Bisnis Rekaman Musik Jazz, Berjalan Karena Kecintaan

By on November 10, 1997

MENYEDIHKAN! Di tengah ajang pesta musik jazz, ketika banyak orang yang belum tentu adalah penggemar jenis musik ini datang ke Jakjazz ’97, ternyata tak satu pun kios penjual kaset jazz bisa ditemukan di sekitar arena. Padahal, Jakjazz sesungguhnya bisa menjadi ajang untuk menarik lebih banyak lagi penggemar musik masuk ke musik jazz.

Pemandangan seperti ini jelas berbeda sekali dengan di berbagai festival jazz internasional lainnya. Di North Sea Jazz Festival yang sudah ternama itu, lantai bawah kompleks arena pertunjukan bahkan disediakan untuk para penjual kaset jazz. Tak kurang daripada 10 “kios” penjual kaset bisa ditemukan di sana, masing-masing bertanding dalam hal kelengkapan koleksi kaset/CD para pemusik jazz. Tempat ini pulalah yang menjadi tempat kunjungan “kedua” setelah para penonton menyaksikan penampilan seorang artis. Dari situlah hubungan lebih erat antara si artis dengan si pendengar akan terjalin.

Tiadanya “kios” kaset di arena Jakjazz sesungguhnya sudah terjadi bertahun-tahun sepanjang penyelenggaraan Jakjazz. Jika tahun ini pun masih begitu, itu salah satu petunjuk belum adanya perbaikan.

Dahulu, hal yang sering menjadi alasan adalah karena ketiadaan produk rekaman musik jazz. Yang dimaksud tentu saja produk rekaman pemusik jazz lokal, karena produk rekaman pemusik jazz internasional tidak pernah mengenal kata surut. Kalau sekarang hal itu masih dijadikan alasan, rasanya tidak mengena. Dalam setahun ke belakang ini, para pemusik jazz lokal mulai rajin mengeluarkan produk rekaman. Rekaman pianis andal Bubi Chen, misalnya, kini sudah bisa dikoleksi lebih daripada lima buah. Setelah mengeluarkan album Virtuoso yang berbobot, perusahaan rekaman PT Suryanada Record mengeluarkan koleksi album Bubi memainkan lagu-lagu yang lebih ringan dalam paket Nice n’Easy.

“Tidak mudah menjual rekaman jazz sekarang ini,” kata Lodhy Surya, salah seorang pimpinan di Suryanada Record. Dia menggambarkan, kaset Bubi Chen Virtuoso terjual hanya 5.000 buah, sementara kaset kelompok Simak Dialog bertajuk Lukisan terjual hanya 2.000 buah. Kaset jazz Barat bahkan ada yang terjual di bawah 1.000 buah, misalnya kaset Oscar Peterson. Meskipun demikian, kaset Michael Frank bisa terjual hingga puluhan ribu.

Kalau bukan karena kecintaan yang begitu mendalam terhadap musik jazz, Lodhy mengungkapkan, dia tidak akan mau terus mengeluarkan rekaman kaset jazz.

Hal yang sama juga disampaikan Chico Hindarto, produser independen yang memproduksi album solo gitaris Dewa Bujana. Album berjudul Nusa Damai yang diproduksi hanya dalam bentuk CD tersebut dibuat sebanyak 1.000 buah. Sejak tiga bulan lalu dijual di pasar, hingga kini terjual 400 buah.

“Lumayanlah. Untuk penjualan CD angka itu sudah cu-kup baik. Tadinya saya memperkirakan dalam satu tahun baru bisa menjual 500 CD,” kata Chico yang juga pembawa program musik jazz tetap di radio ARH Jakarta.

***

USAHA untuk menerbitkan rekaman yang berbau jazz juga dilakukan Aquarius Musikindo, yang belakangan ini sedang sukses dengan rekaman grup Dewa 19 dan grup Potret. Beberapa waktu yang lalu perusahaan rekaman ini juga sempat menerbitkan rekaman grup Singiku dengan lagu-lagunya yang jazzy.

“Tentu saja hasil penjualan Singiku bukan bandingan Dewa 19 atau Potret. Tapi saya pribadi senang dengan musik grup ini dan mereka ternyata sangat berhasil di panggung,” kata Suwardi Wijaya dari bagian pemasaran Aquarius Musikindo.

Kalau Dewa 19 bisa terjual hingga 500.000 kaset, sementara Potret 100.000 kaset, Singiku hanya puluhan ribu saja. Menurut Suwardi Wijaya, bukan hanya rekaman penyanyi dan grup musik Indonesia yang begitu lemah di pasar dibanding rekaman lagu pop, rekaman penyanyi asing juga tidak berbeda jauh.

