Batam Jazz Festival, Oase yang Memudar

By on May 10, 2001

Oase itu akhirnya kembali memudar. Festival Jazz International yang akan digelar di Batam awal Juni nanti, secara resmi akan dilakukan re-scheduling atau penjadwalan ulang.

Padahal, inilah festival yang dinanti banyak pecinta jazz Tanah Air. Di tengah miskinnya panggung jazz berskala nasional apalagi internasional, Batam Jazz laksana oase yang menyegarkan. Namun apa boleh buat, rencana besar yang konon menelan biaya miliaran rupiah ini untuk sementara harus mengalami penundaan.

Bisa jadi, penyebabnya sangat serius. Karena, menurut pernyataan resmi yang dikirim ke meja redaksi Astaga!musik, Kamis pagi (10/5), terjadi perbedaan persepsi amat tajam di antara panitia pelaksana.

Bahkan pers rilis bernomor kop surat No.071/BIJF/ V/ 2001 dan ditandatangani ketua umum Batam Internasional Jazz Forum (BIJF) sekaligus Ketua dan Pendiri Yayasan Batam Jazz Forum, Hendra Sinadia, menyatakan bahwa Panitia Pelaksana BIJF secara resmi dibubarkan. Atas pembubaran ini, beberapa nama mengundurkan diri dari jabatan kepanitiaan, termasuk Hendra Sinadia, ketua Umum BIJF.

Tiga keputusan lain selain keputusan pertama tadi adalah BIJF akan tetap dilaksanakan dengan jadual yang akan ditentukan kemudian dan dengan struktur kepanitiaan baru; Batam Jazz Forum – sekelompok anak muda pecinta jazz, penggagas festival akbar ini – secara kelembagaan tidak terlibat lagi; dan Panitia BIJF sebelumnya tetap akan membantu pelaksanaan BIJF dalam kapasitas sebagai penggemar musik jazz di Batam.

Sayang memang, kalau gagasan besar ini memudar begitu saja. Padahal ‘posisi’ festival ini sangat strategis. Di Singapura, misalnya, 18-20 Mei bakal berlangsung festival jazz dunia yang disebut-sebut terbesar di Asia dan dihadiri tak kurang dari seniman jazz besar macam Eldee Young, Ernie Watts, Jeremy Monteiro, Lee Ritenour & Friends, dan pengusung new age jazz, Tuck & Patti.

Bukan hal mustahil kalau mereka ‘mampir’ di Batam dan bersirengkuh bersama musisi-musisi jazz kita, antara lain – yang sudah dihubungi untuk tampil di BIJF – Jakarta All Stars, Krakatau, Indra Lesmana Reborn, Bubi Chen Virtuoso Trio, Idang Rasjidi Quartet, Syaharani, Ireng Maulana & Friends, Bujana Trio, Bill Saragih, Andien & Brian Beattie, hingga Benny Likumahuwa Jazz Conncetion.

Kita cuma bisa berharap. Sudah saatnya musik jazz Indonesia bersinar lagi di mata masyarakat jazz dunia. Dan, Batam, harus menjadi oase selanjutnya, setelah Festival Jak Jazz belakangan vakum. (mhidayat/astagamusik)