Kesepian Musik Dixie…

By on July 2, 2000

MENDENGAR kata Dixieland, banyak orang mungkin akan memba-yangkan sebuah tempat hiburan yang di dalamnya terdapat berbagai alat permainan.Kata itu sesungguhnya cukup populer dan cukup akrab untuk dilafalkan.Tapi, tak banyak lagi yang ingat bahwa kata itu sesungguhnya sangat akrab dengan musik, khususnya musik jazz.

Dixieland, menurut beberapa pustaka, sesungguhnya adalah salah satu gaya permainan musik jazz yang sangat kental dengan ciri perasaan riang. Dixie adalah anak langsung dari gaya ragtime, yang merupakan cikal bakal kelahiran musik Jazz, musik modern abad ke-20 yang lahir di Amerika sekitar tahun 1890-an.

Ragtime yang sering disebut sebagai gaya musik populer Amerika, pada masa awalnya sebenarnya adalah gaya permainan piano yang sangat cepat,penuh kegembiraan sehingga orang yang mendengarnya akan terangsang untuk menari. Buddy Bolden (1878-1931), Scott Joplin (1868-1917) adalah beberapa tokoh aliran ini. Joplin bahkan menulis dua buah opera dengan pendekatan ragtime, yaitu opera A Guest of Honor (1903) dan Treemonisha (1907).

Seperti halnya sebuah pendulum, ragtime yang penuh keceriaan kemudian diimbangi dengan munculnya blues yang banyak menjerit lewat vokal dan lengkingan gitar. Pola ritmik yang khas dan terukur, juga agak berlawanan dengan pola ritmik ragtime yang kaya dengan sinkop (perubahan aksen).

Lalu Dixieland atau Dixie pun berkembang menyempurnakan ragtime dengan tambahan alat-alat musik lainnya, terutama banjo, terompet, klarinet,dan trombone. Musik ini pun langsung digemari, karena dimainkan bukan saja oleh pemusik kulit hitam tetapi mereka yang berkulit putih. Chicago dan New Orleans adalah dua pusat musik yang memberikan warna pada musik dixie.

Dixie memang menghimpun gaya-gaya sebelumnya. Gaya musik ini mempunyai unsur ragtime, blues, one-step, two-steps, march, juga pop. Joe “King” Oliver (1885-1938), Louis Armstrong (1901-1971), Bud Freeman (1906-1991) adalah beberapa dari para tokoh yang mengembangkan gaya musik ini ke seluruh Amerika. Oleh karena itu gaya dixie memang sangat kaya dengan improvisasi kolektif-nya. Setiap pemusik punya kesempatan berimprovisasi, tetapi satu sama lain harus mampu menyatu sehingga musik yang terdengar memang merupakan sebuah kumpulankolektif.

Kolektif improvisasi itulah memang kunci keindahan musik dixie. Hal itu tidakmudah dicapai, bahkan teramat sulit, sehingga tak banyak yang mampu memainkan musik dixie sebagaimana seharusnya. Dibutuhkan keterampilan prima masing-masing pemusiknya untuk bisa sampai ke tahap itu. Salah satusaja pemusik lemah, maka celah pun langsung akan terlihat, dan musik dixie pun akan cacat.

Maka tidak mengherankan bila pentas bulanan Jamz Matra Jazz yang biasanya menghadirkan tujuh pemusik tertentu, pada Rabu (26/6) malam lalu, hanya bisa menghadirkan tiga grup pemusik dixie. Mereka adalah Ireng Maulana All Stars, Jazz Riders, dan DixieFantasy.

MELIHAT penampilan ketiga grup band tersebut di Jamz, Jakarta, semakin kuatlah kesan bahwa musik dixie memang musik yang lumayan sulit dipelajari.Dari ketiga grup penampil itu, hanya Ireng Maulana All Stars yang mampu menunjukkan gaya dixie yang paling mendekati. Hal itu tidak terlalu mengherankan karena sudah lebih dari 10 tahun terakhir, Ireng dan kawan-kawan mengkhususkan pada musik dixie.

Kolektif improvisasi mampu ditampilkan Ireng (banjo), Hendra Wijaya (keyboard), Karim (terompet), Trisno (klarinet), Benny Likumahuwa (trombone), Benny Mustafa (drum), Loni Isa (bass). Lewat lagu-lagu Red River Valley Royal Garden Medley, Midnight in Moscow Ireng dan kawan-kawan membawa keceriaan musik dixie ke tengah penonton yang berjumlah tak seberapa karena terserap pertunjukan sepak bola Piala Eropa di televisi.

Ireng dengan nakal bahkan memainkan komposisi Johann Strauss, Vladensky March ke dalam irama dixie. Lagu itu nyatanya memang cocok dibawakan secara dixie, sehingga pantas saja kalau penonton pun terheran-heran juga mendengar lagu itu dengan kemasan lain. Atmosfir awal abad ke-20 pun terasa kuat di Jamz pada malam itu.

Jauh sebelum Ireng mulai membangun grup musik dixie, kelompok Jazz Rideryang dimotori Pattiselano bersaudara sesungguhnya sudah lebih dulu memainkan dixie. Namun, ketidaklengkapan personel pada saat ini membuat penampilan Oele Pattiselano, Didi Chia dan kawan-kawan jauh dari warna “ideal” dixie.

Penampilan Dixie Fantasy lain lagi. Kelompok yang terdiri dari delapan pemusik berusia 30 tahunan ini adalah calon penerus Ireng Maulana All Stars. Pada tahapan paling dasar, kelompok ini memang cukup bisa menunjukkan musik dixie. Sayang sekali, dari segi teknis para pemusiknya belum merata. Hal itu pulalah yang membuat kelompok ini belum berhasil membentuk kolektif improvisasi dixie.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan pada pentas musik dixie itu, satu hal memang patut direnungkan. Yaitu, kemunduran musik jazz di Indonesia belakangan ini barangkali juga karena ketidakmampuan kita menghargai akar-akar musik jazz. Ketika orang bermain jazz-kontemporer,selayak-nya dia sudah harus lebih dulu mampu bermain jazz standar,salah satunya adalahdixie. Maka, jangan pernah lupakan dixie, dan jangan pula artikan dixie sebagai sebuah diskotik atau tempat hiburan malam! (Oleh: Rakaryan S)

Sumber : KOMPAS,  Minggu, 30-06-1996 – Hal. 20