Jazz dan Musik Pembebasan

By on January 23, 2001

If de blues was whiskey I’d stay drunk all de time.

KETIKA aku lahir, ayahku Willie Armstrong dan ibuku Mayann tinggal di gangkecil, James Alley. Jaraknya hanya satu blok dari Back o’Town, wilayah padat dari kota New Orleans. Wilayah-wilayah lainnya adalah Uptown, Downtown dan Front o’Town. 

James Alley terletak persis di tengah-tengah daerah rawan yang dijuluki daerah Medan Perang, karena seringnya terjadi kerusuhan dan perkelahian. Daerah itu benar-benar padat. Di sanalah tinggal orang-orang gereja, penjudi, penjaja jalanan, para gembel, maling, pelacur dan begitu banyak anak-anak kecil. Bar-bar, pedagang kelontong, salon dan lalu-lalang perempuan-perempuan pemikat yang menawarkan jasa untuk dikencani.

Ibuku bilang, ketika aku lahir pas ada keributan besar yang menimbulkan korban. Tepatnya tanggal empat Juli. Hari libur besar di New Orleans, kapan segalanya bisa terjadi. Mereka merayakannya dengan pistol, senapan, atau senjata apa saja yang bisa ditenteng.

Ketika aku lahir, emak dan babeku tinggal bersama nenek, Ny Josephine Armstrong (puji Tuhan!). Tapi mereka tak lama tinggal bersama. Mereka suka mempertengkarkan hal-hal yang brengsek. Akhirnya emak minggat meninggalkan aku dengan nenek. Bapakku pergi entah kemana dan hidup dengan perempuan lain. Ibuku lantas tinggal di Jalan Liberty and Perdido yang bersebelahan dengan tempat para pelacur-pelacur murahan. Aku tak tahu, apa ibuku juga mesum. Seandainya ya, tentu saja ia tak akan membiarkan aku mengetahuinya.”

Itulah potongan ceritera asli Louis Armstrong, tahun 1900. Pemusik jazz kenamaan yang biografinya ditulis dalam buku The Riotous Story of the One and Only SATCHMO LOUIS ARMSTRONG (Signet Books The New American Library of World Literature, Inc.:1955). Sekelumit penggalan cerpen asli pejazzi terkenal yang dijuluki ‘Satchmo yang Agung’ itu sedikit memberi gambaran latar belakang citra kumuh awal-awal perkembangan musik blues ke jazz pada masa itu. Kalau dua potong baris teks lagu dalam bahasa prokem Negro-Amerika di awal tulisan kita ini kita terjemahkan, maka suasana harafiahnya kira-kira begini: Andaikan blues itu wiski – akan kureguk ia sampai teler! Itu bayangan dunia jazz kira-kira seabad yang lalu. Sekarang? Bagaimana, misalnya, kok seratus tahun kemudian, tiba-tiba ada festival musik jazz di Jl James All.., eh Jalan Rasuna Said -Kuningan, Jakarta? Apa hubungannya?

Kelahiran jazz
Para ahli penyidik sejarah musik secara umum memang sepakat, bahwa tahun 1917 dianggap sebagai tahun kelahiran musik jazz. Pasalnya sederhana. Itulah untuk pertama kali kata JAZZ dilabelkan diselebaran-selebaran acara, siar pertunjukan, dan rekaman musik. Lalu karena listrik juga belum lama byar, temuan mesin-mesin baru seperti auto-mobil (1877) sedang thok-cer, dan yang terpenting gramaphon (1887) dan radio (1902) sedang ngetrend, maka tak pelak lagi wabah jazz menyebar luas kemana-mana. Mirip seperti zaman sekarang. Yakni ketika segala macam bentuk musik pop-rock, elektronik dan komputer mengakomodasikan diri ke dalam segala macam penyakit zaman, film, tv, video, kaset, CD, komputer dan macam-macam alat sambung rasa digital-elektronik lainnya yang sedang berkuasa. Kata Marshall McLaughan, alat itu menentukan pesan.

Musik lantas menjadi alat komunitas informasi sosial masyarakat industri yang serba konformistis, tidak seperti zaman keemasan budaya musik klasik dan romantik Eropa sebelumnya. Seniman dianggap insan unggulan. Petentang-petenteng di atas pentas menuruti citranya sendiri. Masyarakat yang tak ngerti dicap bego dan dianggap tak paham kebudayaan. Dapat dipahami bila musik jazz kemudian dipercaya dapat memberi rasa baru kebebasan. Mottonya sejak awal memang kebebasan dan pembebasan. Jazz untuk semua dan semua untuk jazz!

Tapi jangan salah paham. Jazz itu yang pertama-tama adalah gerakan seni untuk hidup bagi orang-orang yang terlantar, tertindas dan terlupakan. Makanya jazz selalu saja menarik simpati dan dipihaki banyak orang. Jazz merupakan musik yang memberi energi baru untuk tetap hidup dan eksis. “Jazz membangun kepekaan kita akan seluruh kesemestaan hidup”, kata Alvin L Kershaw, seorang komentator tv kenamaan (Marshall W. Stearns, The story of Jazz, Oxford UP: 1970). Jazz itu berwatak spontan. Anti-mapan dan selalu mencari jalan keluar. Improvisasi adalah kiat utamanya. Makanya jazz selalu terbuka terhadap perubahan dan masukan.

