Blues dari Tanah Priangan

By on April 17, 2001

Delapan tahun menanti, akhirnya ada juga produser yang mau merekam blues berjudul Indie Blues dari sejumlah kelompok pemusik blues asal Bandung, yaitu Time Bomb Blues, Micko &  Jammin’, Hendra Zahal & The Cozambiez, Harry Pochank &  Blues Jam dan Winter. Kiboud Maulana, pemusik blues senior asal Jakarta, ikut meramaikan isi album itu.

Para musisi itu cukup setia dengan musik yang digeluti, meskipun mereka harus menunggu selama delapan tahun untuk mendapatkan kesempatan masuk dapur rekaman. Tak ada satu produser pun yang bersedia memproduksi album mereka. “Kami tidak kecewa. Tidak ada kata putus asa. Kami main musik blues karena menyukainya,” kata Mikco, vokalis dari Micko & Jammin’ saat peluncuran album Indie Blues di Jakarta, pekan lalu.

Menurut Micko, Bandung gudangnya pemusik blues. Tetapi tidak semuanya mampu bertahan. Godaan dunia pop lebih besar. Akibatnya, banyak pemusik yang kemudian ‘terpaksa’ meninggalkan blues. Sementara itu, mereka yang tetap tidak ingin melepas blues membentuk kelompok diskusi. Tidak hanya itu. Mereka juga berusaha tampil di berbagai hotel dan kafe. Akhirnya, datang juga seorang produser, Triputra Yusni dari rumah produksi Waipee Station. Ia menawarkan mereka untuk rekaman.

Bisa dikatakan album Indie Blues merupakan proyek idealis. Kenapa? Musik blues (juga jazz dan klasik) tak begitu laku di Indonesia. “Tetapi kita harus yakin tahun 2000 ini musik blues akan lebih baik. Jadikan Indie Blues sebagai tonggak kebangkitan musik blues Indonesia. Kenapa tidak?” kata Kiboud Maluana menanggapi keraguan banyak pihak akan pasar musik blues di Indonesia. Tetapi para pemusik dalam album itu enggan menyebut album mereka sebagai proyek idealis.

“Saya tidak berani mengatakan proyek ini idealis. Kami melakukan rekaman dengan serius. Kalau hal itu dijadikan ukuran idealis, rasanya, masih kurang kuat. Kami juga menginginkan album ini laku, menginginkan mendapatkan uang. Jadi saya tidak berani mengatakan ini sebuah proyek idealis,” kata Micko.

Kiboud Maulana justru menilai sebaliknya. Album Indie Blues jelas merupakan proyek idealis. Alasan Kiboud masuk akal. “Mana ada anak muda mau membuat sebuah karya yang jelas-jelas karya tersebut jauh dari laku. Jangankan anak muda, yang senior saja tidak berani. Kalau kemudian ada yang tetap berani melakukan hal itu, membuat album dalam bentuk kaset dan CD serta melemparkan ke pasaran, apa itu bukan tindakan ‘gila’? Hanya orang ‘gila’ yang berani membuat proyek seperti Indie Blues. Semua itu pasti dilandasi rasa idealis. Mereka tahu, paling-paling albumnya hanya terjual beberapa ribu kopi. Yang begini harus kita dukung,” kata Kiboud penuh semangat.

Sebagai sebuah album musik blues, materi Indie Blues secara keseluruhan tidak buruk. Apalagi ini merupakan album kompilasi dari enam kelompok band yang sudah malang-melintang di dunia blues di Bandung. Masing-masing kelompok memberikan karya terbaik untuk album ini.

Tidak Buruk
Secara materi, kemampuan para pemusik yang main dalam album ini cukup bagus. Penjiwaan terhadap setiap lagu sungguh kuat. Mereka tidak terkesan sekadar ngeblues. Gitar, piano sampai harmonika yang dimainkan mampu menghadirkan warna blues yang kental. Mereka juga memasukkan unsur pop, namun hal itu tidak sampai melunturkan musik bluesnya. “Kami sengaja memasukkan sedikit warna pop untuk menyiasati pasar,” ungkap Micko.

Meskipun setia pada musik blues, para musisi dalam Indie Blues tetap ‘cari makan’ dari musik di luar blues. Ada yang menjadi pengarah musik, membantu rekaman grup lain untuk musik pop dan sebagainya. Blues belum bisa sepenuhnya dijadikan sumber mata pencaharian.

Triputra Yusni bersedia memproduksi album blues itu karena sangat menyukai musik itu. “Saya memang penggemar blues. Saya melihat banyak musisi blues dari Bandung yang cukup potensial. Salah satunya Time Bomb Blues. Saya pikir, sayang kalau tidak didokumentasi atau diwujudkan dalam bentuk album rekaman. Saya akan berusaha lewat Indie Blues menampung karya pemusik blues di nusantara dan mewujudkannya dalam bentuk album,” kata Triputra (Oleh: Eddy Koko)

Sumber: Harian Suara Pembaruan 3 Agustus 2000