Denting Piano Nick Mamahit

By on January 24, 2001

SETIAP kali kita membuka literatur jazz Indonesia, akan kita temui nama Nick Mamahit (77). Namun, tak banyak artikel tentangnya. Ia memang jarang tampil di hadapan publik yang luas. Album rekamannya tidak banyak. Akan tetapi, pengunjung Club Room Hotel Mandarin, Jakarta, tahun 1980-1990-an akan selalu kangen denting pianonya.

Rasa kangen itu terpupus ketika Jumat (22/9) malam lalu, di rumah Pia Alisjabana di bilangan Pejaten Barat, Jakarta Selatan, Nick Mamahit unjuk kebolehan. Tampil berkemeja batik, dengan jemari yang dibalut sarung tangan warna biru (karena pernah terserang stroke 2,5 tahun lalu), permainan pianis ini tetap memukau.

Yang membedakan Nick Mamahit dengan rekan-rekan seangkatannya sesama musisi adalah ia beruntung pernah mengenyam bangku pendidikan formal di Amsterdam Music Conservatory. Sementara itu, sebagian besar rekannya berkembang secara otodidak.

Hal lain yang membuatnya berbeda adalah kegemarannya mengoleksi buku tentang musik, entah buku-buku musik klasik ataupun jazz. Bahkan banyak bukunya yang tua yang berbahasa Belanda. Sayang, sebagian bukunya habis dimakan rayap, hancur karena udara lembab, dan tak terurus ketika ia terserang stroke.

Untuk menyelamatkan sekitar 400 judul buku yang tersisa, Jumat malam lalu itu digelar acara semacam “malam pengumpulan dana”. Dana yang terkumpul, menurut Debra Yatim dari lembaga penggiat seni Komseni, akan dipergunakan untuk merenovasi, mengkatalogkan buku-buku Nick Mamahit sehingga koleksi buku-bukunya kelak dapat diakses dan dinikmati musisi Indonesia generasi mendatang.

Pianis berdarah Manado ini membuka penampilannya dengan satu nomor dari tanah Kawanua, Oh Ina Ni Keke. Jemarinya masih lincah memencet tuts-tuts piano. Lagu-lagu lama seperti Rindu, Aryati, As Time Goes By, atau pun The Nearest of You disajikannya untuk meretas kerinduan penggemarnya.

Nick Mamahit tak tampil sendiri. Selain dia, juga tampil musisi jazz kita yang telah berkelana 26 tahun di Eropa, Tjut Nyak Deviana Daudsjah. Pianis muda Irza Destiwi yang pernah mengikuti Work Shop Jazz yang digelar Komseni beberapa waktu lalu juga turut ambil bagian. Inilah malam penghaturan untuk masa depan. Tidak saja dalam urusan penghibahan buku, tetapi juga dalam urusan melepas tongkat estafet kepada musisi sekarang. ***

NICOLAAS Maxmiliaan Mamahit yang dilahirkan di Jakarta, 30 Maret 1923, mulai belajar piano saat ia berumur sembilan tahun. Kala itu kakinya belum bisa menginjak pedal piano. Lewat ayahnya, Lodewijk Maurits, Nick mengenal piano. Nick kecil suka mencuri dengar ketika ayahnya tengah berlatih piano dan berlatih sendiri walau ketika itu ia belum bisa membaca notasi.

Bakatnya yang besar mulai terlihat dan Nick lebih serius bermain piano. Setelah menikah dengan Louise Henriette, pada tahun 1948 Nick berangkat ke Belanda untuk memperdalam musik. Istri tercintanya meninggal dunia pada tahun 1987.

Memasuki tahun 1950-an, Nick dipandang sebagai salah satu pianis terbaik di Indonesia. Ia membentuk trio bersama Dick Abel dan Van der Cappellen bernama “The Progressives”. Meskipun sempat direkam oleh perusahaan rekaman Irama, namun musik mereka dipandang terlalu “maju” untuk zamannya. Karya-karya yang menonjol dalam rekaman itu antara lain, Rindu, Tanam Djagung, dan Tjemas.

Meskipun menarik perhatian penikmat musik bermutu, rekaman ini kurang lancar di pasaran. Trio itu bubar. Nick kemudian membentuk trio baru bersama Jim Espehana dan Bart Risakotta bernama “Irama Spesial”. Rekaman yang mereka buat lebih bersahaja dan ternyata laris di pasar.

