.

   

 

 

 

.
Horizon-line.Com
.
  Jazz@Astaga!
Rubrik ini tersaji atas kerjasama Horizon-line.Com dan portal musik Astaga!Com. Artikel-artikel tentang jazz yang tersaji di rubrik ini juga dirilis di kanal musik Astaga!Com.
.

Home > Jazz@Astaga! > Artikel

.

Romatika Alun Desah Michael Franks
Jakarta - 05 Jan 01 16:36:10 WIB

Nama Michael Franks sempat meledak di akhir tahun 70-an hingga awal tahun 80-an. Jazzer kulit putih ini, memperkenalkan satu tipe vokal unik di blantika jazz dunia. Gaya vokal yang tanpa vibrasi itu, hingga kini menjadi kekhasan Michael dan tak dapat ditiru musisi manapun.

Michael lahir 18 September 1944 di La Jolla, sebuah kota yang terletak di negara bagian California. Bakat musik Michael sudah mulai terlihat sejak ia masih sangat muda. Untungnya, kedua orang tua Michael mengerti dan mendukung bakat musik yang tertanam dalam diri anaknya itu. Mereka membelikan Michael sebuah gitar yang kemudian dikenal sebagai salah satu instrumen yang dikuasai Michael selain Mandolin dan Banjo.

Di usia belasan, Michael mulai memfokuskan dirinya pada musik jazz. Ia menganggap jazz adalah sarana terbaik baginya guna mengembangkan bakat dan mengeksplorasi kemampuannya dalam bermusik. Vokalnya yang unik dan tanpa vibrasi membuat banyak orang kepincut dan merasakan suasana baru dalam khasanah musik jazz yang kala itu didominasi penyanyi kulit hitam yang kebanyakan memiliki tata artikulasi nyaris sempurna.

Pertengahan tahun 1975, Michael merilis album perdananya The Art of Tea di bawah label Reprise Records. Lewat singel Eggplant, Popsicle Toes dan St. Elmo's Fire yang dimuat dalam album ini, nama Michael menjadi populer dan kehadirannya mulai di perhitungkan di barisan musisi jazz muda dunia.

Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1977, Michael semakin menancapkan kukunya di deretan penyanyi fusion papan atas. Album keduanya, Sleeping Gipsy, diakui para pengamat sebagai proyek eksperimental Michael Franks yang pertama.

Disebut eksperimental karena di album ini Michael nekat memasukkan unsur samba yang sebelumnya tidak tersentuh sama sekali di album pertama. Hasilnya, The Lady Wants To Know, Antonio's Song dan Down In Brazil sukses menjadi karya monumental di hadapan para penggemarnya hingga saat ini. Selain itu, album ini juga merupakan debut Michael Franks di bawah panji Warner Bros Records, sebuah perusahaan rekaman terbesar yang mulai merangkul musisi jazz muda guna menyaingi kemapanan GRP.

Ternyata, keterbukaan musik fusion masih terlalu sempit bagi Michael Franks. Jiwa petualang yang amat kental membimbing Michael untuk lebih banyak berkolaborasi dengan musisi-musisi hebat di luar main stream jazz. Hasilnya, Michael mulai memakai blues sebagai salah satu media yang pantas untuk menyalurkan kreativitasnya.

Pengalaman di bereksperimen di jalur blues itu membawa pengaruh besar bagi karya-karya Michael di masa depan. Dengarkan saja musik dalam album-album Michael seperti Burchfield Nines (1978), Tiger In The Rain (1979), One Bad Habbit (1980) dan Objects of Desiree (1982), disana terdengar jelas ada sedikit nuansa blues yang cukup kental dalam petikan gitar yang dimainkan sendiri oleh Michael.

Tahun 1983, Michael merilis sebuah album yang kurang sukses di pasaran. Album bertitel Passionfruit itu sepertinya menggambarkan kebosanan pendengar pada musik Michael yang cenderung monoton dan kurang berkembang.

Melihat kondisi itu, Michael kembali menghentak lewat album Skin Dive di tahun 1985. Album ini ternyata mampu menghadirkan nuansa baru dalam ensiklopedi musik Michael Franks. Singel When I Give My Love To You dan Read My Lips mampu kembali mendongkrak angka penjualan album ini di pasar musik jazz dunia.

Mungkin, inilah album terakhir Michael yang mampu meledak di pasaran. Pasalnya, album-album Michael berikutnya (The Camera Never Lies, Blue Pacific, Dragonfly Summer, Abandoned Garden dan album terbarunya Barefoot On The Beach) hanya mampu mempertahankan reputasi Michael sebagai 'empu' mainstream dan funk jazz dunia, tanpa menghasilkan angka penjualan yang cukup fantastis.

Selama karirnya, jazzer yang juga adalah seorang dosen musik ini telah menelurkan 14 album, termasuk dua buah album The best of Michael Franks yang dirilis tahun 1988 dan 1999 (keduanya dibawah label Warner Bros records).

Saat ini, Michael lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca novel-novel karya Charles Burchfields dan menggelar konser-konser jazz keliling dunia. Kalau Anda adalah seorang penggemar sejati penyanyi ini dan ingin mengetahui kabar terbaru mengenai Michael, klik saja website pribadinya yang beralamat di www.michaelfranks.com. Selamat mencoba!(junior ryo ep)

 

 
Copyright © 1997 - 2001 Horizon-line.Com  All Rights Reserved | Contact Us

Situs Komunitas  Jazz Indonesia

  My Horizon
  Newsletter
  Polling Jazz
  Free E-mail
  Zodiak Anda

  Jazz Board

  Jazz e-Card
.
  Direktori Jazz
  Majalah Jazz
  Jazz Styles
  Festival Jazz
  Workshop Jazz
  Label Rekaman
  Radio Jazz
  Foto-foto Jazz
  Klub Jazz
  Musisi Jazz
  Sejarah Jazz
.
  Intermezo
  Toko Musik
  Studio Musik
  Sekolah Musik
  Bursa Musik
  Agenda Budaya