Dullah Suweleh Identik dengan Perkusi

By on April 17, 2001

Suatu hari, sekitar tahun 1983, di ruang studio rekaman di kawasan Tebet, Jakarta, Indra Lesmana yang ketika itu masih ‘bocah’ dan sedang menyimak hasil rekamannya nyeletuk, “Kurang Dullah, nih.”

Yang dimaksud Indra Lesmana pastilah perlu sentuhan perkusi pada musik yang sedang diolahnya. Dan, yang dimaksud dengan Dullah tidak lain adalah Dullah Suweleh, salah seorang pemain perkusi senior Indonesia . Lantas, marahkah yang empunya nama karena disamakan dengan alat musik tabuh alias perkusi? “Justru itu yang saya cari. Artinya perjalanan musik saya berhasil, nama Dullah identik dengan musik perkusi,” kata Dullah bangga.

Dullah Suweleh memang seorang pemain perkusi yang handal dan sudah cukup lama malang melintang di dunia musik Indonesia. Wajahnya atau sosoknya yang keturunan Arab itu sangat populer, baik di panggung maupun layar televisi. Dullah tidak hanya mendukung satu grup musik, tetapi sering terlihat tampil bersama grup-grup lainnya. Tujuannya, tidak lain, untuk memberikan sentuhan atau warna lain pada musik yang dimainkan grup tersebut. Namun harus diakui, Dulah lebih banyak main dalam musik jazz.

Berdagang
Sampai sekarang, setidaknya sudah lebih dari empat puluh tahun Dullah Suweleh bermain musik yang mengkhususkan pada alat perkusi, dimulai dari tahun 1960 di Surabaya. Dalam keluarga Suweleh bukan hanya Dullah yang bermain musik. Kakaknya, Awad Suweleh dan adiknya, Karim Suweleh juga memainkan perkusi. Bahkan, sejak sepuluh tahun lalu, putranya, Helmy Suweleh juga sudah mengikuti jejak Dullah menabuh perkusi.

“Ayah saya memang saudagar, tetapi anaknya tidak ada yang dagang. Orangtua juga tidak mengharuskan anak-anaknya ikut jejak mereka. Ketika Awad memulai main perkusi dan saya tertular, ikut juga main, disusul Karim, tidak ada larangan dari orangtua. Ibu saya sangat mendukung anaknya main musik. Tapi sekarang Awad tidak main lagi, cuma mengajar perkusi di Surabaya,” cerita Dullah yang kelahiran Surabaya itu.

Dullah yang kini sudah berusia 55 tahun mengaku, tidak ingat kapan persisnya ia mulai memainkan perkusi. Yang pasti, baik dirinya maupun Karim, dipe-ngaruhi oleh kakaknya, Awad, yang lebih dahulu bermain musik. Awad sempat main bersama tokoh-tokoh jazz Indonesia, baik di Sura-baya maupun Jakarta di Hotel Indonesia. Kebetulan sebagian besar para musisi tersebut berasal dari Surabaya, seperti Maryono, Bubi Chen, Jack Lesmana dan sebagainya. Tetapi tidak lama kemudian Awad kembali ke Surabaya.

Jika dikaitkan dengan perkembangan dunia musik di Indonesia, tampaknya, era ketika Dullah mulai main perkusi tidak lepas dari adanya pengaruh musik latin yang masuk ke Indonesia. Contohnya, Gumarang dan Tabareno yang pada tahun enam puluhan sedang terkenal, mereka mengetengahkan lagu-lagu daerah tetapi iringan musiknya diwarnai sentuhan musik Amerika Latin. Tidak heran kalau kemudian Dullah ikut memainkan musik Latin lewat alat perkusi.

Dari Musik
Tahun 1974 Dullah memberanikan diri masuk Jakarta, setelah ia memutuskan akan tetap main musik sebagai pilihan hidupnya. Ia begitu yakin bisa hidup dari bermusik sampai nekad meninggalkan bangku kuliahnya di tingkat III Fakultas Ekonomi Airlangga tahun 1964. Di Jakarta, Dullah main bersama musisi jazz yang sebelumnya main bersama Awad. Dullah memang menggantikan posisi Awad yang tidak betah tinggal di Jakarta.

