Dian PP: Di antara Musik Jazz dan Pop

By on June 12, 2000

Lama menghilang, tiba- tiba Dian Pramana Putra (36 tahun) hadir dengan album berjudul Terbaik dan menawarkan sebuah lagu baru Demi Cinta. Kali ini Dian tidak tampil bersama Deddy Dhukun, seperti sebelumnya, meskipun beberapa lagu dalam album ini terdapat karya mereka berdua. Menjadi pertanyaan, memang, menghilangnya Dian dari blantika musik Indonesia. Kemana?

“Sebetulnya, saya tidak meninggalkan dunia musik. Saya tetap membuat lagu, antara lain untuk Memes, Rita Effendi, Dewi Gita dan lainya. Saya tetap mengikuti perkembangan musik Indonesia. Saya hanya sadar, saya sudah tua. Akankah diterima lagi seperti dahulu di masyarakat? Banyak musisi muda sekarang tampil tidak kalah bagus,” kata Dian tentang ketidakhadirannya selama ini.

Menurut Dian, dirinya sekarang tampil kembali lewat album Terbaik didorongan oleh keluarga dan rekan-rekannya seperti Seno M Hardjo dari Target Production. Semula Dian merasa lebih asyik dengan pertapaannya, hanya membuat lagu-lagu untuk penyanyi lain. Diakuinya, ada rasa kurang juga jika tidak menyanyikan karyanya sendiri.

Sekitar tahun delapan puluhan nama Dian Pramana Putra dan Deddy Dhukun sangat terkenal. Perpaduan karya mereka berdua cukup bagus dan enak didengar. Tidak heran, remaja ketika itu sangat mengenal dua nama tersebut. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, keduanya tak bersama lagi. Kenapa? “Saya tidak mau jawab. Tetapi saya mempunyai rasa kecewa. Itu saja,” jawab Dian yang mengaku dahulu sangat akrab dengan Deddy sampai ke mana saja selalu berdua.

Sentimentil bila mengamati karya-karya Dian dari dahulu sampai sekarang. Muncul kesan, ia sosok yang sentimentil dan melankolis. Lagu-lagunya, meskipun tidak bisa dibilang mendayu-dayu, sangat disukai kaum wanita, remaja atau mereka yang sedang jatuh cinta. Selain itu, ada kelebihan dalam karya-karyanya, yaitu tidak hanya dalam satu warna tetapi sangat beragam. Lagu Dian memiliki warna pop, jazz, rock sampai bossa nova dan samba. Perpaduan berbagai jenis musik itu membuat karya-karyanya disukai pasar.

Kekayaan warna musik ciptaannya bersumber dari pengalaman menikmati musik di lingkungan keluarganya. Kedua orangtuanya yang menyukai musik selalu memutarkan lagu-lagu dari penyanyi dan musisi legendaris. Sejak kecil Dian sudah terbiasa menyantap lagu-lagu yang disuguhkan penyanyi besar, seperti Nat King Cole, Ella Fitzgerald, Sarah Vaughan sampai permainan musik dari Count Basie, Duke Ellington dan sebagainya. Praktis Dian banyak mendapat pengaruh jazz, dan itulah yang menjadi akar musiknya.

“Merekalah musisi dan penyanyi legendaris yang mempengaruhi saya. Saya anggap mereka sebagai orang-orang yang sangat jenius dalam berseni. Karya mereka mampu merobek jantung pendengarnya. Ada nada-nada dalam lagu mereka, seperti pada reff-nya, yang mampu membuat dada kita seakan robek. Ini yang belum bisa saya lakukan. Suatu hari, saya harus bisa menciptakan lagu seperti itu, lagu yang abadi. Itu obsesi saya,” kata Dian.

Album Terbaik yang kini sudah terjual sampai 40 ribu kopi, dalam tempo tiga bulan, layak dikatakan sebagai album yang menggambarkan perjalanan Dian dalam berkarya. Hanya lagu Demi Cinta yang baru dalam album ini. Lainnya lagu-lagu lama yang pernah populer pada tahun 80-an. Album ini bisa dijadikan perbandingan atau pengamatan terhadap Dian dan karya-karyanya.

Dari 12 lagu dalam album ini Dian memasukkan tiga lagu yang dibuatnya bersama Deddy Dhukun. Selebihnya, karyanya sendiri dan hasil kolaborasinya dengan Dodo Zakaria, Jockie Surjoprajogo, Bagoes AA dan Tatoet. Salah satu lagu ciptaannya yang menarik adalah Melati di Atas Bukit. Lagu yang enak dinikmati ini digarap dalam warna bossa nova.

Kekhawatiran Dian ia akan kalah bersaing dengan musisi muda, sebenarnya tidak cukup beralasan. Buktinya, banyak ciptaannya dilantunkan oleh penyanyi-penyanyi besar seperti Vina Panduwinata, Januari Kristy dan Dewi Gita.

Kekhawatiran itu juga tak berarti dia kurang percaya diri atau takut bersaing. “Bukan begitu melihatnya. Saya tidak muda lagi, tidak seperti dulu, tidak energik lagi. Artinya, untuk kesana-kemari, apa saya masih sanggup. Padahal itu harus dilakukan kalau sudah terjun ke gelanggang,” kilahnya.

Dian Pramana Putra sungguh beruntung. Ia dilahirkan dalam keluarga yang menyukai musik sehingga tidak ada hambatan dalam menekuni hobi atau kariernya. Bahkan, pada awalnya, ibunya sendiri, Sumiati, yang mengajarkannya notasi musik. Ia tidak pernah mengikuti pendidikan musik secara formal, kecuali lebih banyak belajar dari mendengar dan bereksperimen. Meskipun banyak membuat lagu-lagu pop, sebetulnya Dian adalah peminat jazz sejati. Buktinya, ia banyak mendengar dan menyerap musik dari Joe Pass, Jim Hall dan Pat Matheny. (Oleh: Eddy Koko)

Sumber: Suara Pembaruan, 5 Juni 2000