“Secara umum hasil penjualan rekaman jazz sekarang ini tidak besar. Kecuali nama-nama tertentu,” tambah Suwardi, sambil memberi contoh bahwa CD rekaman permainan gitar jazznya Dewa Bujana yang diedarkannya cukup mendapat perhatian dan dalam waktu singkat terjual 400 buah.

Hal tersebut senada dengan pernyataan Ripah Dewanti, asisten label-manager BMG. Perusahaan rekaman BMG mengedarkan produksi GRP, perekam yang khusus hanya mengerjakan musik jazz.

“Untuk penyanyi seperti Phil Perry atau George Benson memang bisa terjual sampai puluhan ribu kaset dalam jangka waktu yang panjang. Dalam peredaran pertama, biasanya kami lemparkan ke pasar 5000 kaset. Tapi ada juga yang untuk pertama kami edarkan hanya 1000 kaset saja,” ujar Ripah.

Salah satu grup baru yang se-dang dipromosikannya adalah Total Touch, yang kebetulan akan tampil di Jakjazz tanggal 8 dan 9 November. Tapi Ripah belum bisa memastikan apakah musik R ‘n B yang dimainkan grup itu bisa menarik pembeli kaset.

Perusahaan rekaman Granada yang pada tahun 70 dan 80 menjadi salah satu perekam lagu jazz yang cukup disegani, sekarang nyaris menghentikan produksi lagu-lagu jazz yang baru. Tersiksa lagi yang mengorbitkan nama Utha Likumahuwa awal tahun 80-an, serta serangkaian rekaman Ermy Kullit, Ireng Maulana dan yang lainnya berasal dari Granada Records.

“Tidak mudah memproduksi sebuah rekaman lagu jazz yang bisa laku di pasar. Jika penyanyi sudah punya nama, honornya puluhan juta. Kalau penyanyi-nya pendatang baru, biaya promosinya juga harus besar, sementara omset penjualannya sangat tidak menjanjikan. Jadi sekarang kami lebih banyak memproduksi lagu pop,” kata Wendy Aji Sutantio, direktur pemasaran PT Indo Semar Sakti, induk perusahaan yang membawahi sejumlah perusahaan rekaman: Kings, Bulletin, Billboard, Aruna, dan Granada Records.

Menurut Wendy, biasanya honor seorang penyanyi yang sudah terkenal berkisar antara Rp 10 hingga Rp 25 juta. Sementara penata musik jazz ternama meminta pembayaran sekitar Rp 20 juta musik 10 hingga 12 lagu.

“Jadi dengan angka-angka itu, sangat sulit bagi kami untuk memproduksi lagu-lagu jazz sekarang. Seperti diketahui, omset penjualan kaset di Indonesia dewasa ini merosot antara 40 hingga 50 persen,” tambah Wendy.

GAMBARAN buram industri rekaman musik jazz pada saat ini tentu sangat kontras bila dibandingkan dengan tahun 1970/ 1980-an lalu. Pada saat itu banyak lagu-lagu bernuansakan jazz yang populer. Misalnya Api Asmara Margie Seeger terjual puluhan ribu kaset. Tersiksa Lagi lewat suara Utha Likumahuwa juga terjual hingga 100.000 kaset. Memasuki era 80-an, pada tahun 1983 Enggo Lari yang dinyanyikan suara Jopie Latul terjual hingga 200.000 kaset. Lucunya, belakangan ini Jopie Latul justru sukses sebagai penyanyi dangdut.

Tahun 1986, Bhaskara, grup jazz kita yang pertama kali muncul di arena North Sea Jazz Festival, menerbitkan Bhaskara 86 yang juga cukup berhasil. Lagu-lagu seperti Betawi, Putri, Life Is Too Short To Worry menjadi sangat populer. Kaset Bhaskara itu konon terjual hingga 75.000 kaset. Sebuah angka yang sangat sulit, kalau tidak dikatakan nyaris mustahil, diperoleh sebuah rekaman jazz penyanyi Indonesia sekarang ini.

“Sekarang ini memang tidak, tapi saya percaya pada suatu waktu nanti rekaman jazz akan disenangi lagi. Menurut saya, sekarang ini trend musik rekaman sangat bervariasi. Sayangnya jazz tidak termasuk di dalamnya,” kata Johanes Soeryoko dari Aquarius Musikindo, yang pada tahun 70 dan 80-an gencar merekam Jopie Item, Embong Raharjo, Karim Suweileh dan pemusik-pemusik jazz lainnya. (Rakaryan S dan Theodore KS)

Sumber: KOMPAS, Minggu 09-11-1997 Hal. 20