Jazz 52 tahun UGM Digelar November

By on October 28, 2001

Sebuah even jazz bertajuk “Jazz 52 Tahun UGM”, akan digelar pada tanggal 14 November mendatang, di Auditorium Graha Sabha Pramana, kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Sebuah acara yang merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa – ketika itu bertajuk Jazz 50 Tahun UGM,  yang pernah digelar pada 16 Februari 2000 lalu.

Musisi-musisi jazz Indonesia, yang akan tampil pada even jazz terbesar di Yogyakarta ini adalah: Ireng Maulana Combo (Ireng Maulana, Idang Rasjidi, Didiek SSS, Yance Manusama, Indrianto, Dullah Suweileh, dan Karim Suweileh) dengan vokalis Syaharani dan Margie Segers. Di samping Ireng Maulana Combo, Mus Mujiono & Friends juga akan tampil dengan vokalis tamu, Ruth Sahanaya.

Tradisi jazz di kampus UGM, seperti diungkapkan Hery Nugroho – salah satu tokoh jazz UGM, sebenarnya telah dimulai sejak 1987. Ketika itu, para tokoh muda dari Fakultas Ekonomi UGM, seperti  A. Tony Prasetiantono, Anggito Abimanyu, dan Hery Nugroho memulainya dengan “Economics Jazz Live”, yang populer di Yogya dengan nama EJL. Hingga pelaksanaannya yang ke-5, EJL masih menggunakan bendera FE UGM. Selanjutnya, pada pagelaran ke-6 (2000), EJL “diakuisisi” oleh universitas, dan digelar dengan tajuk Jazz 50 Tahun UGM, serta menjadi agenda tahunan di UGM.

Even Jazz 52 Tahun UGM masih dikelola oleh wajah-wajah lama. Ketua Panitia, misalnya, adalah A. Tony Prasetiantono, seorang ekonom yang sangat getol menjadikan kampus UGM sebagai matra jazz di Yogyakarta. Juga Hery Nugroho, alumni FE UGM, yang kini bekerja sebagai staf peneliti di salah satu lembaga penelitian UGM. Keduanya sangat “gila” jazz. Hery Nugroho, misalnya, sering terlihat kabur ke Denhaag, Belanda, setiap kali North Sea Jazz Festival digelar.

Sama seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia, Yogyakarta juga memiliki penggemar jazz yang cukup banyak. Animo yang besar terhadap pagelaran Jazz 50 Tahun UGM, tahun lalu adalah contohnya. Pada even kali ini, misalnya, tiket pertunjukan sebanyak 4.000 buah telah ludes terjual. Bahkan, seperti tahun-tahun terdahulu, tiket seharga Rp. 10 ribu itu, bisa melambung menjadi Rp. 25 ribu di tangan para calo. Dan, seperti diketahui, tetap saja laku.

Nah, bagi Anda yang kebetulan akan mampir ke kota Yogya, even menarik ini layak dijadikan referensi. (ymn)


Sometimes I wish I could walk up to my music as if for the first time, as if I had never heard it before. Being so inescapably a part of it, I’ll never know what the listener gets, what the listener feels, and that’s too bad. ~ John Coltrane