Jak Jazz, Masih Seperti yang Dulu

By on December 10, 2006

Jakarta International Jazz Festival 2006 (Jak Jazz) akhirnya berakhir sudah, setelah digelar selama tiga hari berturut-turut, di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, pada tanggal 24 – 26 November 2006 lalu. Jak Jazz, dengan semangat dan idealismenya, berhasil digelar kembali setelah sempat mati suri sejak 1997 lalu.

Jak Jazz 2006 masih tetap mengusung semangat musik jazz yang akrab dan bersahaja, sama seperti pelaksanaan Jak Jazz pada tahun-tahun sebelumnya, yang terakhir dilaksanakan pada 1997 lalu. Jak Jazz memang ditunggu oleh banyak pencinta jazz tanah air.

Terlepas dari kekurangan pelaksanaannya di sana-sini, dan batal tampilnya kelompok The Rippingtons dan sejumlah musisi jazz mancanegara, Jak Jazz telah menunjukan kembali eksistensinya di panggung musik jazz tanah air. Ya, Jak Jazz is back!

Penampilan sejumlah musisi jazz mancanegara, seperti Phil Perry, Selena Jones, Monday Michiru, Ernie Watts & Jeremy Monteiro Trio, Kazumi Watanabe, Eugene Pao, Jack Lee, Lewis Pragasam, hingga kelompok jazz yang pernah populer di era 80-an, Shakatak, mendapat sambutan luar biasa dari komunitas jazz di Indonesia.

Phill Perry berhasil menyihir pencintanya dengan komposisi-komposisinya yang akrab di telinga penggemarnya, seperti After The Dance, The Best of Me, Women, After The Love Has Gone, The Way That I Want You, dan It Might Be You. Phill memang paham betul dengan selera publik musik di Indonesia. Penyanyi bertubuh tambun ini memang sering tampil di Indonesia.

Selena Jones, vokalis jazz senior yang piawai membawakan hits penyanyi lain, dengan gayanya sendiri, juga memukau penggemarnya di Jakarta. Selena tetap menunjukan kualitas vokalnya sebagai seorang diva musik jazz.

Sama seperti Selena, kelompok Shakatak juga menggoyang penonton Jak Jazz dengan komposisi-komposisi rancaknya seperti Night Bird, Day By Day, Dark is The Night, atau Down on The Street. Shakatak masih tetap enerjik. Penonton juga hafal dengan lirik-lirik komposisinya.

Kelompok lainnya yang mendapat sambutan bagus dari penonton adalah Smoma, Kazumi Watanabe dan Asian Super Guitar Projects, Ernie Watts & Jeremy Monteiro, Monday Michiru, dan Coco York. Karakter musiki yang berbeda dari musisi-musisi jazz tersebut mendapat sambutan di panggung-panggung jazz yang ada di festival yang bertajuk Jazz in The Park ini.

Penampilan Musisi Tanah Air
Musisi-musisi jazz tanah air juga mendapat aplaus meriah. Trisum, misalnya, yang tampil di Batavia Stage, menyihir penonton dengan atraksi gitar dari tiga gitaris handal, Dewa Budjana, Tohpati, dan Balawan. Trio gitaris ini membuat Batavia Stage kaya dengan lengkingan gitar yang enerjik dan sahut-menyahut.

Bubi Chen Jak Jazz Stars, yang mendapat giliran tampil di Dji Sam Soe Lounge, juga dipenuhi pengunjung Jak Jazz. Demikian pula dengan PIG (Pra, Indra, dan Gilang), Luluk Purwanto & The Helsdingen Trio, Benny Likumahuwa Jazz Conection, Maliq & D’ Essential, Park Drive, Ireng Maulana & Friends, Simak Dialog, Cendy Luntungan Project, atau Bali Lounge. Rasa jazz Indonesia yang diusung musisi-musisi ini menghibur penonton.

Tompi & Groovology, yang menunjukan atraksi vokalnya di Ondel-ondel Stage, membawa penonton ke suasana romantis dengan komposisi-komposisinya. Tompi, yang juga tampil bareng Bali Lounge, tahu betul karakter pencintanya malam itu.

Tampilnya vokalis-vokalis jazz lawas di panggung Jak Jazz juga membawa angin segar. Mereka adalah Emil S. Pradja dan Kemala Ayu. Vokalis belia seperti Andien, atau Ottie Jamalus Quartet juga tak kalah menariknya. Kehadiran Elfa’s Band Feat. Elfa’s Jazz & Pop Singers, di panggung Ondel-ondel juga menarik untuk disimak.

Jak Jazz 2006, seperti juga pelaksanaan Jak Jazz tahun-tahun lampau, bisa dibilang, terus berjuang memperoleh sponsor yang benar-benar mengerti betul dengan selera musik bernama jazz. Apalagi pihak sponsor belum yakin betul dengan festival bernama Jak Jazz, yang sempat vakum sejak 1997 lalu.

Sebagai sebuah industri musik, sedikit demi sedikit, jazz mulai dikenal oleh kalangan ABG. Sosialisasi musik jazz, yang coba dilakukan oleh Jazz Goes to Campus (JGTC), atau Java Jazz Festival, misalnya, telah membawa angin segar di industri musik idealis ini.

Jak Jazz memang harus berbeda dengan JGTC atau Java Jazz Festival. Sebagai sebuah festival yang pernah berjaya menampilkan pendekar-pendekar jazz dunia, Jak Jazz memang harus “lebih jazz”, dari festival serupa yang ada saat ini. Pemilihan musisi pendukung, terutama musisi jazz mancanegara, harus selektif dan bisa mewakili beragam genre musik jazz yang ada. Jak Jazz (memang) masih seperti yang dulu: akrab dan bersahaja. (ymn)

Foto: Ridho/Horizon-line.Com