Iwang Gumiwang, “Dokter Jazz”

By on January 23, 2001

Sehari-hari, ia bekerja sebagai dokter dan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tentu saja profesinya itu telah merebut sebagian besar waktunya. Namun di tengah kesibukan yang luar biasa itu, Dokter Iwan Gumiwang MSc, SpPD, KKV yang sehari-hari dikenal sebagai ahli penyakit dalam (internist) dan konsultan cardiovascular, masih bisa menyempatkan diri bermain perkusi dengan para pemusik profesional.

Ia tampil satu panggung dengan Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, Arief Setiadi, Mates, Aksan, Riza Arsad, Benny Likumahua, Jeffry Tahalele, Topan dan Sam. Mereka adalah musisi jazz yang telah mempunyai nama besar di Tanah Air. Iwang memang telah menjadi pemain perkusi profesional.

“Apa tidak boleh dokter main perkusi, main musik?” tanyanya ketika ditanyakan mengenai dua profesinya itu. “Apa bedanya dengan dokter yang mempunyai hobi main golf? Sama saja, to. Buat saya, main musik betul-betul hobi dan, secara kebetulan, antara profesi dengan musik bisa sejalan. Saya beruntung, selama ini bisa berbagi waktu untuk profesi, hobi dan keluarga. Ada sesuatu yang hilang kalau sampai tidak bisa mencurahkan hobi saya. Saya merasa tenang mengerjakan sesuatu jika bisa main musik,” kata Iwang yang ikut bermain dalam album jazz dari gitaris Donny Suhendra. Selain itu, Iwang juga terlibat dalam pembuatan album Indra Lesmana berjudul Reborn.

Saat ini mobil pribadi dokter ini tak hanya diisi dengan peralatan kedokteran, tetapi juga bongo, conga dan beberapa alat perkusi lainnya. Maksudnya, begitu selesai dengan praktek dokternya, ia bisa langsung menuju ke tempat pertunjukan.

Perkusi
“Dokter Jazz” ini sudah tertarik pada musik sejak duduk di bangku SLTA. Namun ia baru memainkan perkusi tahun 1978. Ketika itu, secara tidak sengaja, Iwang yang masih mahasiswa tingkat III Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berkumpul dengan mahasiswa lainnya yang sedang main musik. “Saya melihat ada conga ngangur. Hati saya tergerak, lalu menabuh conga itu, main bersama rekan lain. Teman-teman bilang bagus. Kemudian mereka mendorong saya mempelajari perkusi. Maka, jadilah saya pemain perkusi,” tutur suami Gadis Darusman, adik kandung Jaksa Agung Marzuki Darusman.

Kiprah Iwang di dunia musik kemudian hari menjadi tidak main-main. Ia sempat main bersama Jack Lesmana, Bubi Chen, Benny Mustafa, Karim dan Dullah Suweleh serta musisi lainnya. Ia juga bergabung dengan Band Caseiro yang dipimpin Candra Darusman. Band ini cukup mempunyai nama sekitar tahun delapan puluhan.

Iwang juga terlibat dalam membidani pergelaran Jazz Goes To Campus di Universitas Indonesia. Sampai sekarang acara itu masih digelar secara rutin.

Untuk mengembangkan minatnya pada musik, Iwang tak selamanya melewati jalan yang mulus. Lulus menjadi dokter tahun 1980, Iwang harus mengikuti wajib militer selama empat tahun dan sempat menyandang pangkat letnan satu polisi. Tetapi profesi polisi dilepasnya. Setelah itu, ia mengambil sekolah spesialis penyakit dalam (internist) selama lima tahun dan kembali harus memenuhi ikatan dinas selama satu tahun di Ketapang, Kalimantan. Pulang ke Jakarta tahun 1991 ia bertugas sebagai staf pengajar di Fakultas Kedokteran UI. Ia harus mengambil sekolah lagi selama lima tahun sampai mendapat gelar KKV (cardiovascular consultant).

“Praktis selama 14 tahun saya tidak main musik bersama teman-teman. Tidak ada waktu. Hati saya tergerak lagi ketika melihat Java Jazz latihan tahun 1999 di rumah Gilang Ramadhan. Selain itu, banyak rekan musisi yang berobat kepada saya menyarankan saya untuk kembali lagi main musik. Saya pikir, kenapa tidak? Secara kebetulan Donny Suhendra yang dekat dengan Gilang, meminta saya ikut membantu menangani albumnya. Belakangan saya banyak main bersama Indra Lesmana,” kata pengagum pemain perkusi dunia, Paulinho Da Costa itu.

Musik dan Jantung
Lantas, adakah hubungannya musik dengan jantung manusia? Menurut Iwang ada. Sebagai contoh, setiap orang yang ingin mengenal dirinya harus merenung. Saat itulah ia mendengar rhythm atau irama jantungnya yang sedang marah atau senang. Perkusi juga bisa dimanfaatkan sebagai terapi latihan psychomotor (keseimbangan otak). Musik juga membantu mengeluarkan energi yang tidak sehat.

“Contoh lain, musik yang diolah Yani atau Kitaro bisa dijadikan terapi penyembuhan penyakit tertentu. Seseorang bisa langsung merasakan rileks ketika mendengarkan musik mereka. Untuk ini, pemain perkusi berperan besar karena mereka yang mampu menyuguhkan suara atau musik seperti gemericiknya air, jangkrik dan sebagainya. Suara alam menenangkan hati orang,” kata Iwang, ayah dari tiga orang anak saat ditemui di rumahnya, Pondok Indah.

Iwang mengaku, waktunya banyak tersita untuk mengajar. Hal itu menuntutnya selalu berada di sekitar kampus. Selain itu, ia harus menggali ilmunya terus-menerus. Sedangkan untuk latihan, tak ada masalah baginya. Di mana dan kapan saja ia bisa melakukannya. Saat mengemudi pun ia suka melatih dengan “menabuh” setir mobil. Saat menunggu pasien berobat ia “menabuh” meja praktek. “Tangan ini tidak pernah bisa diam. Menabuh meja terus. Jadi, itu juga termasuk latihan, ‘kan?” katanya. (Oleh: EDDY KOKO)

Sumber : Suara Pembaruan, 25 April 2000