Tahun 1953, ia membuat rekaman lagu berjudul Senyum bersama Sam Saimun dan Bing Slamet. Trio tersebut kemudian masih membuat rekaman, salah satunya adalah Sarinande pada tahun 1956.

Sebagai musisi, Nick tetap aktif sampai masa tua. Nick memang lebih sering tampil di hotel. Terakhir, tercatat lima belas tahun ia bermain secara reguler di Hotel Mandarin. Ia baru berhenti bermain musik empat tahun lalu.

Meski sudah jarang tampil, ia tetap berlatih setiap hari.

“Saya harus tetap melatih finger yang mulai kaku karena stroke. Dua jam latihan saya sudah capek,” kata Nick. Dari pernikahannya dengan Louise Hendriette, Nick dikarunia empat orang anak. Salah seorang putrinya mengikuti jejaknya bermusik di Australia dan merupakan penyanyi-gitaris folk pertama di Indonesia sebelum jenis musik ini mewabah pada tahun 1970-an.

BAGAIMANA pandangan Nick Mamahit mengenai perkembangan jazz di Indonesia? Menurutnya, jazz belum memasyarakat. Orang-orang Indonesia belum dapat menerima lagu yang diolah secara modern.

“Jazz belum akrab di sini lantaran kita enggak ada jazz di sini. Kita memulai musik di sini dengan keroncong. Basic dari accord yang diperlukan oleh melodi itu hanya 1, 4, 5, simple sekali. Setelah keroncong, mulailah langgam. Teorinya sama dengan keroncong, cuma lebih modern, lebih pop. Ketika Jepang datang, sama sekali tidak ada apa-apa. Setelah perang Jepang, muncul musik rock. Sekarang dangdut yang dikenal sebagai musik ketiga,” kata Nick.

Nick prihatin karena hingga kini belum banyak muncul nama-nama baru. Katanya, “Sebenarnya ada harapan untuk jazz Indonesia. Bubi Chen, Ireng Maulana, itu nama-nama lama. Idealnya ada sekolah khusus. Apa yang harus dilakukan oleh musisi jazz kita? Mereka mesti dilihat secara keseluruhan, karena kita tidak bisa mendengar satu orang bermain. Kalau kita ambil buku musik klasik, di lembar pertama kita akan lihat nama para komposer. Kalau buku jazz terbalik. Di lembar pertama adalah judul lagu, di lembar berikutnya nama-nama para musisi yang memainkan lagu tersebut.”

“Kita mesti belajar itu semua. Itu yang sebetulnya harus dilakukan oleh beberapa musisi kita. Tidak usah lewat festival, lewat rekaman sudah cukup. Dengan begitu kita bisa membandingkan kemampuan orang, dan dia sendiri juga bisa berkembang,” katanya.

Nick pun memberikan acungan jempol kepada Indra Lesmana yang muncul sebagai dirinya sendiri. “Tetapi, apa dia bisa sampai ke sana? Kalau kita mau menghasilkan musik yang bagus, itu harus dimainkan dan ditulis. Orang itu harus master dan menguasai instrumennya. Di sekolah, berapa lama kita hanya belajar tangga nada dengan tone, bukan suara. Tone itu dibuat oleh jari, bukan tangan. Dengan tone itu, tanpa harus melihat, orang akan tahu siapa yang sedang main,” ujar Nick yang juga memuji permainan Ananda Sukarlan. Soal tone, kata Nick, ini yang paling susah didapatkan. Ketika di Belanda ia banyak menghabiskan waktunya untuk memencet-mencet tuts piano hingga mendapatkan tone.

“Sekarang ini tone saya sudah hilang karena sakit itu. Menghadapi kenyataan ini, apa yang bisa saya lakukan? Saya masih hidup ini adalah suatu anugerah. Tetapi, kalau sudah tidak bisa main lagi, ya, sudah,” ucapnya pasrah.

TENTANG permainan Nick Mamahit, Tjut Nyak Deviana Daudsjah dan Pia Alisjabana memuji penampilannya. “Hebat! Meski ada hambatan dari tangannya, tetapi saya masih mendengar apa yang Om Nick ingin main. Ide-idenya masih saya dengar. Tone Om Nick menurut saya belum hilang,” kata Devi. Pia Alisjabana yang telah mengenal Nick Mamahit sejak tahun 1960-an mengatakan bahwa permainan Nick Jumat pekan lalu tidak berbeda dengan penampilannya dulu. Tetap bersih dan elegan. “Buat saya dia adalah pianis jazz terbaik,” ucap Pia. (Elok Dyah Messwati)

Sumber : KOMPAS, 26 September 2000