Benny Likumahuwa: Jazz, Dunia Saya

By on August 5, 2000

Nada yang dipilih saat memainkan sebuah lagu tidak begitu banyak. Tetapi dari yang sedikit tersebut, Benny Likumahuwa mampu menyuguhkan permainan menawan. Enak dinikmati.

Hal ini mengingatkan pencinta musik pada permainan piano Count Bassie yang biasanya sangat pelit dengan nada. “Improvisasi tidak harus ramai atau mengobral nada. Yang penting, melodi yang disuguhkan enak dinikmati,” kata Benny Likumahua.

Nama Benny Likumahua sangat diperhitungkan dalam dunia musik jazz Indonesia. Ia pun cukup dikenal di kalangan pemusik jazz mancanegara. Benny memang sempat tampil di berbagai festival jazz internasional. Bahkan, sekitar pertengahan tahun tujuh puluhan, ia sempat tampil di sejumlah pub jazz di Bangkok.

Dalam hidupnya, Benny tidak hanya berkecimpung dalam musik jazz. Ia juga memainkan musik rock dan pop. Pengalaman ini pula yang membedakan Benny dengan musisi jazz lainnya. Bahkan, ia tidak hanya sekadar ikut-ikutan main musik rock, tetapi menjadi motor dari grupnya.

Tahun tujuh puluhan, Benny bergabung dengan The Rollies, kelompok band sangat terkenal pada zamannya. Masuknya Benny mampu membawa warna baru. Musik The Rollies tidak lagi condong pada The Hollies, Rolling Stones dan The Beatles.

Pada tahun 1972, The Rollies ke Bangkok. Sesampai di sana personel The Rollies, kecuali Benny, tidak betah karena kerasnya kompetisi. Mereka memutuskan pulang ke Jakarta. Benny tidak.

“Di sinilah saya bertemu dan berkenalan dengan Bill Saragih. Setelah akrab, kami sering ber-jamsession. Om Bill mengajak saya ke Australia. Saya setuju. Saya pulang ke Jakarta terlebih dahulu, sementara Om Bill langsung ke Australia. Sampai di Jakarta saya terpengaruh teman-teman. Saya kembali bergabung dengan Rollies. Akibatnya, saya tak jadi ke Australia,” Benny mengenang.

Waktu ia mendarat di Jakarta, setelah tiga tahun tinggal di Bangkok, teman-teman The Rollies mengajaknya kembali bergabung. Kebetulan suasana kehidupan musik di Indonesia cukup bagus. Bayaran yang diterimanya dua kali lebih besar dari yang di luar negeri. Maka Benny pun membatalkan rencananya menyusul Bill Saragih ke Australia. Padahal, semua surat untuk tinggal di Australia sudah selesai diurus. “Semuanya masih saya simpan. Buat kenang-kenangan,” tutur Benny.

Rock
Meskipun ikut ”terseret” arus bergabung dengan kelompok musik yang memainkan musik rock, Benny tetap menyempatkan diri memainkan jazz. “Dunia saya tetap jazz. Sejak usia sebelas tahun saya sudah memainkan jazz. Jadi, ada sesuatu yang hilang kalau saya tidak memainkan jazz dalam tempo lama. Memasuki tahun delapan puluhan, praktis musik rock saya tinggalkan dan kembali ke musik jazz, sampai sekarang. Buat saya pribadi, main rock ada jenuhnya, sedangkan jazz membuat saya nyaman,” kata Benny yang sesekali masih main bersama The Rollies.

Kemampuannya dalam memainkan alat musik tidak hanya sebatas pada satu alat. Belakangan ini ia sering tampil memainkan trombone. Awalnya ia seorang pemain bas. “Saya terbiasa memainkan double bass sejak kecil. Ada nuansa natural dari bunyinya. Sungguh nikmat untuk dirasakan. Beda dengan gitar bas yang menggunakan fret,” kata pria lulusan SMA Perkapalan ini.

Dunia musik merupakan keseharian dari keluarga Likumahuwa. Sejak kecil, seperti kebanyakan orang Ambon, ia sudah terbiasa dengan musik. Ibu dan ayahnya selalu memutar lagu-lagu jazz dan hal ini dirasakan Benny mampu mempengaruhi jiwanya. Musik di tanah kelahirannya, Ambon, mirip dengan musik Hawaiian. Hal itu, menurut Benny, telah membuatnya menyukai jazz.

Komitmen
Komitmennya pada dunia jazz juga layak mendapat acungan jempol. Selain menjadi pembicara mengenai musik jazz di salah satu radio secara rutin, ia juga menyempatkan diri melatih sejumlah orang yang berminat pada musik jazz. Tahun 1994 Benny membantu sekelompok tuna netra asal Bandung memainkan musik jazz. Sayang, kelompok yang diberi nama Sparkle dan sempat tampil di JakJaz 1995 itu, kemudian hari tidak lagi memainkan jazz.

Yang cukup membanggakan adalah keberhasilannya ”mengangkat” Syaharani menjadi penyanyi jazz terkenal. Seperti diketahui, Syaharani yang sempat mendapat kehormatan tampil berduet dengan Al Jarreau di Jakarta belum lama ini, adalah penyanyi jazz papan atas. Kariernya melejit, setelah ia tampil dalam pergelaran Big Band pimpinan Benny Likumahua di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tahun 1995.

Sekitar tahun 1994 Benny berkenalan dengan Syaharani di Jakarta. Waktu itu Syaharani tampil bersama Gilang Ramadhan. Dalam pengamatan Benny, Syaharani yang waktu itu masih menyanyikan lagu-lagu pop dan rock bisa menjadi penyanyi jazz jika diarahkan. Sejak itu Benny mulai mengajaknya tampil dalam berbagai pertunjukan jazz.

Benny boleh sukses membimbing Syaharani, tetapi ia mengaku gagal saat membimbing anaknya sendiri untuk bermain musik. “Saya sadari akan sulit, jika saya mendidik langsung anak saya. Sebab, masing-masing mempunyai ego. Kalau ini sampai terjadi, bukannya malah bagus, bisa-bisa berantakan. Kita jadi jengkel, si anak pun malah bisa frustrasi,” kata Benny. (Oleh: Eddy Koko)

Sumber: Suara Pembaruan 31 Juli 2000