Ikan Itu Bernama Discus

By on August 16, 1999

discusDi tengah krisis yang berkepanjangan, musik Indonesia terus berkibar. Banyak bintang dan kelompok musik baru muncul dan mempertontonkan kebolehannya. Masing-masing hadir dengan warna dan karakter musikal yang berbeda. Salah satu di antaranya adalah Discus, kelompok musik progresif cukup potensial, yang baru saja melahirkan album terbaru mereka: Discus 1st

Discus adalah sedikit di antara kelompok musik di Indonesia yang menjual sesuatu yang tak umum. Kalau saat ini banyak grup musik anyar yang hadir dengan warna alternatif yang kental, Discus justru sebaliknya. Yang ditawarkan kepada publik musik Indonesia adalah sesuatu yang progresif dan dinamis. Komposisi-komposisinya orisinil dengan idiom-idiom progresif.

“Penampilan Discus, yang dipimpin Iwan Hasan, membawa angin segar yang cukup menarik,” ujar Franki Raden, seperti dikutip dalam press release Discus, yang dikirimkan kepada Horizon-line.Com. Menurut Franki, formasi instrumentasi yang dihadirkan oleh Discus, menarik dan harmonisasinya penuh disonan, struktur komposisinya kokoh, idiomnya progresif, dan kadang diselingi oleh keelokan lokal.

Yang menarik dari album ini adalah distribusinya. Album Discus 1st terlebih dahulu beredar di pasaran Eropa, melalui label Mellow Record, Italia. Agaknya kelompok Discus ingin menjangkau pasar yang lebih luas. Pasar Eropa adalah yang pertama diincarnya, kemudian menyusul Indonesia. Menurut Iwan Hasan, seperti dikutip Rakyat Merdeka, Discus melakukan strategi ini karena pihaknya sudah bergaul dengan kalangan musik internasional. Dan, Mellow Record pun menunjukan minat yang besar terhadap karya-karya mereka.

Discus didirikan pada 1996 lalu. Kelompok ini diperkuat oleh Iwan Hasan (gitar 21 strings Harpguitar), Anto Praboe (flute,sax), Eko Partitur (violin), Fadhil Indra (keyboard), Hayunaji (drum), Kiki Caloh (5 string fretless bas), Krisna Prameswara, dan Nonie (vokal). Masing-masing personil memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Kepiawaian mereka dalam memainkan instrumen musik dapat Anda simak pada album perdananya.

Iwan Hasan, sebagai motor kelompok ini, misalnya, bukanlah nama baru di blantika musik Indonesia. Pendidikan formalnya di bidang musik sangat mendukung kualitas permainan harpguitar-nya. Iwan mengenyam pendidikan musik di Willamete University, Salem, Oregon, Amerika Serikat, pada 1988 – 1991. Dia juga pernah mendapatkan penghargaan Outstanding Music Student Award, sebagai mahasiswa terbaik di angkatannya. Iwan tidak sendirian. Dia juga didukung oleh personil lainnya yang nota bene adalah musisi yang telah malang melintang di blantika musik Indonesia, maupun manca negara.

Ada sembilan komposisi yang ditawarkan di album Discus 1st . Di antaranya adalah Lamentation & Fantasia Gamelantronique, For This Love, Doc’s Tune, Dua Cermin, Anugerah, dan Wujudkan!. Yang khusus dari komposisi-komposisi yang ditawarkan oleh Discus adalah resistensinya untuk sejauh mungkin menjaga intensitas infusi pola-pola komposisi yang unik dan inovatif. Hal ini dapat Anda temukan pada sembilan komposisi mereka.

Lalu, jenis musik apa yang coba diusung oleh Discus? “Wah, kami tak ingin terjebak dalam sebuah aliran musik. Anda sendirilah yang bisa memberikan penilaian atas musik kami,” ujar Iwan beberapa waktu lalu. Agaknya Iwan tak ingin terjebak dalam sebuah konsep musik yang ada. Tapi kalau mau dibilang, musik Discus adalah sebuah “pencampuran” dari berbagai elemen musik jazz, rock, klasik, pop, kontemporer, hingga tradisional. Sebaiknya Anda sendirilah yang langsung memberi penilaian. Nah, ingin bukti? (yollismn)