Dave Koz dan Romantisme Oriental

By on February 22, 2000

KOMPOSISI Cheng Fu (Conquered) mengalun lembut siang itu di Mal Taman Anggrek, Jakarta. Ratusan pasang mata — terutama anak muda — tampak kagum dengan gaya Dave Koz, memainkan komposisi oriental, yang diambil dari album terbarunya:The Dance”. Dave tak sedang memainkan komposisi jazz standar yang rumit. Dia juga tak sedang menawarkan sesuatu yang asing di telinga publik. Yang coba dia tawarkan adalah komposisi yang mudah dicerna. Maka, sambutan pengunjung Mal Taman Anggrek, Senin (21/2), tampak begitu antusias.

Promo tur album terbaru Dave Koz, yang diberi judul The Dance, agaknya mendapatkan sambutan yang luar biasa dari publik musik Asia. Setelah sukses melewati beberapa kota di Asia, Dave kini menginjak Jakarta. Sambutannya lumayan bagus. Berbagai upaya mempromosikan album tersebut dilakukan. Salah satunya adalah dengan melakukan aksi live di Mal. Hasil penjualan The Dance? “Lumayan. Hanya dalam beberapa minggu saja, album The Dance telah terjual sekitar 2.000-an keping,” ujar Chaerunisa, Promotions Executive, EMI Indonesia kepada Horizon-line.Com.

Dave tak mau mengkategorikan musiknya ke dalam salah satu aliran musik, termasuk jazz. Padahal, kalau kita amati, komposisi-komposisi Dave banyak didukung oleh musisi-musisi jazz dunia. Lalu, apa jenis musik yang paling pas untuk komposisi Dave Koz? “Contemporary Instrumental Music,” ujar Dave menjawab pertanyaan Horizon-line.Com. Menurutnya, ia tak ingin terjebak dalam sebuah lingkaran yang diciptakannya sendiri. Dan, dengan begitu, komposisinya akan disukai banyak orang.

Dalam album The Dance, misalnya, Dave cenderung menghadirkan romantisme yang membawa nafas Asia. Komposisi Cheng Fu (Conquered), seperti yang terdapat pada album versi Asia, adalah contohnya. Pada komposisi tersebut, romantisme oriental coba ditawarkan oleh Dave. “Saya suka dengan harmonisasi komposisi itu,” ujarnya.

Di samping melakukan promosi secara live, Dave Dave juga melirik jaringan internet sebagai media promosi alternatif. Situs Dave, www.davekoz.com, adalah contohnya. Melalui situs tersebut, Dave memberikan sajian informasi yang cukup lengkap. Bahkan, penggemarnya juga bisa membeli koleksi terbarunya secara online. Lalu, apa arti internet bagi Dave? “Internet dapat memberikan nilai tambah yang sangat besar. Melalui internet saya dapat berkomunikasi dengan jutaan penggemar saya secara langsung,” tambahnya.

Aktivitas promosi juga dilakukannya melalui The Dave Koz Radio Show. Sebuah program acara yang diasuh sendiri oleh Dave, dan tersebar secara global di beberapa negara, termasuk Indonesia. Gaya siarannya cukup menarik. Beragam informasi aktual seputar dirinya, dan dunia smooth jazz disampaikan secara rutin setiap minggu.

Satu hal yang patut dicatat adalah: Dave adalah juga seorang pemasar yang cukup handal. Kepiawaiannya membuka jaringan global, dengan mengawinkan konsep pemasaran konvensional dan teknologi cyberspace adalah upaya yang belum dilakukan oleh banyak musisi-musisi kita. Selamat untuk Dave Koz. Dan, khusus untuk musisi-musisi Indonesia, kapan memulainya? (yollismn)