JGTC, Ritual Jazz yang Terus Berlanjut

By on November 15, 2000

SUASANA kampus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Depok, Minggu 12 November pekan lalu terlihat sangat ramai. Ribuan pengunjung datang memadati halaman kampus yang tak begitu luas. Di sana-sini terlihat anak-anak muda – semuanya mahasiswa – yang datang dengan beragam kepentingan: melihat jazz, sekadar ngeceng, atau cuci mata. Tapi, yang jelas, even Jazz Goes To Campuss (JGTC), yang telah memasuki tahun ke-23, terbilang cukup sukses. Sekitar 4000-an pengunjung memadati 2 panggung yang disediakan panitia: panggung Penzoil dan Satelindo.

Kedua panggung terlihat ramai. Di panggung Penzoil – yang menjadi panggung utama,  menampilkan musisi-musisi jazz serius, seperti Bubi Chen, Bill Saragih, Indra Lesmana Reborn, Benny Likumahua, Tamam Husein dan Warna, Ermy Kulit, hingga si kecil Andien. Sedangkan untuk panggung Satelindo, hadir Simak Dialog, Fariz R.M, Iga Mawarni,  dan beberapa kelompok jazz dari FEUI.

Tanggapan musisi jazz Tanah Air yang tampil cukup beragam. Ermy Kulit, misalnya, cukup terharu dengan sambutan penonton yang luar biasa. Di sela-sela penampilannya, Ermy mengajak penonton untuk mencintai karya musik jazz Indonesia. “Tanpa Anda, kami tak ada apa-apanya,” lanjutnya lagi.

Fariz R.M, yang merasa bukan musuisi jazz, juga merasa berterima kasih kepada pihak panitia. “Hanya JGTC-lah satu-satunya komunitas yang mengganggap saya sebagai seorang musisi jazz,” ujar Fariz yang terperanjat dengan sambutan penonton kepadanya. Saat itu, penyanyi yang populer dengan tembang Sakura ini, membawakan beberapa komposisi lawasnya, di antaranya adalah Sakura dan Barcelona.

Yang menarik, ketika Benny Likumahua & Friends tampil di panggung, penonton sempat tersenyum-senyum. Pasalnya, komposisi yang dibawakan oleh Om Benny – begitu dia biasa dipanggil, adalah sebuah komposisi milik penyanyi dangdut Meggy Z, yang diaransemen ulang dengan gaya jazz Latin. Penonton terkesima. Sambutan pun akhirnya terluapkan.

JGTC adalah sebuah fenomena. Persiapan panitia, yang hanya 1,5 bulan, tampaknya cukup bagi anak-anak muda FEUI, yang terlihat cukup atraktif mengadakan even yang sudah digelar sejak 1978 itu. Buktinya, penonton – seperti tahun-tahun sebelumnya – membludak. Ritual tahunan ala FEUI agaknya telah menjadi ajang tahunan yang cukup dinanti oleh penikmat musik jazz di Indonesia. Dan — ini yang terpenting, nilai jualnya termasuk tinggi. Padahal, yang dikemas adalah sebuah musik bernama jazz.

Begitulah. JGTC memang bukan tanpa cela. Kualitas sound system, terutama di panggung Satelindo, tak begitu bagus. Lokasi pertunjukan juga terlihat sempit. Penonton yang berdesak-desakan, terlihat cukup mengganggu beberapa penonton yang sedang menyaksikan jalannnya pertunjukan. Namun, kerjakeras anak-anak FEUI, layak kita acungi jempol. Mereka berhasil melanjutkan sebuah tradisi idealis berlabel jazz di kampusnya. Itulah yang terpenting untuk sosialisasi jazz sejak dini. Selamat! (yollismn)