Jakarta International Jazz Festival 2006
(Jak Jazz) akhirnya berakhir sudah, setelah digelar selama tiga hari
berturut-turut, di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, pada tanggal 24 -
26 November 2006 lalu. Jak Jazz, dengan semangat dan idealismenya,
berhasil digelar kembali setelah sempat mati suri sejak 1997 lalu.
Jak Jazz 2006 masih tetap mengusung semangat
musik jazz yang akrab dan bersahaja, sama seperti pelaksanaan Jak
Jazz pada tahun-tahun sebelumnya, yang terakhir dilaksanakan pada
1997 lalu. Jak Jazz memang ditunggu oleh banyak pencinta jazz tanah
air.
Terlepas dari kekurangan pelaksanaannya di
sana-sini, dan batal tampilnya kelompok The Rippingtons dan sejumlah
musisi jazz mancanegara, Jak Jazz telah menunjukan kembali
eksistensinya di panggung musik jazz tanah air. Ya, Jak Jazz is
back!
Penampilan sejumlah musisi jazz mancanegara,
seperti Phil Perry, Selena Jones, Monday Michiru, Ernie Watts &
Jeremy Monteiro Trio, Kazumi Watanabe, Eugene Pao, Jack Lee, Lewis
Pragasam, hingga kelompok jazz yang pernah populer di era 80-an,
Shakatak, mendapat sambutan luar biasa dari komunitas jazz di
Indonesia.
Phill Perry berhasil menyihir pencintanya
dengan komposisi-komposisinya yang akrab di telinga penggemarnya,
seperti After The Dance, The Best of Me, Women, After The Love
Has Gone, The Way That I Want You, dan It Might Be You.
Phill memang paham betul dengan selera publik musik di Indonesia.
Penyanyi bertubuh tambun ini memang sering tampil di Indonesia.
Selena Jones, vokalis jazz senior yang piawai
membawakan hits penyanyi lain, dengan gayanya sendiri, juga
memukau penggemarnya di Jakarta. Selena tetap menunjukan kualitas
vokalnya sebagai seorang diva musik jazz.
sama seperti Selena, kelompok Shakatak juga
menggoyang penonton Jak Jazz dengan komposisi-komposisi rancaknya
seperti Night Bird, Day By Day, Dark is The Night, atau Down on The
Street. Shakatak masih tetap enerjik. Penonton juga hafal dengan
lirik-lirik komposisinya.
Kelompok lainnya yang mendapat sambutan bagus
dari penonton adalah Smoma, Kazumi Watanabe dan Asian Super
Guitar Projects, Ernie Watts & Jeremy Monteiro, Monday Michiru,
dan Coco York. Karakter musiki yang berbeda dari
musisi-musisi jazz tersebut mendapat sambutan di panggung-panggung
jazz yang ada di festival yang bertajuk Jazz in The Park ini.
Penampilan Musisi Tanah Air
Musisi-musisi jazz tanah air juga mendapat aplaus meriah. Trisum,
misalnya, yang tampil di Batavia Stage, menyihir penonton dengan
atraksi gitar dari tiga gitaris handal, Dewa Budjana,
Tohpati, dan Balawan. Trio gitaris ini membuat Batavia
Stage kaya dengan lengkingan gitar yang enerjik dan sahut-menyahut.
Bubi Chen Jak Jazz Stars, yang mendapat
giliran tampil di Dji Sam Soe Lounge, juga dipenuhi pengunjung Jak
Jazz. Demikian pula dengan PIG (Pra, Indra, dan Gilang), Luluk
Purwanto & The Helsdingen Trio, Benny Likumahuwa Jazz Conection,
Maliq & D' Essential, Park Drive, Ireng Maulana & Friends, Simak
Dialog, Cendy Luntungan Project, atau Bali Lounge. Rasa
jazz Indonesia yang diusung musisi-musisi ini menghibur penonton.
Tompi & Groovology, yang menunjukan atraksi
vokalnya di Ondel-ondel Stage, membawa penonton ke suasana romantis
dengan komposisi-komposisinya. Tompi, yang juga tampil bareng Bali
Lounge, tahu betul karakter pencintanya malam itu.
Tampilnya vokalis-vokalis jazz lawas di
panggung Jak Jazz juga membawa angin segar. Mereka adalah Emil S.
Pradja dan Kemala Ayu. Vokalis belia seperti Andien,
atau Ottie Jamalus Quartet juga tak kalah menariknya.
Kehadiran Elfa's Band Feat. Elfa's Jazz & Pop Singers, di
panggung Ondel-ondel juga menarik untuk disimak.
Jak Jazz 2006, seperti juga pelaksanaan Jak
Jazz tahun-tahun lampau, bisa dibilang, terus berjuang memperoleh
sponsor yang benar-benar mengerti betul dengan selera musik bernama
jazz. Apalagi pihak sponsor belum yakin betul dengan festival
bernama Jak Jazz, yang sempat vakum sejak 1997 lalu.
Sebagai sebuah industri musik, sedikit demi
sedikit, jazz mulai dikenal oleh kalangan ABG. Sosialisasi musik
jazz, yang coba dilakukan oleh Jazz Goes to Campus (JGTC), atau Java
Jazz Festival, misalnya, telah membawa angin segar di industri musik
idealis ini.
Jak Jazz memang harus berbeda dengan JGTC atau
Java Jazz Festival. Sebagai sebuah festival yang pernah berjaya
menampilkan pendekar-pendekar jazz dunia, Jak Jazz memang harus
"lebih jazz", dari festival serupa yang ada saat ini. Pemilihan
musisi pendukung, terutama musisi jazz mancanegara, harus selektif
dan bisa mewakili beragam genre musik jazz yang ada. Jak Jazz
(memang) masih seperti yang dulu: akrab dan bersahaja. (ymn)