Koleksi dan Sisi Jazz Alfred Ticoalu (1)

By on March 26, 2009

Bagi Anda yang pernah mendengar program Nuansa Jazz, di Voice of Jakarta (VOJ), stasiun radio berbasis internet, maka tentunya tak asing lagi dengan sang pembawa acara, Alfred Ticoalu. Penggemar musisi Charlie Parker ini selalu menyapa pendengar setia program acara tersebut, setiap hari Sabtu dengan sajian musik jazz ekslusif, perkembangan musik jazz di Indonesia dan mancanegara, dan informasi jazz lainnya.

Nah, berikut ini adalah wawancara Horizon-Line.Com dengan dedengkot Nuansa Jazz, Alfred Ticoalu, yang bercerita panjang lebar tentang jazz, koleksi-koleksinya, dan orang-orang yang berjasa dalam mengenalkan jazz kepadanya.

Aktifitas Anda saat ini?
Saya bekerja sebagai IT Manager di sebuah perusahaan di Chicago, dan juga melakukan penelitian terhadap Jazz dan  menulis tentang topik tersebut. Saya juga mendapat kesempatan menjadi manajer band dan artis Jazz di sini, serta aktif siaran radio secara online di VoiceOfJakarta.com.

 

Sejak kapan menyukai jazz?
Pertama kali mendengarkan jazz lewat lantunan berbagai komposisi Swing atau Big Band, di rumah keluarga saya. Tepatnya di usia 5 sampai 10 tahun. Saya belum memahami kalau musik yang sedang didengar adalah Jazz. Belakangan saya baru tahu setelah membaca sebuah artikel di majalah.

Mengapa tertarik dengan jazz, dan siapa yg mengenalkan jazz kepada Anda?
Wah, ini pertanyaan yang sukar untuk dijawab karena agak abstrak. Ini seperti mendapatkan jodoh; dicari tak kunjung tiba, tak diminta tahu-tahu saja datang. Saya jadi teringat ketika pertama kali mendengarkan Charlie Parker, setelah mendapatkan CD-nya di Jalan Surabaya. Seperti lensa kamera atau pupil mata yang tiba-tiba terbuka dan membesar, ruangan yang gelap tiba-tiba menjadi terang. Saya berpikir kalau Jazz-lah yang menemukan saya, bukan sebaliknya.

Membeli CD Charlie Parker dilakukan secara tak sengaja. Saya membeli karena gambar di sampul CD itu menarik mata, dan harganya pas dengan uang yang ada di saku.

Alfred TicoaluBenny Likumahuwa merupakan tokoh penting bagi saya. Beliaulah yang membimbing, membentuk pengertian dasar, dan rasa cinta terhadap musik ini. Profesionalismenya sebagai musisi,  kemurahan hati beliau untuk merangkul anak-anak muda, dan membagi ilmu juga harus dijadikan panutan. Tanpa beliau, tak ada sisi Jazz diri saya secara keseluruhan. Hutang budi saya ke Oom Benny tak akan pernah lunas terbayar.

Musisi yg Anda sukai, selain Charlie Parker?
Charlie Parker tentu selalu nomor satu karena lewat musiknya, perhatian saya terhadap Jazz terfokus dan turut membangun pengertian yang lebih mendalam terhadap musik itu sendiri. Banyak musisi lain yang saya sukai. Intinya, kalau musiknya bagus dan permainannya menawan hati, tentu akan saya simak.

Masih ada yang lain?
Charlie Parker itu pasti. Benny Carter satu lagi. Wah, bisa panjang kalau bicara soal Mr. Carter. Dia itu luar biasa, sebagai seorang musisi dan juga seorang individu! Benar-benar tokoh panutan saya. Yang lain, saya rasa, Lester Young dan Billie Holiday. George Van Eps, dan Teddy Wilson juga layak disebut.

