spektakular. Disebalah kanan atas pun juga berita yang biasa-biasa saja setelah foto Presiden Soeharto berjalan di Tapos, adalah berita internasional yang menjelaskan Imelda Marcos akan pulang hari Jumat ke Filipina.

Kemudian pas melihat bagian bawah koran, terpampang cukup besar sepanjang 4 kolom di tengah-tengah koran sebuah berita yang sangat mengejutkan saya: Pelopor “Cool Jazz” Miles Davis Meninggal.

Los Angeles, Sabtu

Pelopor cool jazz dan peniup trompet papan atas dunia, Miles Davis, hari Sabtu (Minggu waktu di Indonesia), meninggal di RS St. John, Santa Monica, AS.  Ia tutup usia setelah sebulan mendekam di tempat itu akibat radang paru-paru, kegagalan pernafasan, serta tersumbatnya pembuluh darah di otak…  Davis yang meninggal pada usia 65 tahun ini memang telah lama memiliki catatan kesehatan yang buruk… Pemain Trompet yang suka beralih-alih gaya ini merupakan salah satu dari peniup trompet papan teratas di tingkat dunia.  Ia bisa disejajarkan dengan nama-nama kondang lain, seperti Louis Armstrong, Dizzy Gilespie dan Roy Eldridge…  Karena itu dia terkenak berani menentukan tarif tinggi untuk sebuah pentas dalam sebuah konser… Penampilannya di pentas festival itu terasa arogan.  Ia tidak perduli dengan penonton.  Dan untuk menghindari komunikasi dengan penonton, Miles Davis hanya mengangkat poster bertuliskan nama pemusik yang bermain bersamanya untuk memperkenalkan mereka… Tiupan trompet Miles Davis memang penuh emosi.  Di satu saat bisa terasa syahdu dan menyentuh, tapi disaat lain terdengar penuh kemarahan dan sakit hati.  Dalam penampilannya ia mencampurkan antara bunyi dan kesenyapan, senyap baginya sama pentingnya dengan bunyi… Para kritikus jazz sering sulit menempatkannya pada kelompok pemusik jazz tertentu, karena Davis terkenal sering berpindah-pindah gaya.  Karenanya beberapa kritikus menganggapnya seperti Pablo Picasso dalam dunia Jazz…  Seniman yang senantiasa berubah gaya, mengganti arah setiap lima tahun, dan jarang mengulang kembali gaya masa lalunya.

Demikian Kompas menulis artikel dalam halaman 1 sepanjang 4 kolom bersambung ke halaman 11 kol 1-3.

Saya masih sunyi, diam, kehabisan nafas, ada rasa yang sama seperti yang saya alami bulan Juli tanggal 20 tahun lalu, ketika ayah saya menghebuskan nafas terakhir dengan tangan saya menyentuh tangan beliau.  Detik-detik terakhir itu seakan terulang disaat koran tersebut ada di tangan saya.  Saya pun tidak menangis tersedu sedu sama seperti ketika Ayah saya berpegangan dengan saya.  Bukankan sunyi dan bunyi sama pentingnya?

Setelah baca surat kabar tersebut, saya ke kamar lagi mengambil beberapa CD Miles Davis untuk saya dengarkan di mobil dan di kantor.  Hari itu saya dedikasikan untuk Miles.  Dimulai dengan pencarian semua media yang mendikasikan halaman pertamanya untuk berita kematian tokoh jazz ini.

International Herald Tribune – Singapore Edition mendedikasikan halaman 1 dan 6nya untuk berita ini.  Miles Davis, a giant of jazz, dies at 65, esok harinya USA Today membuat Tribute to Jazz Legend.  Dari Herbie Hancock, Ron Carter, Kenny Garret, sampai ke musisi ternama Prince turut bersuara menampilkan pujian-pujian yang seakan tak habis-habisnya.  Pujian tersebut yang jarang di dengar oleh Miles, seperti Miles pun selalu cuek dengan cacian yang ada.

Tanggal 28 Agustus ini adalah hari ulang tahun Ayah saya yang tercinta, tiada kata dan makna yang dapat saya ungkapkan rasa terima kasih saya kecuali mengenang malam itu.  Mendengarkan shyahdunya trompet Miles bersama, ayahku meremas bahuku, dan sebagai penggemar jazz yang fanatik, saya bisa melihat senyuman beliau yang sangat terpuaskan.  Senyuman yang saya harapkan selalu menemani kehidupannya di alam sana. (JSJ)

Artikel ini juga pernah dirilis di Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published.