Konser Romantis Dave Koz

By on April 19, 2000

“Demonstrasi” DAVE KOZ agaknya lebih menarik, ketimbang demo para Guru yang memadati kawasan Senayan, Selasa siang (18/4). Tapi, “demo” yang satu ini, dilaksanakan di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, malamnya. Buktinya, sekitar 500-an penonton memadati konser tersebut, dan hanyut dalam kegembiraan dan romantisme dari komposisi-komposisi yang ditawarkan oleh Dave dan musisi pendukungnya.

Dave memang bukan saksofonis jazz yang menawarkan komposisi-komposisi standar yang sulit dicerna. Publik musik Jakarta, yang rela membeli tiket masuk seharga Rp. 100 – 200 ribu, tentu tak akan sepadat malam itu seandainya Dave memainkan komposisi jazz yang rumit. Lalu, apa yang dibawakan oleh Dave? “Contemporary Instrumental Music,” ujar Dave kepada Horizon-line.Com Maret lalu, mendefinisikan karakter musiknya.

Malam itu, Dave dan kelompoknya membawakan lebih dari dua belas komposisi. Sebagian besar diambil dari album terbarunya, The Dance. Komposisi-komposisi seperti I’ll Be There, Cheng Fu, Carelles Whisper, The Dance, hingga komposisi lawasnya, You Make Me Smile, dibawakan dengan menarik. Penonton pun memberikan aplaus hingga akhir pertunjukan.

Syaharanie, vokalis jazz wanita yang tengah naik daun, kebagian membawakan sebuah komposisi bertitel The Dance. Kematangan vokal Ranie yang ekspresif juga mendapat sambutan dari penonton dan Dave sendiri, yang sempat mencium Rani dua kali. “Wanita Indonesia cantik-cantik,” ujar Dave memuji.

Di samping memuji wanita Indonesia, Dave juga sering terhanyut dengan komposisi-komposisi dari Indonesia. Salah satunya adalah komposisi bertitel Keliru, yang populer didendangkan oleh Ruth Sahanaya. Kisah ketertarikan Dave akan komposisi ini berawal saat melakukan turnya di Yogyakarta (16/4), beberapa hari sebelum manggung di Jakarta. Dan, malam itu, komposisi Keliru menjadi romantis dibawakan oleh Dave.

Secara umum Dave cukup sukses “menjual” album terbarunya di Indonesia. Dari semua kota yang disinggahi — dalam turnya — mendapatkan sambutan yang luar biasa. Bogor (14/4), Yogyakarta (16/4), Bandung (17/4), misalnya, cukup sukses. Dave agaknya sudah sangat paham dengan selera publik musik Tanah Air. Pihak Buena Produktama, selaku promotor, juga mengiyakan hal tersebut. “Hampir semua kota yang disinggahi Dave, selalu penuh oleh penonton,” ujar sumber Horizon-line.Com di Buena Produktama.

Pada akhir konsernya malam itu, sebuah komposisi standar, Misty, hadir memukau. Penonton seakan masih rindu dengan tiupan saksofon si Sax Man ini. Sementara, di luar Hotel Mulia, Senayan, malam mulai larut. Dave dan grupnya harus menyudahi pertunjukannya. Ada beberapa kota lagi yang harus disinggahi. (yollismn)