Memahami Akustik dan Tata Suara

By on May 30, 2000

SALAH kaprah terhadap musik jazz bukan barang baru bagi mereka yang awam terhadap jazz. Hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi jazz itu sendiri kepada publik musik pada umumnya. Akibatnya, banyak kaum muda, yang kemudian “terlanjur salah” memahami sekaligus memainkan jazz. Inilah benang merah yang dapat ditarik dari workshop Jazz Dan Anda, sesi pertama (29/4) dan kedua, Sabtu ((29/5), di The Regent, Jakarta, yang mengambil tema: Akustik Dan Sistem tata Suara.

Workshop sesi kedua, misalnya, terbilang cukup menarik dan komunikatif. Minat peserta workshop — yang rata-rata kawula muda itu — sangat antusias. “Saya senang sekali dengan workshop seperti ini. Ini sangat membantu kami menambah wawasan terhadap musik jazz,” ujar Azis, salah satu peserta workshop. Penyebab yang lain adalah cara Tjut Nyak Deviana Daudsjah, yang akrab dipanggil Devi, dan Alekzandra Zvekan membawakan modul workshop. Komunikatif. Itu sebutan yang pas untuk mereka.

Akustik dan tata suara adalah sesuatu yang sangat vital, ketika seorang musisi jazz tampil di atas panggung. Demikian salah satu bagian yang menjadi perhatian Deviana dan Alekzandra pada sesi, yang diikuti oleh sekitar 20-an peserta itu. “Setiap musisi hendaknya juga menguasai sistem tata suara,” lanjut Deviana. Sedangkan kata kunci yang menjadi pegangan, tambahnya, adalah kesabaran, sikap, fleksibel, kompromi, dan penampilan profesional.

Sesi kedua dari workshop, yang akan dilaksanakan hingga 9 September mendatang itu, mendapat tanggapan yang baik dari para peserta, yang membawa sendiri alat-alat musik mereka. Begitu pula saat peserta diberi kesempatan untuk mempraktekan teori yang telah diajarkan. Semuanya tampak antusias mengutak-atik peralatan tata suara yang ada.

Musisi Chandra Darusman, yang hadir pada kesempatan tersebut, juga memberi dukungan. Ketika dimintai tanggapannya oleh Horizon-line.Com, pianis yang saat ini sibuk di YKCI ini berujar: “Acara seperti ini sangat bagus, karena dibawakan dengan sangat baik oleh pengajar seperti Deviana, yang menguasai teori musik dan bisa memainkan jazz dengan baik.”

Selain di Jakarta, rencananya, workshop ini juga akan diadakan di beberapa kota lain di Indonesia. “Kami memang berniat untuk mengadakan kegiatan serupa di kota-kota lain, selain di Jakarta,” tambah Deviana. Agaknya hal tersebut memang sangat ditunggu oleh para pencinta jazz di luar Jakarta, menyusul banyaknya tanggapan dan saran yang diterima Horizon-line.Com, sehubungan dengan adanya workshop tersebut.

Musik jazz memang membutuhkan sosialisasi yang terus menerus. Dan, pendidikan jazz, apa pun bentuknya, adalah sesuatu yang akan memberikan pemahaman menyeluruh tentang jazz itu sendiri. Saat ini, banyak anak muda yang salah mempersepsikan musik jazz. Pada sesi pertama workshop ini, misalnya, ketika ditanyakan kepada peserta tentang apa itu musik jazz, banyak yang salah mempersepsikan jazz. Begitu yang diungkapkan Geumala Yatim, dedengkotnya KOMSENI. “Kami sampai tertawa terbahak-bahak mendengar kesalahan fatal tersebut,” lanjutnya lagi. Nah, kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan? (yollismn)