Album jazz seperti apa saja yg Anda koleksi?
Pada intinya, semua style Jazz saya dengarkan dan koleksi. Ini saya lakukan bukan karena memiliki keinginan untuk mengkoleksi semata, namun sebagai sebuah usaha untuk mengumpulkan data yang lengkap, agar dapat digunakan oleh banyak orang di masa depan.

Jazz merupakan musik yang terbentuk karena sejarah yang kaya dan adanya simbiosis antara satu style dengan yang lain (termasuk musisinya juga). Semua merupakan rangkaian mata rantai yang berkesinambungan. Anda bisa memilih untuk fokus menikmati satu atau dua style saja sesuai selera. Bagi saya, mengapa menutup pintu ketika semua sudah terpampang lebar, dan nampak berbagai kenikmatan di balik pintu tersebut?

Kenikmatan seperti apa?
Mendengarkan New Orleans style memiliki kenikmatan tersendiri, sementara Free Jazz juga memiliki kenikmatannya sendiri. Lebih asyik kalau kita coba menghubungkan kedua style tersebut. Di permukaan, jelas terdengar perbedaannya. Tapi coba simak baik-baik. Saya rasa Anda akan terkejut dengan apa yang anda temukan. Coba bandingkan Olympia Brass Band dan Albert Ayler sebagai contoh sederhana.

Kabarnya Anda juga tertarik mengoleksi piringan hitam?
Sebenarnya saya tidak konsentrasi 100%  untuk mengoleksi piringan hitam lho. Yang terpenting bagi saya adalah musiknya, sementara medianya itu menjadi nomor dua. Alasan tertarik piringan hitam sebenarnya sederhana: karena banyak album-album yang saya cari tak ada dalam bentuk CD atau kaset. Jadi, bukan karena mau gaya atau sok unik.

Kelebihan piringan hitam dari sisi ekonomi?
Banyak piringan hitam (LP-33 rpm) yang harganya lebih murah dari versi CD. Sementara, isinya sama persis. Sebagai contoh: Charles Mingus Live at Carnegie Hall. CD baru harganya $12, sementara piringan hitam bekas dengan kondisi mulus diberi harga $3. Membandingkan kedua angka tersebut masuk akal, kalau saya lebih memilih piringan hitamnya. Ini juga sudah dimulai sejak masih tinggal di Jakarta. Saya ingat, harga piringan hitam selalu lebih murah daripada CD.

Ada juga piringan hitam (LP-33 rpm atau plat 78 rpm) yang langka, karena memang dicetak terbatas atau hanya dipasarkan sebentar saja. Untuk yang satu ini, kita harus rela merogoh saku lebih dalam. Biasanya, yang seperti ini saya cari kalau memang perlu. Sebagai contoh, piringan hitam Jutta Hipp dan Zoot Sims keluaran Blue Note Records. Di situs Ebay, terjual lebih dari $2,000 sementara versi CD yang diberi tambahan dua lagu harganya $12 dalam kondisi baru. Tentu saja saya beli yang versi CD dan pas dapat yang bekas dalam kondisi mulus seharga $6.

Kolektor kelas kakap bisa memulai argumen. Dia bisa memajukan argumen kalau piringan hitam Jutta Hipp itu cetakan awal Blue Note, mono, deep groove, dan kondisi mulus luar biasa sehingga layak harganya demikian. Menurut saya, argumen itu sah, karena si kolektor fokusnya memang ke hal-hal yang sifatnya demikian. Saya pribadi merasa canggung dengan keadaan itu. Bagi saya, buat apa buang uang sebanyak itu demi satu piringan hitam yang sudah ada dalam bentuk CD?  Yang penting adalah musiknya.

Zaman telah berubah. Di Eropa, hampir semua judul-judul Jazz klasik dapat diterbitkan ulang dalam bentuk CD secara mudah, karena hukum hak cipta mereka memungkinkan hal tersebut untuk terjadi. Musik yang sebelumnya hanya bisa  didapat lewat piringan hitam yang tinggi harganya, dengan mudahnya dapat dibeli di berbagai toko. Nah, ini juga berhubungan dengan media online dengan digital download(Bersambung)