Main jazz itu seperti main bola sepak. Kalau Anda tidak bebas dan tertekan, Anda sulit bisa menyepak-nyepak bola. Jazz juga begitu. “Harus punya spirit untuk memenangi kehidupan dan bukan menjadi pecundang yang degradatif”, kata saxophonis Archie Shepp.

Masalahnya, seperti dalam permainan bola sepak, bukan hanya sistem, penguasaan teknik, latihan dan kebersamaan kolektif saja yang penting.

Kebebasan berkemandirian untuk menentukan pilihan jalan keluar buat memilih keputusan dalam berpikir dan bertindak itu secara fundamental sangat penting dan perlu dalam permainan jazz maupun bola. Itulah yang dipercaya sebagai prinsip seni berimprovisasi (yang bertanggung jawab). Tanpa itu Anda tidak bisa membuat “goal”, dan kalah melulu. Seluruh sistem, latihan, pengetahuan, kolektivitas perjuangan apa pun lantas akan jadi sia-sia dibuatnya. Bahkan, kebebasan dalam kemandirian itulah yang sebenarnya menjadi sistem utama (improvisasi) dari “sistem” seni musik jazz. Hubungan antara seni improvisasi yang menjadi roh dalam musik jazz itu dapat diibaratkan bagai hak asasi manusia dalam demokrasi. Bisakah kita bermain demo…, eh jazz? Tengoklah dulu cara permainan “improvisasi”mu!

Bebas
Malam itu, masih di seputar hingar-bingar Jakjazz ’97, trombonis Benny Likumahua bertindak sebagai pemain sekaligus MC (artinya manusia cas-cis-cus). Dia bilang: “Para penonton, tamu kita malam ini adalah orang termuda di antara kita”. Maka dipanggilnyalah tamu kita yang termuda itu. Pianis Bubi Chen, yang umurnya telah berkepala 6. Benny memperkenalkan: “Inilah arek Suroboyo kita, Bubi Chen. Kalau siang dia narik gerobak, muter-muter jual bakmi. Kalau malam main jazz. Kalau siang dia itu Cina, kalau malam jadi Jawa”. Penonton gerrr. Bubi hanya nyengir, tidak tersinggung. Ia dan penonton tahu itu gurauan ngejazz para insan jazz yang telah biasa dengan alam pikiran bebas. Bukan SARA. Lalu mulailah jari-jari Bubi Chen menari-narikan melodi The Autumn Leaves di atas bilah-bilah piano. Apik dan jazz beneran.

Lalu tamu berikutnya juga dipanggil naik pentas. “Hallo everybody…., hallo Indonesia…. we are happy people. We’re goin to happy-happy saja ya malam ini. We got everything here in Indonesia…. Apa yang dia orang punya di Amerika, kita juga punya semua di sini, yeah…. Di sana ada jazz, kita juga punya Jakjazz. Di sana ada Bill Clinton, di sini ada Bill Saragih….. Mereka punya Frank Sinatra, kita punya Frank Sumatra….” Penonton gerr, dan ia mulai berjingkrakan sambil memainkan flute-nya yang enak dan menyanyikan lagu I got you all under my stage yang terus menerus diplesetkan sekenanya kesana-kemari dengan suara serak baritonnya yang masih enak dan jazzi.

Giliran Titiek Puspa naik pentas, dengan gaya genitnya dia bilang: “Hallo penonton semua, anak-anakku, cucu-cucuku, saya juga happy, kita semua happy…. malam ini kakek-kakek, nenek-nenek, larut malam begini disuruh Ireng (Maulana) naik pentas main jazz….. aduh senangnya…. Saya mau menyanyikan lagu lama yang dulu ketika pertama kali saya nyanyikan, saya yakin kalian semua (sambil menunjuk para penonton) belum ada yang lahir. Lagunya…. saya lupa namanya”. Lalu dia tarik suaranya dengan gayanya yang masih jreng!

Begitulah kira-kira suasana alam pemusik jazz itu. Ceria, spontan dan penuh persaudaraan. Mestinya cocok untuk orang Indonesia yang terkenal ramah, suka bersahabat (kalau lagi nggak ngamuk!) dan yang dalam cara hidupnya selalu saja berimprovisasi dari hari ke hari. Tapi mengapa musik jazz di Indonesia yang sebenarnya sudah mulai dikenal di sini sejak tahun 1930-an itu tak juga kunjung pesat majunya?

Mengapa jazz di Indonesia tak juga tumbuh subur sebagaimana musik-musik populer lainnya? Jawabnya tentu tak sekadar terletak pada perbedaan akar budaya. Sejak tahun 1960-an jazz telah berkembang di mana-mana dengan baik. Jazz bahkan berakulturasi dengan berbagai budaya lain, seperti Eropa dalam hal orkestrasi, teknik, dinamik dan ritme, dengan Asia Timur dalam struktur nada, melodi dan ekspresi tata nilai tradisi. Sementara dengan Afrika bahkan sejak awalnya jazz memang telah bersintesa dengan elemen-elemen dasar budaya rakyat. Dengan Indonesia, mengapa kurang berkembang?

Jawabnya, barangkali terletak pada elemen-elemen struktural yang lebih pelik dari tata nilai dan tata pikir masyarakat luas yang lebih mendasar. Biar saja pertanyaan ini mengambang. Seperti Anda, saya tak ingin menjadi orang pertama yang dimarahi orang banyak, karena dikira menyinggung. Seperti Anda,… kita cari selamat sendiri-sendiri sajalah!  

 *Pemusik

Sumber : KOMPAS, Minggu, 23-11-1997. Hal. 21