Anda
menyaksikan penampilan Oele Pattiselano di Java Jazz
Festival awal bulan Maret 2007 lalu? Petikan gitar musisi jazz
berdarah Ambon, yang kental dengan nuansa swing ini, sudah
bisa Anda dapatkan di toko CD langganan Anda. Ya, album terbaru dari
Oele Pattiselano, Plays Standards, belum lama ini
dirilis ke pasar musik jazz tanah air.
Sama seperti nama albumnya, album ini menyajikan
komposisi-komposisi jazz standard, yang menjadi repertoar wajib para
musisi di panggung-panggung jazz. Sebut saja How Insensitive
karya Jobim, My One and Only Love, I Love You, My Romance,
Yesterdays, Stella by Starlight, hingga Groovin High.
Sembilan komposisi jazz standard dimainkan dengan menarik oleh Om
Oele -- biasa gitaris ini dipanggil, di album yang diproduksi oleh Musikita ini. Oele berhasil
membangun atmosfir swing yang kental di album ini. Gaya
permainan gitarnya yang cool, dapat Anda simak di komposisi How
Insensitive dan Stella by Starlight.
Hampir semua komposisi yang ada di album ini dimainkan Om Oele
dengan rasa swing yang dominan. Dukungan sejumlah musisi
Belanda, yang tergabung dalam Peter Ypma Quartet, sangat mendukung
Om Oele dalam memainkan kembali komposisi-komposisi jazz standard.
Buat yang sudah "kenal" dengan gaya permainan seorang
Oele, maka Anda akan langsung akrab, ketika mendengar komposisi Yesterdays.
Om Oele agaknya tak mau melewatkan kesempatan emas yang diberikan
musisi Dwiki Dharmawan untuk merilis album solonya. Itulah sebabnya,
gitaris senior ini tampil total di album yang proses rekamannya
dilakukan di Studio Pendulum ini.
Yang menarik, di album ini, sejumlah musisi jazz asal Belanda
ikut mendukung album Plays Standards. Mereka adalah Peter
Ypma (drums), Mariuts Beets (acoustic bass), Aab
Schaab (saksofon), Erick van Der Lutj (piano), dan Oele
Pattiselano (gitar). Sedangkan proses rekamannya sendiri hanya
memakan waktu beberapa hari saja, dan seluruh pekerjaan aransemen
dilakukan sendiri oleh Om Oele.
Tampilnya sejumlah musisi jazz asal Belanda tersebut berawal dari
kedatangan Peter Ypma Quartet yang datang memberikan workshop
di Sekolah Musik Farabi, atas undangan Erasmus Huis. Ketika itu,
Dwiki Dharmawan menjadi host-nya. Maka, memanfaatkan momen
itulah, Dwiki kemudian memberikan kesempatan kepada Oele Pattiselano
untuk melakukan proses rekaman.
Tanggapan Om Oele tentang pengalamannya berkolaborasi dengan
musisi jazz Belanda? "Feel-nya dapat. Dialek swing-nya
lebih terasa," ujar Om Oele seperti dikutip di rilis Musikita.
Rasa terima kasih juga diberikan kepada Dwiki Dharmawan dan pihak
Erasmus Huis, yang berjasa mewujudkan album yang didedikasikan untuk
adik kandung Om Oele, Perry Pattiselano, yang menjadi korban
ledakan bom teroris di Yordania, 9 November 2005 silam.
Perjalanan panjang seorang Oele Pattiselano sebagai musisi jazz,
yang ditekuninya sejak 1968, pada akhirnya dapat didokumentasikan
dalam sebuah album solo bertajuk Plays Standards. Benar, selama ini
Om Oele hanya menjadi musisi pendukung pada banyak album jazz yang
telah dirilis di Indonesia. Album ini layak Anda jadikan referensi
dan menjadi tonggak perjalanan Om Oele di ranah jazz tanah air. (ymn)