Konser A Tribute to Louis Armstrong

By on July 7, 2000

LOUIS ARMSTRONG adalah legenda. Gaya pangggung dan musiknya khas. Permainan trumpet dan serak-serak suaranya menarik untuk disimak. 4 Juli tahun ini, dunia jazz merayakan 100 tahun musisi — sekaligus penyanyi jazz — berkulit hitam ini. Di Indonesia, masyarakat jazz pun merayakannya. Maka, sebuah acara musik jazz bertajuk A Tribute To Louis Armstrong, digelar di The Bar, The Regent Jakarta, Selasa (4/7).

Tepat pukul 20.35 WIB, “perayaan” tersebut dimulai. Pianis gaek, Didi Chia, tampil dan memainkan beberapa komposisi jazz standar. Permainan pianis jazz senior tersebut cukup santai penuh improvisasi. Disusul dengan Hasan dan Karim Tess, menawarkan O, When The Saints Go Marching In. Sebuah komposisi lawas milik Armstrong. Alice Day, penyanyi jazz asal AS, akhirnya meramaikan panggung dan membawakan beberapa komposisi, di antaranya What A Difference A Day Make. Suasana pun semakin panas karenanya.

Bubi Chen akhirnya membuka acara utama malam itu. Tangannya menari-nari di atas piano, ditemani Priyo (bas), Jacky Pattiselano (drum), Karim Tess (trumpet), dan membawakan beberapa komposisi pembuka, termasuk Someday My Prince Will Come. Alice Day pun tak mau ketinggalan. Beberapa komposisi jazz akhirnya dilantunkan, termasuk Take A Train, dan semaik semakin meramaikan suasana malam itu.

Bill Saragih, yang menjadi “tokoh” malam itu, kemudian tampil ke atas panggung. When I Fall In Love kemudian menjadi komposisi pembuka dari multi instrumentalis yang tetap enerjik di usianya yang telah senja itu. Sebuah komposisi populer milik Armstrong, What A Wonderful World, ketika dibawakan oleh Om Bill — begitu dia dipanggil , serasa “menghidupkan kembali” sang legenda. Bill juga membawakan komposisi Hello Dolly, dan ditemani oleh Alice Day. Yang menarik, pada komposisi ini, Bill Saragih merubah judulnya menjadi “Tante Dolly

Malam itu, seperti dilaporkan Arif Setyoso Kusdarmanto dari Horizon-line.Com, belasan musisi jazz senior Indonesia tampak hadir dan berbaur menjadi satu. Di antaranya adalah Ireng Maulana, yang membawakan komposisi Polkadots and Moonbeam dan My Funny Valentine, yang kemudian menjadi tema dari jam session di acara yang banyak dihadiri oleh warga AS, yang merayakan hari kemerdekaannya.

Berturut-turut, komposisi Mack The Knife, Fly Me To The Moon, Don’t Get Around Much Anymore, meramaikan perayaan dari Armstrong — sang legenda. Sekalipun kapan persisnya Armstrong dilahirkan masih menjadi polemik hingga kini, namun kiprahnya di dunia jazz membawa pengaruh yang cukup besar. Komposisi-komposisinya tetap hidup hingga kini.(ymn)