Ekspresi Spiritual Doni Suhendra

By on March 10, 2000

BAGI Doni Suhendra, perjalanan musikalnya sangat sarat dengan muatan spiritualismenya. Komposisi-komposisi di album terbaru — yang dirilis dengan judul “Di Sini Ada Kehidupan” — merupakan ekspresinya dalam melihat sebuah kehidupan. “Kehidupanlah yang membuat karya musik saya semakin matang,” ujar alumni Seni Rupa ITB itu kepada Horizon-line.Com, di sela-sela konsernya, Kamis (9/3).

Konser Doni, yang digelar di Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (9/3), merupakan konser perdana Doni untuk mempromosikan album teranyar miliknya. Pagelaran yang hanya ditonton oleh sekitar 70-an pencinta jazz — kebanyakan kaum muda — terbilang cukup sukses. Chico & Ira Productions bisa disebut promotor pemberani yang mengusung jazz sebagai “dagangannya”. Padahal, promosi untuk konser ini hanya mengandalkan milis-milis musik di internet, dan didukung pula oleh Jakarta News FM.

Doni membuka konser dengan salah satu komposisi bernuansa etnik Sunda, Matahati. Komposisi yang mengalun lambat ini, seolah merupakan pelepasan dari ekspresi batinnya. Sayang, komposisi menarik ini tak didukung oleh sound system yang memadai. Malam itu Doni didukung oleh Aksan Syuman (drum), Adi (bas), Nita (synthezeiser), serta si cantik — yang menjadi perhatian penonton — Fayza (biola).

Beberapa komposisi, yang diangkat dari album terbarunya, lalu menghiasi panggung jazz tersebut. Di antaranya adalah Kano, Pagimu, The Life And Unsaid, Water, dan Perjalanan. Pada komposisi Perjalanan, misalnya, Syaharanie menunjukan kelasnya sebagai salah satu penyanyi jazz berkelas di Tanah Air. Penonton pun tampak tak puas dengan penampilan Syaharanie yang hanya membawakan satu komposisi. “Saya akan melibatkan Syaharanie lagi pada album berikutnya,” ujar Doni menghibur.

Dari keseluruhan komposisi yang ditawarkan Doni malam itu, tampak kematangan mengalir dinamis pada harmonisasi yang diekspresikan. Doni memang telah banyak berkiprah di panggung musik Indonesia. Pernah bergabung dengan kelompok jazz Krakatau, Java Jazz, Adegan, hingga Trakebah. Bersama Trakebah, Doni — dan musisi pendukung lainnya — mencoba menawarkan sentuhan dangdut dengan nuansa yang lain.

Sampai di sini, kita layak mengangkat jempol buat kiprah seorang Chico Hindarto, yang berkibar dengan benderanya: Chico & Ira Productions. Chico, yang telah banyak makan asam garam di industri musik jazz Indonesia, terbilang berani. Beberapa album jazz dari musisi-musisi Tanah Air, telah digarapnya. Di antaranya — di samping album Doni Suhendra — adalah Dewa Bujana, Simak Dialog, Belawan, dan Iwan Hasan.

Hampir semua komposisi yang ditawarkan oleh Doni, di album terbarunya, sudah dipersiapkan sejak lama. Idenya diambil dari kehidupan sekitarnya. Termasuk atmosfir budaya Sunda yang dinamis. Dari pengalaman seputar kehidupan itulah, Doni menghasilkan banyak komposisi jazz.

Simaklah konsep desain dari album Doni. Tampak penumpang sebuah gerbong, dengan latar belakang hitam-putih, terpana dengan keindahan warna-warni kehidupan di luar jendela. “Hidup ini sebenarnya dihiasi dengan warna hitam dan putih,” ujar Doni berfilsafat. Warna-warni yang tampak di hadapan kita, menurut gitaris yang banyak dipengaruhi oleh Pat Metheny, Michael Landau, Jimi Hendrix dan Allan Holdsworth ini, adalah semu. Pemahaman itulah yang agaknya menjadi latar dari albumnya. (yollismn)