Menyadari pilihan hidupnya, sejak itu Dullah pun memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan tentang musik, terutama perkusi. Meskipun kegiatannya banyak terlibat dalam musik jazz, ia terus menimba ilmu dan mengasah keterampilannya tidak hanya dalam musik jazz. Itu sebabnya, wajah Dullah sering terlihat di televisi atau berbagai pergelaran musik.

“Saya tidak hanya ikut main musik jazz tetapi juga ikut grup yang main musik pop, Latin dan sebagainya. Dan, saya juga tidak hanya main perkusi bongo atau conga, sering juga main dram seperti Karim,” kata Dullah.

Pemikiran bahwa dirinya harus bisa ikut memainkan berbagai jenis musik diawali ketika musik jazz mulai meredup di Indonesia. Semula pada tahun enam puluhan musik jazz sedang bersemi di tempat-tempat hiburan, terutama di hotel berbintang. Tetapi setelah era berubah, jazz mulia meredup, kalah pamor karena orang sedang dilanda demam rock ‘n roll. Mau tidak mau Dullah harus banting setir juga, ikut memainkan musik lain agar bisa terus bertahan hidup di Jakarta.

“Saya menyadari profesi yang saya pilih. Tidak cukup dengan modal tekad agar terus bisa hidup dari musik, tetapi juga perlu wawasan yang objektif. Harus terus mempelajari apa yang ber- kaitan dengan musik yang kita pi-lih. Alhamdulillah, saya bisa menghidupi keluarga dan main sampai ke North Sea Jazz Festival di Belan-da, sana. Bahkan tahun 1996, saya main bersama anak saya, Helmy, dalam satu panggung, satu grup mewakili Indonesia di North Sea Jazz Festival,” tutur Dulah senang.

Dullah sangat menguasai musik latin di mana perkusi atau conga yang sering ia mainkan merupakan jantung dari musik tersebut. Dullah mempelajari sejarah dan perkembangan musik-musik Latin, dan berusaha mendapatkan literatur serta album-albumnya yang tidak masuk ke Indonesia dengan berbagai macam cara.

Musik Latin mengalami booming bersamaan dengan hadirnya Ricky Martin. Hal itu menjadi berkah bagi Dullah, termasuk putranya. Ia banyak mendapat tawaran main sebagai bintang tamu di sejumlah pergelaran. Helmy pun sempat ngendon di Hong Kong dan Singapura masing-masing selama dua bulan hanya untuk main perkusi belum lama ini.

Dunia musik tak mengenal istilah pensiun. Dullah pun demikian. Justru makin tua, makin banyak tawaran yang didapatnya. Ia tidak sungkan-sungkan terlihat bersama musisi yang usianya jauh beda dengannya, termasuk Helmy. Ia juga tidak memilih grup atau musisi yang mengajaknya main sudah terkenal atau belum.

Dengan sedikit waktu tersisa, Dullah masih menyempatkan memberi kursus kepada empat orang remaja yang berniat memainkan perkusi. Dullah mengakui, tidak banyak remaja suka memainkan atau menekuni perkusi dibandingkan piano, gitar dan lainnya.

Dullah sulit menjawab kenapa begitu. “Soalnya kalau dibilang khawatir, lewat perkusi sulit cari makan, buktinya saya hidup. Kekhawatiran itu sebetulnya tidak perlu. Perkusi bisa masuk ke semua jenis irama, kok. Yang penting profesional, mencintai pekerjaannya dan terus meningkatkan kemampuannya,” Dullah berpesan.

Keinginan Dullah, suatu hari ia bisa main lagi bersama Awad, Karim dan anaknya, Helmy dalam satu panggung pergelaran musik. Ia tahu Awad sudah enggan untuk bermain. “Tapi Awad masih meng-ajar, berarti masih main perkusi,” katanya.  (Eddy Koko)

Sumber: Harian Suara Pembaruan, 17 Maret 2000