Perhelatan
musik jazz terbesar di Indonesia, Jakarta
International Java Jazz Festival 2007 (JJF), yang dilaksanakan
pada tanggal 2, 3 dan 4 Maret 2007 lalu sukses dilaksanakan. Puluhan
ribu pencinta jazz tanah air memadati belasan panggung yang digelar
di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.
Menyaksikan atraksi musisi-musisi jazz dunia di panggung JJF 2007
seakan tak habis-habisnya. Selama tiga hari, bertempat di
panggung-panggung berpendingin udara, kita dihibur oleh ratusan
musisi dengan latar belakang jazz. Sebuah atmosfir musikal yang
memuaskan dahaga pencinta jazz tanah air.
Aksi panggung Jamie Cullum berhasil menyihir ribuan anak muda
yang menjadi fans fanatiknya. Penampilan Jamie memang luar biasa
pada Minggu malam (4/3) itu. Lihatlah apa yang terjadi ketika
komposisi-komposi seperti London Skies, Get Your Way, atau
Old Devil Moon, yang berhasil menyihir penggemarnya malam itu.
Penonton Histeris dibuatnya.
Jamie memang fenomenal dan berhasil menarik minat anak-anak muda,
generasi MTV, untuk berjingkrak dengan sentuhan musik yang dikemas
dengan tema jazz. Sebuah bentuk sosialisasi jazz yang dibantu oleh
industri musik global. Lihatlah gaya berpakaian dia, atau
ekspresinya menginjak-nginjak tuts piano. Jamie memang berusaha
menghilangkan kesan kaku dalam setiap aksi panggungnya. Dan itu
diterima dengan baik oleh fans fanatiknya.
Atraksi Sergio Mendes juga tak kalah menarik. Penonton
langsung histeris ketika komposisi andalannya, Mas Que Nada,
dilantunkan. Komposisi yang tema liriknya tentang goyang samba,
Brazil, itu masih memiliki daya pikat bagi penggemarnya. Penonton
bergoyang mengikuti irama lagu.
Vokalis
jazz bertubuh subur, Chaka Khan, yang populer dengan hits-nya
Trough The Fire, tampil dengan totalitas yang penuh. Chaka,
yang berarti api dalam salah satu rumpun bahasa di Afrika, berhasil
membuktikan eksistensinya di jagat musik jazz hingga R&B.
Penampilan
Marcus Miller dipadati oleh fans fanatiknya yang memang sadar
betul dengan kekuatan skill individu yang ajaib dari si
pencabik bas yang pernah mendukung sejumlah legenda jazz dunia.
Marcus, yang tampil enerjik dengan komposisi-komposisinya, membius
penggemarnya untuk tetap bertahan hingga akhir penampilannya.
Pada
hari terakhir JJF (4/2), penonton juga dipuaskan oleh penampilan
reuni kelompok-kelompok jazz yang pernah merajai panggung jazz tanah
air di era 80-an, seperti Emerald, Karimata, dan Krakatau.
Emerald, misalnya, tampil dengan dukungan penuh personilnya seperti
Morgan Sigarlaki (gitar), Edwin Saladin (keyboard),
Yayang (drum), Ricky Johannes (vokal), dan Roedyanto
(bas).
Sang vokalis, Ricky Jo, misalnya, sempat terkesima karena banyak
penggemar Emerald yang masih hafal dengan beberapa lirik lagu
mereka, seperti Sudah Cukup Lama, Satu Lagi, Anganku, dan
Teman Biasa. Beberapa komposisi instrumental milik Emeralad,
seperti Baralek Gadang, Si Pitung, dan Edwina juga
dibawakan malam itu.
Kelompok Krakatau juga melakukan konser reuni, "A Journey
to Krakatau", di panggung Java Jazz 2007, yang juga didukung
oleh Ruth Sahanaya, Andien, dan Rieka Roeslan. Krakatau juga
menghadirkan formasi lama mereka, yang didukung Indra Lesmana
(keyboard).
Begitu pula dengan Karimata, yang tampil dengan dukungan
Erwin Gutawa (bas), Denny TR (gitar), Aminoto Kosin
(keyboard), dan Uce Haryono (drum). Chandra Darusman, yang
kini bermukim di Jenewa, Swis, tak hadir di acara reuni ini. Formasi
lawas Karimata ini tampil, menutupi konser A Tribute to Karimata,
yang didukung oleh Barry Likumahuwa & Friends.
Secara umum, pelaksanaan JJF 2007 terbilang sukses. Penonton
memadati JCC selama tiga hari berturut-turut. Panggung-panggung
utama juga penuh sesak dijejali penonton yang harus rela antri untuk
bisa menyaksikan penampilan Jamie Cullum, Sergio Mendes, Chaka Khan,
atau Level 42. (ymn)