Idealisme di Tengah Langkanya Industri Jazz

By on October 23, 2001

Love is like a never ending melody, Poets have compared it to a symphony, a symphony conducted by the lighting of the moon, but our song of love is slightly out of tune…

JIKA kita mendengarkan tembang bernuansa bossanova, Desafinado yang dibawakan penyanyi jazz Amerika, Eden Atwood dalam album The Girl From Ipanema, kita akan menduga bahwa album tersebut adalah album impor hasil industri jazz barat. Namun kenyataannya, album itu merupakan garapan perusahaan rekaman Indonesia, Sangaji Music.

Sungguh menarik. Di tengah kelangkaan industri jazz Indonesia, dimana rekaman jazz kurang begitu bergairah akhir-akhir ini, ternyata masih ada orang-orang idealis yang berupaya agar industri jazz Indonesia tetap hidup.

Sangaji Music yang berdiri November 1993 semula hanyalah toko retail yang mengkhususkan diri menjual kaset-kaset dan CD jazz. Dari evaluasi hasil retailnya, Sandy T, direktur Sangaji Music, membaca bahwa pasar musik jazz di Indonesia boleh dikatakan lumayan. Hanya sayang, ketika para pecinta jazz itu mencari nomor-nomor jazz yang bermutu, mereka sering kesulitan mendapatkannya.

Berangkat dari hasil riset dan analisisnya itu, Sandy kemudian memberanikan diri untuk membuat album pertama Sepanjang Jalan Kenangan pada tahun 1997. Album yang rekamannya dilakukan di Lions Studio-Singapura tersebut menampilkan penyanyi jazz kawakan Rien Djamain, ada pula Nunung Wardiman, Benny Likumahua dan kawan-kawan.

“Kita bikin variasi dalam album itu. Ada yang bossas, swing, ballad. Latin juga ada. Dari penjualan album pertama itu, sembilan bulan kemudian saya bisa mencapai break even point. Dari sini kepercayaan diri saya semakin bertambah,” papar Sandy yang kemudian memproduksi album Wonderful World yang dimotori Bubi Chen, Benny Likumahua dan Syaharani. Sukses itulah yang memacu Sandy untuk meluncurkan album-album berikutnya, seperti Dedicated to Jazz Lover yang memuat lagu lagu jazz lama: New York New York, Sunny, Take Five, You’d be So Nice to Come Home to, This Masquerade, I Can’t Smile Without You, Nature Boy. Kemudian album Smoke Gets in Your Eyes yang menampilkan Jeremy Monteiro Trio, album solo Syaharani, Grand Piano, Solo Piano Endless Love Jerome Etnom, juga album Come With Me menampilkan Mei Mei & Friends. Yang terbaru The Girl From Ipanema, Eden Atwood.

“Kenapa saya tertarik untuk merekam musik jazz, karena saya ingin menjawab kerinduan para penggemar jazz. Saya merasa sejak berhentinya Jack Lesmana, mungkin masih ada Christ Kaihatu. Setelah itu, di pasaran sudah tidak ada. Paling tidak dengan ini saya bisa menyelamatkan karya musisi jazz kita,” kata Sandy.

BAGAIMANAKAH riwayat rekaman jazz di Tanah Air selama ini? Remy Sylado, pengamat musik jazz menyebutkan, setelah tahun 1950-an, setelah bossanova melintas di Indonesia, rekaman di tahun-tahun itulah yang bisa dihitung sungguh-sungguh sebagai “jazz” Indonesia.

“Sebab kalau yang sebelum tahun 1950-an itu kan, masih orang-orang Belanda yang main, walaupun akhir tahun 1950 masuk ke tahun 1960 band-band yang ada di Bandung dimotori oleh orang dari Filipina antara lain oleh Benny Pablo,” tutur Remy Sylado.

Kalau menyimak “jazz” Indonesia tahun 1950-an, mungkin yang belum dicapai saat ini adalah rekaman yang kuat seperti hebatnya permainan gitarnya Eddy Karamoy. “Kayaknya belum ada yang sesublim dia, termasuk yang sudah dimainkan sekarang baik oleh rekamannya Ireng Maulana ataupun Bubi Chen,” sambung Remy yang mematok masa Eddy Karamoy sebagai awal rekaman “jazz” Indonesia.

“Pada tahun 1970-an, itu ada juga yang sudah memulai yakni Marzyl di Bandung, sementara di Jakarta pada waktu itu belum begitu marak. Setelah tahun 1970-an, baru kita lihat rekaman yang setengah jazz tetapi lebih pada dixie yang digarap oleh Ireng Maulana yang terpasarkan dengan baik dan kemudian mengangkat nama Ermy Kulit. Itulah garis besar yang saya lihat menonjol. Selanjutnya yang ke sini sudah jazz yang fussi,” papar Remy.

Keberadaan Sangaji Music yang merupakan independent label, tentulah sangat diperlukan bagi perkembangan jazz di Tanah Air. “Yang seperti itu yang kita perlukan saat ini untuk ke depan. Jika kita tengok, musik-musik industri cenderung membuat orang ter-fabricated bahwa rekaman itu berarti uang, artis itu harus mewah. Pemikiran Sangaji yang tak cari untung itu bagus karena ternyata ada orang yang tidak terlalu percaya bahwa uang itu menentukan segalanya,” kata Remy.

Dengan adanya yang seperti ini berarti kita melihat gagasan-gagasan untuk mengabdi kepada kesenian, seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain, misalnya Dwiki Darmawan yang setelah menggarap jazz kini asyik ke bentuk etnis yang sama sekali tidak komersial.

Hal-hal seperti itu perlu menjadi khazanah pikiran masyarakat kita yang sudah ter-fabricated terhadap bentuk-bentuk komersial yang dianggap benar. Dengan cara itu tentu akan lahir pemusik-pemusik berwawasan dengan keterampilan yang dapat dibanggakan.

Syaharani, penyanyi jazz yang kini tengah “naik daun”, dan pernah menjalin kerja sama dengan Sangaji Music mengatakan, “Untung ada Sangaji. Kalau modern jazz macam Ermy Kulit, label major mungkin mau merekam. Tapi kalau jazz yang mainstream, kuno, original dalam artian main live, akustik, langsung direkam tanpa editing komputer, Sangaji yang mau melakukannya karena dia independent label,” kata Syaharani.

Mengapa Syaharani mau bekerja sama dengan Sangaji, katanya, karena idealisme Sandy sejalan dengan para musisi jazz di Indonesia. “Kita tumbuh bersama. Saya lihat dia idealis, independent dan tidak ada campur tangan pihak lain. Jadi dia bebas bikin apa yang dia dan musisi jazz maui,” kata Syaharani. (Elok Dyah Messwati)

Sumber : Kompas, 8 Oktober 2000


Leave a Reply

Your email address will not be published.