“Semua Aliran Musik Itu Indah”

By on February 17, 2000

GILANG RAMADHAN, drumer handal itu, senang sekali apabila diajak berdiskusi tentang musik. Semua aliran musik disukainya. Gilang juga tak suka apabila dirinya dikelompokan ke dalam sebuah aliran musik tertentu. “Semua musik itu indah,” ujar Gilang di sela-sela acara syukuran BMG Music Indonesia, Rabu malam (16/2), kepada Horizon-line.Com. Sekalipun, masih menurut Gilang, karya musiknya banyak dipengaruhi oleh jazz. Namun, menurut putra sastrawan Ramadhan K.H ini, musik tradisional, juga turut mempengaruhinya.

Gilang adalah sedikit dari penabuh drum potensial di Indonesia yang tetap eksis di jalurnya. Gaya permainannya khas dan berkarakter. Enerjik. Begitulah yang dikatakan banyak pengamat terhadap pukulan-pukulan drumnya. Berbagai event musik dalam negeri, hingga yang bertaraf internasional pun telah diikutinya. Terakhir adalah festival perkusi internasional, di Bali, yang diadakan menjelang akhir tahun 1999 lalu. Ketika itu, Gilang tampil memukau publik memainkan perkusi dan drum.

Batal ke Afrika
Rencananya untuk manggung bersama kelompoknya pada salah satu festival perkusi internasional, di Afrika, gagal dilaksanakan. Penyebabnya? “Situasi politik di sana, saat ini, kurang menguntungkan,” ujarnya penuh kecewa. Padahal, menurut Gilang, Afrika adalah salah satu negara yang ingin sekali dikunjunginya. “Saya ingin memainkan dan mempelajari alat-alat musik tradisional Afrika,” tambahnya. Padahal, festival tersebut melibatkan sekitar 4.000 pemain perkusi dari berbagai negara di dunia.

Di sela-sela kesibukannya bermusik, Gilang masih menyempatkan diri untuk membagi ilmunya, bermain drum. Di sekolah musik miliknya, IDC (Indonesian Drum Corporation), Gilang — yang dibantu oleh bekas murid-muridnya, mengajarkan instrument drum kepada puluhan siswa yang bergabung di IDC.

Saat ini Gilang sedang mencari agen di manca negara, yang bisa memperkenalkan musiknya. Itulah yang tengah dilakukannya saat ini, di samping bermain musik. Obsesi lainnya adalah berkeliling dunia, dan bermain musik di klab-klab kecil. “Saya ingin bermain musik dan hanya ditonton oleh puluhan orang, yang mengerti dengan musik yang saya mainkan,” ujarnya lagi. Menurutnya, hal tersebut lebih berkesan, ketimbang ditonton oleh ribuan penonton yang tak memiliki apresiasi dengan musik yang dimainkannya. Nah, ada yang ingin mewujudkannya?   (yollismn)