Indra Kembali ke Jazz

By on January 24, 2001

Indra Lesmana main jazz, itu bukan berita. Tetapi kalau Indra Lesmana kembali menekuni jazz, baru berita. Tapi apa betul begitu? “Betul. Itu sudah merupakan komitmen batin. Sekarang saya menyadari sebetulnya saya memang musisi jazz. Apa yang saya lakukan selama ini, menekuni musik pop, betul-betul melenceng,” ungkap Indra Lesmana di rumahnya, kawasan Pamulang, Tangerang.

Ketika berbicara tentang rencananya untuk kembali menekuni jazz, terkesan ada “penyesalan” dalam diri Indra terhadap apa yang telah dilakukannya selama ini. Memang terasa aneh juga ia melenceng dari jazz yang telah dipelajarinya sampai di mancanegara.

“Saya menyadari sekarang. Tetapi saya memetik pelajaran dari semua itu dan saya anggap sebagai perjalanan spiritual. Sebetulnya, saya mulai menyadari apa yang saya lakukan itu melenceng pada tahun 1987. Puncaknya, malam Jakjazz 1998, ketika main bersama Grup Trakebah. Saya merasakan, betapa amburadulnya karier musik saya. Tidak jelas arahnya. Setelah itu saya banyak merenung, berpikir dan mawas diri. Syukurlah hal itu kini sudah berlalu,” ceritera Indra Lesmana.

Terseretnya Indra Lesmana keluar dari “habitatnya” diakui, terjadi begitu ia kembali ke Indonesia dari belajar musik jazz di Australia selama sekitar 4 tahun. Awalnya, seperti juga musisi lainnya, Indra melakukan pencarian (eksploitasi) terhadap musik-musik lama baik itu jazz maupun rock’n roll dan lainnya. Sebetulnya, hal itu wajar-wajar saja dilakukan setiap musisi. Tetapi perkembangannya, pada era tahun delapan puluhan, praktek ini membuatnya terjerumus ke dalam industri, bukan lagi sekedar bermusik. “Banyak musisi yang menjadi korban, termasuk saya yang langsung memberi perhatian total terhadap musik pop,” kata Indra yang memulai debutnya di musik pop dengan album Nostalgia tahun 1982.

Terburu-buru
Indra kini menyadari, keputusannya untuk menggeluti musik pop ketika itu diambil secara terburu-buru. Ia selalu mempunyai komitmen untuk bekerja secara total. Ketika ada tawaran untuk main di musik pop, ia tidak bisa menolak. Susah baginya untuk mengatakan tidak. Dan, begitu ia menyanggupi permintaan, ia langsung bekerja total.

“Semula saya pikir, terjun ke pop hanya akan main musik saja. Kenyataannya, tampil di depan publik tidak bisa dihindari, dan orang melihat apa yang sedang saya lakukan. Maka lahirlah seorang seniman dengan dua wajah. Saya tahu itu, bukan hanya orang lain yang mengecam, saya pribadi juga mengecam diri sendiri. Semua itu terjadi karena seseorang tidak mempunyai bekal spiritual dalam dunia materi. Saya melihat dari sisi gampangnya tanpa memikirkan dampaknya dan saya lakukan semua itu dengan lugu serta naif,” ungkap Indra yang kini terkesan lebih tenang dan arif. “Ya, saya sudah menemukan ketenangan saat ini,” tambahnya.

Ketenangan yang diperoleh Indra tampaknya bukan hanya dalam soal berumah tangga tetapi juga dalam bermusik. Dalam rumah tangga ia mendapat pendamping kembali, setelah rumah tangganya berantakan beberapa tahun lalu. Sedangkan dalam bermusik ia menemukan teman-teman yang sepemikiran, sejalan dan setujuan. Bersama Riza Arsyad, Arief, Aksan, Iwang dan Mates, Indra mendirikan perusahaan rekaman Swara Bumi. Lewat Swara Bumi ini, nantinya, mereka akan mencoba mengolah dan menyuguhkan musik-musik yang dimainkan dengan tingkat kesadaran yang tinggi.

Indra juga sedang tak mempunyai kegiatan dengan kelompok PIG (Pra, Indra, Gilang) yang memainkan musik avant garde atau free jazz. Tidak bisa dipungkiri, bersama PIG Indra seperti mencari sesuatu, meluapkan emosinya yang tidak tertumpahkan di luar koridor musik.

Suatu hari dalam acara Jazz Goes To Campus di Universitas Indonesia (1995), Bubi Chen sempat ‘meledek’ Indra mengenai musik yang dimainkannya. Indra hanya tersenyum. “Saya akui. Saat itu Pra juga sedang menghadapi problem. Gilang yang tidak tahu apa-apa jadi ikutan. Soalnya, saya dan Pra setuju, untuk main musik seperti ini Gilang paling cocok. Ketika ditawari, Gilang mau, ya, jalan. Tetapi sampai sekarang kami belum menemukan apa yang kami inginkan. Ya, kami berhenti dulu,” tutur Indra mengenai musik kelompoknya PIG.

Dua Album Baru
Swara Bumi yang berdiri sejak setahun lalu dan bermarkas di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, telah merilis dua album, yaitu album kelompok Humania berjudul Interaksi dan album Ermy Kulit berjudul Saat Yang Terindah. Dua album ini diakui Indra sebagai sebuah pengalaman pertama bersama rekan-rekannya menggarap musik dengan tingkat kesadaran yang berbeda.

Pada April ini akan diproduksi pula album live duet Indra Lesmana dengan Bubi Chen dengan mengambil tempat pergelaran di Gedung Kesenian Jakarta. Sementara untuk menandai kembalinya ke jazz, Indra membuat album solo berjudul Reborn.

Indra berharap perkembangan musik jazz di Indonesia yang dinilainya masih mandek, bisa dipacu. Ia tak menyetujui pendapat jazz tak ‘komersial’. Pendapat seperti itu bisa muncul karena orang-orang yang terlibat di dalamnya belum memiliki satu rasa yang sama. Kalau sudah ada kesamaan niscaya semuanya akan berjalan dengan lancar.

“Swara Bumi akan berusaha memecahkan tembok-tembok tersebut dengan cara bekerja tidak ngoyo dan percaya dengan seleksi alam. Saya mempunyai harapan, perusahaan ini bisa menjadi seperti perusahaan rekaman Verve atau Blue Note, natinya,” Indra berharap.

Meskipun akan serius pada musik jazz, Indra tetap tidak melupakan musik pop yang pernah memberikan banyak pengalaman dari soal rekaman sampai teknologi rekamannya. Ia tidak membantah mendapatkan materi yang cukup dari musik pop, termasuk mampu mempunyai studio rekaman sendiri.

“Saya tidak pungkiri hal itu. Musik pop sudah memberikan banyak pelajaran hidup dan penghidupan buat saya. Kini saatnya saya kembali ke rumah,” kata Indra Lesmana yang telah memutuskan untuk kembali menekuni jazz. – EDDY KOKO

Sumber : Suara Pembaruan, Senin 7 April 2000