Cerita Fusion Dimas Soeryoputro

By on October 29, 2005

Everything in this world
Has their stories
Mankind, plants, animals
And even mountain, rocks,soil,
Anda small things such as dust

Prologue di atas adalah pembuka cerita yang coba digambarkan oleh Dimas Soeryoputro, gitaris kelompok co-P (Contemporary-Parts), yang kini merilis album perdananya, Night of the Southern Star, pada bulan Oktober 2005. Dimas memang menawarkan “cerita” yang cukup menarik di album ini.

Dimas bercerita banyak hal tentang jazz kontemporer, smooth jazz, dan fusion di album ini. Dasarnya adalah sebuah konsep cerita tentang kehidupan di Bumi pada masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Juga tentang misteri tak terpecahkan dalam kehidupan manusia.

Dari delapan komposisi yang ditawarkan Dimas di album ini, komposisi Night of the Southern Star cukup menarik untuk disimak. Tak salah, jika Dimas menjadikan komposisi ini sebagai pembuka, yang langsung mengantarkan penikmatnya memasuki nuansa magis Mesir. Ya, Dimas memang menghadirkan tema Piramid sebagai konsep cover albumnya.

Komposisi-komposi yang “diceritakan” Dimas di album ini mengusung tema jazz yang smooth dan mudah dicerna. Dimas memang tak ingin menawarkan cerita yang berat dan membuat pendengarnya mengernyitkan kening. Komposisi Secrets of Wonder, misalnya, cukup enak untuk dinikmati, di samping komposisi lainnya seperti Desert Groove dan The Vanishing Star, yang merupakan penutup cerita Dimas.

dimasPada komposisi The Wonderer, misalnya, pemilihan Jacky sebagai vokalis cukup tepat. Karakter vokal Jacky ikut memperkuat komposisi tersebut. Vokalis jazz yang banyak beredar di berbagai panggung jazz Tanah Air itu, menjadi daya tarik dari komposisi ini.

Night of the Southern Star, yang didominasi permainan nylon strings guitar Dimas Soeryoputro ini, didukung oleh sejumlah musisi seperti Taufan Siswadi (drum), Mikha/Adenanda/Indrawan/Jeffry Hermanto/Aditya (bas), Alfin Lubis/Joy/Faizal/Yessy Kristianto (piano/rhodes), Jimmy Tobing/Edo (Sax), Jacky (vokal), dan Dave Fritz (tabla).

Tentang Dimas Soeryoputro
Dimas Soeryoputro mulai menunjukan talenta musiknya pada 1996. Ketika itu, Dimas kecil mulai tampil di sekolah dan gereja, untuk mengisi sejumlah konser musik. Bakat musiknya menurun dari kakeknya, Narcisco Sambajon (Ciso), pemimpin kelompok jazz asal Filipina, yang pernah tampil di sebuah festival jazz di Batavia, pada 1934.

Selanjutnya, di usia 5 tahun, Dimas mulai menunjukan bakatnya di bidang musik, dan meminta kepada ayahnya untuk belajar piano di Yamaha Music School (YMI). Belakangan, Dimas lebih memilih gitar sebagai instrumen favoritnya. Hal itu terjadi ketika Dimas melihat sebuah gitar ketika sedang berlibur bersama keluarganya. (ymn)