Koleksi dan Sisi Jazz Alfred Ticoalu (2)

By on March 26, 2009

Lebih suka yg mana, dengerin jazz via CD atau PH, mengapa?
Wah, bagi saya sih tidak ada bedanya karena yang penting musiknya, bukan medianya. Saya pribadi bukan seorang audiophile, jadi tak pernah memusingkan kualitas suara. Dari sisi praktis, saya lebih suka CD. Sekali lagi, ini dari segi praktisnya. Tak mungkin mendengarkan piringan hitam di mobil sambil mengemudi.

Berapa jumlah koleksi Anda saat ini?
Piringan hitam (LP/33 rpm, 45 rpm, dan 78 rpm) di arsip saya total ada sekitar 5,000-an judul. Kalau CD dan kaset sekitar 3,500-an judul.

Sejak kapan mengoleksinya?
Saya mulai mengoleksi ketika mendapatkan uang jajan. Pertama kali dapat uang jajan pas masuk SMP kelas 1. Wah, jadi nostalgia nih. Dulu lumayan sering pergi hunting ke Jalan Surabaya, Taman Puring, dan lain-lain. Ada saja yang bisa ditemukan di sana.

Album jazz  yang sangat susah didapatkan koleksinya?
Wah, ini pertanyaan seru, karena sampai sekarang masih banyak yang saya cari dan ini seperti sebuah pertualangan yang tidak ada habis-habisnya. Sebenarnya mencari itu tidak susah asal memiliki kesabaran dan ketekunan. Dan yang paling penting memang ada barangnya.

Ada sih beberapa yang selalu akan melekat di ingatan. Contohnya piringan hitam Djanger Bali. Waktu masih tingal di Indonesia,  rasanya seperti melihat emas 100 kilogram saja, dan bercita-cita memiliki satu kopi di suatu hari nanti. Setelah pindah ke Amerika cita-cita itu terwujud. Ini satu contoh kenapa saya lumayan ngotot mencari piringan hitam itu. Kalau tidak memiliki piringan hitam itu tidak akan memiliki satu komposisi yang berjudul Mahlke . Djanger Bali pernah dilepas ulang dalam bentuk CD sebagai bagian kompilasi Jazz Meets Asia tapi Mahlke tidak diturut sertakan dalam CD tersebut.

Pengalaman lainnya?
Mendapatkan plat 78 rpm Original Dixieland Jass Band juga pengalaman yang menyenangkan. Ini rekaman Jazz komersial perdana yang terbit tahun 1917 sehingga nilai sejarahnya tinggi. Walau musiknya sudah dilepas ulang dalam berbagai media, ada nilai unik tersendiri memiliki plat aslinya. Lumayan susah mendapatkannya.

Pernah dengar nama Harry Lim? Dia itu produser Jazz legendaris di Amerika yang lahir di Batavia (Jakarta). Setelah  hengkang dari Keynote Records, dia mencoba kembali bisnis musik dengan membuat label rekamannya sendiri bernama HL. Cuma sempat melepas dua plat 78 rpm saja dan setelah itu tutup pintu alias bangkrut. Entah kenapa tidak laku saat itu. Padahal yang main antara lain Stan Getz dan Al Haig. Wah, susahnya mendapakan plat-plat itu dan untung saya bisa  dapatkan masing-masing satu kopi dalam keadaan mulus.

Alfred TicoaluSatu contoh lagi. Baru-baru ini berhasil mendapatkan satu piringan hitam dari seorang pianis yang namanya Cy Walter. Uniknya piringan hitam ini dibuat sebagai bahan promosi sebuah toko alat listrik sehingga jumlahnya sangat minim dan peredarannya terbatas. Terakhir kali saya menemukan satu kopi sekitar tahun 2001, tapi nasib sedang sial sehingga direngut orang lain. Wah, 8 tahun kemudian baru muncul satu kopi lagi, dan kali ini berhasil didapatkan. Yang menyebabkan saya mencari piringan hitam ini adalah kehadiran Johnny Frigo pada bass. Johnny Frigo ini salah satu musisi yang menjadikan saya manajer beliau dan sekarang saya sedang berusaha menyelesaikan bio-discography atas dirinya. Rencananya akan diterbitkan sebagai sebuah buku. Data piringan hitam ini tentunya akan saya masukkan ke bio-discography itu.

