Ketika Lima Drummer Handal Beraksi

By on May 12, 2001

Jamz Pub, Jakarta, Rabu malam (9/5), tampak panas. Lima pemain dram Tanah Air, masing-masing Taufan Gunarso, Gilang Ramadhan, Benny Musthapa, Aksan, dan Cendy Luntungan, tampak berada di satu panggung. Maka, yang terlihat adalah panggung jazz yang enerjik. Sebuah sajian yang agaknya ditunggu oleh sekitar 250-an pengunjung malam itu

Jamz Matra Jazz – kali ini telah memasuki pelaksanaan yang kelima, bisa dikatakan semakin menunjukan “taringnya”. Penonton tampak padat malam itu. Sama padatnya dengan suasana panggung yang dipenuhi oleh peralatan drum dari lima pendekar dram yang beraksi malam itu. Pihak AIRO, yang memproduksi acara tersebut, juga sangat piawai meramu para penabuh “beduk Inggris” itu.

Acara dibuka dengan penampilan Johan Untung, yang membawakan beberapa komposisi Al Jarreau. Penyanyi berkumis ini terlihat cukup lancar membawakan komposisi milik Jarreau, yang nota bene memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi. Dan, penonton tampaknya puas dengan penampilan Johan. Aplaus untuknya layak diberikan.

Taufan Gunarso lalu tampil ke atas pentas. Dua buah komposisi: Straight, No Chaser dan Mennina Flour dibawakannya dengan menarik. Dengan dibantu oleh Sam (keyboard), Jeffry Tahalele (bas), Oele Pattiselano (gitar), dan Benny Likumahuwa (trombone), Taufan terlihat lincah memainkan stik dramnya. Penonton langsung bertepuk tangan.

Setelah Taufan, kali ini giliran Aksan naik ke atas pentas. Dramer yang sering memakai pakaian hitam-hitam ini membawakan Alice in Wonderland dan Equinox. Hentakan dramnya tampak ekspresif. Mantan personil kelompok Dewa ini memiliki kombinasi pukulan yang khas. Keringat tampak membasahi tubuhnya, sementara penonton tampak menggoyangkan kepala dan kaki – mengikuti ritme yang diciptakannya.

Ketika Gilang Ramadhan – dramer yang sedang berbulan madu dengan Shanaz Haque – tampil ke atas panggung, penonton langsung bertepuk tangan. Gilang lalu duduk dibalik peralatan dramnya yang ditambahkan dengan asesoris pelengkap yang turut memperkaya warna pukulan yang dihasilkannya. Permainan Gilang terlihat sangat enerjik. Gilang didukung oleh Adi (bas), dan Donny Suhendra (gitar). Dan, sebagai hadiah perkawinannya, pihak pelaksana acara memberikan hadiah berupa stick dram untuknya.

Penampilan berikutnya adalah drmaer gaek yang masih enerjik: Benny Musthapa. Om Benny membawakan komposisi My Funny Valentine dan Cute. Hentakan pukulannya menggambarkan sebuah perjalan panjang dirinya di jalur musik jazz. Ya, Om benny adalah salah satu pemain dram yang telah lama malang-melintang di berbagai panggung jazz. Kekaguman yang ditunjukan oleh penonton, serta aplaus panjang untuknya, adalah sebuah pengakuan akan konsistensinya selama ini.

Setelah Om Benny, Cendy Luntungan langsung menempati kursi di balik susunan dramnya. Kali ini, Cendy membawa serta beberapa pendukungnya dan sejumlah backing vokal yang bersamanya menawarkan komposisi Urapan dan Joyfull dengan tempo yang rancak. Cendy masih menunjukan kelasnya dengan baik. Dengan sangat kompak, Cendy dan pendukungnya berhasil “memaksa” penonton untuk menggoyangkan badannya.

Dan, saat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Avie Oetomo, sang MC, akhirnya memanggil kelima dramer yang berlaga malam itu. Serentak, dengan gaya marching band, kelimanya berbaris menuju panggung dan duduk dibalik perlengkapan dram masing-masing. Tanpa banyak basa-basi – terlebih dahulu diberi pengarahan singkat oleh Benny Likumahua, sang music director – komposisi  Casa Forte langsung dimainkan. Sekali lagi, penonton langsung bertepuk tangan riuh.

Pada sesi tersebut, kelimanya mendapat porsi yang sama untuk tampil solo secara bergantian. Dengan dibantu oleh Benny Likumahuwa (trombone), Oele Pattiselano (gitar),  Sam (keyboard), dan Jeffry Tahalele (bas), komposisi enerjik itu menjadi sangat dinamis. Inilah momen yang cukup menarik yang dinantikan penonton malam itu yang tetap tak beranjak hingga pukul 01.00 pagi.

Untuk mengumpulkan kelima dramer di atas, seperti dituturkan benny Likumahuwa seusai pertunjukan, bukan perkara yang mudah. Kesibukan dari para penabuh dram ini yang cukup tinggi adalah kendalanya. “Yang paling sulit adalah mengumpulkan kelimanya untuk latihan bareng,” ujar multi instrumentalis ini kepada Horizon-line.Com. Tapi, lanjut musisi jazz senior ini, usaha untuk menggabungkan kelimanya di satu panggung akhirnya tercapai juga. Dan, seperti terlihat, penampilan mereka tak mengecewakan penonton.

Bulan depan (6/6), ujar sumber Horizon-line.Com di AIRO Production, pihaknya akan kembali menggelar acara serupa dengan tema Indische Latin Jazz. AIRO juga merencanakan untuk menggelar acara musik blues – juga dilaksanakan setiap bulan – di sebuah kafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, mulai akhir bulan Mei ini. Dan, untuk mendukung promosi rangkaian acara menarik ini, maka Horizon-line.Com juga menjadi media sponsor untuk kedua acara tersebut. (yollismn)