Arif: Jazz Terasa Lebih Bebas

By on January 23, 2001

Tekun dan konsisten. Husein Arief Setiadi menilai kedua hal itu penting baginya dalam mengembangkan diri sebagai seorang peniup saksofon jazz.

Ia juga percaya, musik mampu menghidupinya sehingga ilmu ekonomi yang dipelajarinya sampai mendapatkan gelar sarjana di Universitas Pajajaran Bandung tidak dimanfaatkan. Berkat kerja keras itulah, kini Arief menjadi salah satu peniup saksofon musik jazz di Indonesia yang cukup diperhitungkan.

Setelah wafatnya Maryono, dunia musik jazz Indonesia semakin kekurangan peniup saksofon yang serius untuk musik jazz. Setidaknya, hanya ada Embong Raharjo dan Trisno. Sementara regenerasi terkesan berjalan lamban. Sejumlah peniup saksofon yang ada lebih menekuni musik pop. Kemudian, muncul Arief yang dalam perjalanan kariernya pernah tampil pada festival jazz paling bergengsi di dunia, North Sea Jazz Festival (1996) di Den Haag, dan Jak Jazz di Jakarta.

Berangkat dari keluarga yang menyukai musik, semula Arief belajar piano bersama empat orang kakaknya. Ibunyalah yang mendorong Arief dan empat kakaknya belajar musik, khususnya piano klasik.

Sedangkan perkenalan Arief dengan alat tiup saksofon dimulai ketika ia menjadi anggota Elfa’s Junior tahun 1984. Ayahanda Elfa Secioria yang pertama kali melihat Arief memiliki bakat memainkan saksofon.

“Waktu saya main-main dengan saksofon di studio Bang Elfa, Om Hasbullah bilang tiupan saya benar. Terus saya ditawari saksofon sopran dan flute. Kemudian saya beli dengan harga Rp 90.000,” tutur Arief yang mengaku sudah mendengarkan Stan Getz sejak masih di sekolah dasar.

Saksofon memang identik dengan musik jazz. Setelah memiliki saksofon, Arief pun giat mempelajari jazz secara otodidak. Ia tidak bisa memberikan jawaban yang pasti kenapa menyukai jazz. “Yang pasti, saya suka musik jazz sejak kecil. Musik ini terasa bebas dibandingkan dengan musik klasik yang saya pelajari,” jawabnya singkat.

Meskipun mulai menggeluti musik jazz ketika ia beranjak dewasa dan memasuki bangku kuliah, Arief tetap bermain dengan rekan-rekannya dalam band yang memainkan lagu-lagu Top 40. Salah satu rekan main musiknya ketika itu adalah Dwiki Darmawan.

“Saya main musik pop karena perlu uang. Apalagi ayah sudah tidak ada. Jadi, saya harus cari uang sendiri. Sementara dalam musik jazz, saya sedang dalam taraf belajar dan belum menghasilkan banyak uang. Paling-paling manggung di berapa tempat dengan rekan-rekan yang senang pada musik jazz. Kegiatan saya yang rutin, ketika itu menjadi penyiar di Radio KL CBS (radio yang mengkhususkan pada musik dan dunia jazz di Bandung-pen),” kata Arief yang juga bercerita mengenal istrinya, Awani Irewati (Ira) lewat sebuah pertunjukannya di Bandung.

Loper Koran
Profesi yang digeluti pasangan suami istri ini jauh berseberangan. Arief seorang musisi, sedangkan istrinya pengamat politik dan kolomnis di sejumlah media massa. Istrinya, Ira, merupakan salah seorang dari sebelas peneliti LIPI yang pernah menandatangani mosi tidak percaya terhadap kepemerintahan Soeharto.

“Awalnya, waktu itu istri saya dari Surabaya mau cari kerja di Jakarta, mampir dulu di Bandung. Kebetulan ia nonton pertunjukan saya di sebuah kafe. Ceritanya, kami terus kenalan, ngobrol dan sama-sama suka,” kenang Arief yang enggan bercerita banyak tentang istrinya.

Tahun 1990, setelah menikah, sang istri mendapat beasiswa di Brisbane Griffith University dan Arief ‘terpaksa’ ikut istri ke negeri kanguru itu. Meskipun biaya untuk hidup cukup, Arief tidak ingin sepenuhnya bergantung pada sang istri. Ia sempat bekerja sebagai loper koran. Malah ia pernah pula menjadi tukang sampah dan tukang masak di restoran, termasuk memberikan pelajaran bahasa Indonesia secara privat. Namun ia tidak lupa dengan musik jazz. Kehadirannya di Australia juga dimanfaatkannya untuk belajar jazz secara serius.

“Setelah bekerja secara rutin dari Senin sampai Jumat, selanjutnya pada Jumat sampai Minggu saya betul-betul konsentrasi pada musik jazz. Saya betul-betul belajar hidup, menghargai waktu dan percaya diri di Australia. Makanya, saya berani mengiklankan diri, bersedia main musik dengan siapa pun yang butuh saksofonis,” ia mengenang masa lalunya.

“Semula sejumlah anak muda yang senang jazz memanfaatkan tenaga saya. Dari sinilah, kemudian saya bisa main di Hotel Hilton dan sejumlah tempat lainnya serta sempat main bersama musisi jazz kenamaan seperti Don Burrows, Dale Barlow dan lainnya,” tutur Arief yang sempat tinggal sekitar empat tahun di Australia.

Tahun 1994 Arief pulang ke Indonesia. Ia boleh bangga. Dari jerih payahnya bekerja di Australia ia bisa membeli rumah dan mobil di Jakarta serta saksofon baru. Paling membanggakan lagi, pengetahuan tentang musik jazznya semakin luas. Rekannya saat masih di Bandung, Riza Arsyad (kini personel Simak Dialog), yang pertama ditemuinya di Jakarta.

Riza mengajaknya main di Ratu Plaza bersama kelompok Katalog. Kemudian, peniup trompet Didiet Maruto mengajaknya bergabung dengan grup musiknya, B Soul, untuk mengiringi Warren Wiebe serta Kenny Garret saat main di Indonesia.

Lewat kesempatan ini Kenny Garret dan Arief menjadi akrab. Arief pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, belajar pada Kenny Garret. Seminggu Kenny Garret tinggal di rumah Arief di Rumah Susun Kebon Kacang.

Lewat perkenalan dengan Warren Wiebe serta Kenny Garret inilah yang kemudian membawa Arief ke gelangang musik jazz paling bergengsi di dunia, North Sea Jazz Festival, Den Haag, Belanda. Kini, Arief telah menjadi salah seorang peniup saksofon yang selalu diperhitungkan di dunia jazz.  (Oleh: EDDY KOKO)

Sumber : Suara Pembaruan, Senin 9 April 2000