Abdullah Ibrahim, An Evening of Jazz

By on May 19, 2001

Nusantara Ballroom, The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis malam (17/5). Sekitar 100-an tamu kedutaan besar Afrika Selatan tampak bersiap-siap untuk masuk ke Ballroom hotel mewah tersebut. Malam itu, Dr. Abdullah Ibrahim, pianis jazz asal Afrika Selatan, akan menunjukan kepiawaiannya dalam sebuah konser ekslusif bertajuk A Night of Jazz with Dr. Abdullah Ibrahim.

Acara dimulai dengan sebuah jamuan makan malam yang cukup mewah, dengan menu khas Afrika Selatan. Para tamu tampak memenuhi sepuluh meja yang tersedia. Maka, menu khusus seperti Butternut Soup with Roasted Butternut Seed akhirnya membuka santap malam tersebut. Sebuah jamuan yang menjadi “pemanasan” dari seorang Abdullah Ibrahim bagi para tamu.

Setelah ucapan selamat datang kepada para tamu dari duta besar Afrika Selatan, sang bintang yang ditunggu akhirnya naik ke atas pentas. Berbaju hitam, Ibrahim tampak bersahaja dengan penonton dan langsung memainkan pianonya. Pianis yang telah berkolaborasi dengan pendekar-pendekar jazz dunia itu membawakan sekitar 11 komposisi, di antaranya Song for Aggrey, The Mountain, Blues for A Hip King, The Wedding, Duke 88, Children of Africa, Black & Brown Cherries, dan Song for Sathima.

Hingga komposisi terakhir, Ibrahim tak pernah berhenti memainkan pianonya. Jemarinya tampak lincah dan ekspresif membawakan komposisi-komposisinya. Penonton seperti tersihir dengan gaya permainannya yang menghanyutkan. Semua diam. Tak ada tepuk tangan hingga menjelang komposisi terakhir. Akhirnya, aplaus panjang diberikan ketika Ibrahim tampak menyudahi permainannya. Pianis pendiri M7 International Music Academy ini langsung menyapa penonton dan mengungkapkan rasa terima kasihnya.

Permainan Ibrahim tampak matang. Jam terbangnya yang tinggi di ranah musik jazz agaknya menjadi salah satu penyebabnya. Belajar piano sejak usia tujuh tahun, dan menjadi musisi profesional pada 1949, serta pernah tampil bersama Duke Ellington, Wilie Max Big Band, Hugh Masekela, dan menjadi anggota dari Jazz Epistles — salah satu grup jazz asal Afrika Selatan.

“Saya kagum dengan permainan Ibrahim. Emosinya terkontrol dengan baik ketika memainkan pianonya,” ujar Syaharani kepada Horizon-line.Com seusai pertunjukan. Rani tampak puas dengan permainan piano Ibrahim.

Ungkapan Rani memang beralasan. Puluhan album telah dirilis pianis yang lahir di Cape Town, South Africa, 9 Oktober 1934 ini. Di antaranya adalah Di antaranya adalah Ancient Africa, The Dream, African Sketchbook, Anatomy of Sout African Village, dan tampil bersama Duke Ellington dalam album Duke Elington Presents the Dollar Band Trio, hingga album Sangoma. Itulah sebabnya, pianis dari Benua Hitam ini tak bisa dipandang sebelah mata.

Gaya permainannya
Permainan Ibrahim memiliki ciri yang sangat khas. Latar belakang musik Afrika agaknya turut mempengaruhi permainannya. Oleh banyak pengamat, permainan piano Ibrahim dinilai sebagai pencampuran yang sempurna antara musik Afrika dan jazz Amerika. Ibrahim memang gemar mengawinkan unsur jazz Afrika dan Amerika – tempat di mana jazz lahir, tumbuh, dan berkembang – dalam komposisi-komposisinya.

Kedatangan Abdullah Ibrahim ke Indonesia terlaksana atas undangan pihak kedubes Afrika Selatan di Jakarta. Konser ini, seperti diungkapkan sumber Horizon-line.Com di kedutaan besar Afrika Selatan, memang hanya diperuntukan bagi 100 orang. Padahal, banyak pencinta jazz di Indonesia yang ingin menikmati konser ini terbilang sangat besar. Tapi, sebagai sebuah langkah awal, usaha yang dilakukan oleh pihak kedubes Afrika Selatan untuk mendatangkan musisi-musisi jazznya  menarik untuk disimak.

Mudah-mudahan pada kesempatan mendatang, seperti dikeluhkan seorang pengunjung situs Horizon-line.Com yang tak kebagian undangan, konser serupa sebaiknya mengundang lebih banyak pencinta jazz Tanah Air. “Dengan demikian, publik jazz Indonesia bisa lebih mengenal musisi-musisi jazz asal Afrika Selatan seperti Abdullah Ibrahim,” tulisnya melalui e-mail kepada Redaksi. Nah, semoga itu terlaksana! (yollismn)