Apa koleksi favorit Anda?
Wah, banyak nih. Tidak ada satu album yang menjadi favorit saya. Yang ada sebenarnya lagu tertentu oleh musisi tertentu yang jadi favorit. Misalnya I Got It Bad (and That Ain’t Good), versinya Johnny Hodges. Fine and Mellow, versinya Billie Holiday, saat rekaman live acara The Sound of Jazz. Interaksi Billie dan musisi-musisi tamu seperti Ben Webster, Coleman Hawkins, Roy Eldridge, dan lain-lain sangat menarik. Tapi yang paling menyentuh hati ketika mendengarkan solonya Lester Young. Dan kalau Anda melihat videonya, bisa dilihat raut wajah Billie Holiday yang penuh perasaan bahagia pas Lester Young solo. Summertime versi Indonesian All Stars dengan Tony Scott juga salah satu favorit saya. Solonya Oom Bubi dan Oom Maryono asyik. Wah, banyak deh lainnya.

Apa suka duka mengumpulkan piringan hitam?
Sukanya kalau menemukan album yang hanya ada dalam bentuk piringan hitam dan apalagi kalau kondisinya mulus. Dukanya…besar dan berat.

Lalu, bagaimana cara merawat koleksi Anda?
Kalau piringan hitam, yang paling penting semua itu disusun secara rapih dan tegak lurus agar tidak bengkok. Kalau bisa, setiap piringan hitam dibungkus plastik agar tak mudah cacat sampulnya. Juga setiap piringan hitamnya sendiri disampul amplop kertas agar tidak mudah tergores, dan setiap selesai dimainkan langsung dikembalikan ke dalam sampulnya, agar tak tertutup debu. Debu salah satu musuh berat dari piringan hitam. Hati-hati memegangnya. Jangan sekali-kali meletakkan jemari anda di atas piringan hitam itu. Minyak dari kulit dan keringat bisa merusak permukaan piringan hitam. Dan sangat penting menggunakan mesin pemutar piringan hitam dan jarum (stylus) yang bagus. Itu seperti sebuah investasi. Semakin baik anda perlakukan mereka, semakin panjang umurnya.

Kalau kaset yang paling penting jangan stop ditengah jalan pitanya, selalu diputar sampai habis. Juga sebaiknya disimpan tegak lurus, jangan terbaring. Suhu dan kelembapan harus dijaga agar pita tak mudah jamuran. Kalau CD, yang penting dijaga agar tidak sampai tergores, dan juga jangan sentuh bagian yang dimainkan dengan jemari (sekali lagi, minyak dan keringat merusak). Saya paling tidak suka menggunakan CD wallet karena resiko tergoresnya tambah besar.

Dimana memburu koleksi?
Di mana saja. Dari toko-toko, pasar loak, sampai garage sale. Garage sale itu kebiasaan orang Amerika di mana mereka membongkar garasi atau gudang mereka dan yang tidak diinginkan dijual di depan rumah. Justru di situlah serunya konsep ini, karena dari satu rumah ke rumah lain bisa beda-beda pengalamannya. Di sebuah rumah di bagian selatan Chicago, misalnya, saya menemukan banyak piringan-piringan hitam yang lumayan langka dan hanya diminta bayar 25 sen per piringan hitam.

Piringan hitam Art Blakey keluaran Blue Note, mono, deep groove dalam kondisi mulus yang biasanya terjual $100 keatas didapat hanya dibeli dengan 25 sen. Yang penting tetap mencari. Kita tidak bisa menebak apa saja yang bisa kita temukan dari satu hari ke hari yang lain. Dan tidak setiap hunting membawa hasil jadi harus tekun dan sabar. (ymn)

Foto: Alfred Ticoalu
Gambar Atas:
Koleksi Plat Jazz Pertama dan Tertua (Tahun 1917)

Leave a Reply

Your email address will not be published.