A Life Time Appreciation untuk Nick Mamahit

By on April 8, 2001

NICK Mamahit, 78 tahun, tampak masih cukup enerjik di usianya yang senja. Sekalipun berjalan tertatih akibat serangan stroke, pianis jazz ini masih menyisakan sisa-sisa kejayaan masa lalunya. Semangatnya untuk bermusik masih terlihat. Konser A Life Time Appreciation For Nick Mamahit, Kamis (5/4), di Grand Ball Room, mandarin Orienthal  Hotel, adalah buktinya. Om Nick, yang malam itu mengenakan batik berwarna kuning, terlihat haru.

Konser amal ini cukup mendapat perhatian penonton. Pasalnya, yang juga tampil pada malam itu adalah beberapa pianis yang cukup punya nama. Sebutlah Bubi Chen, sang maestro jazz Indonesia, Tjut Nyak Deviana Daudsjah, dan Irsa Destiwi, pianis belia berbakat. Maka, pertemuan tiga generasi ini akhirnya membawa cerita tersendiri yang ditunggu publik jazz, terutama penggemar permainan piano Om Nick.

Irsa Destiwi tampil membuka acara dengan tiga buah komposisi: Lulaby In Rhythm (Benny Goodman), Love letter to My Father (Eddy Gomez), dan Cool Green (Kenny Drew). Irsa tampil ekspresif. Pengalaman pianis belia yang lahir di Jakarta, 26 Desember 1980 ini terlihat cukup matang. Dengan lincah, Irsa berhasil membangun atmosfir jazz pada malam itu.

T.N.Deviana Daudsjah tampil menyusul Irsa dengan komposisi etnik Indonesia, yang dibungkus dengan warna jazz: Sarinande dan Selayang Pandang. Deviana tampil penuh percaya diri dan sempat berinteraksi dengan penonton melalui “plesetan” dari  komposisi yang dibawakannya. Tiba-tiba warna jazz dari kedua komposisi tersebut disulap menjadi jingle sebuah produk Ice Cream. Tentu saja dengan harmonisasi yang tetap terjaga. Penonton tersenyum kagum.

Ketika Bubi Chen tampil ke atas pentas menggantikan Deviana, tepuk tangan penonton langsung membahana. Maestro jazz yang mengaku mengagumi permainan piano Om Nick ini langsung menyapa penonton. Om Bubi kemudian menceritakan pengalamannya pada masa lalu bersama Om Nick. Setelah itu, komposisi Autumn Leaves dan Body And Soul langsung dimainkan pianis asal Surabaya itu. Om Bubi tampak hanyut dengan permainannya. Sesekali melemparkan senyum kepada penonton.

Saat yang ditunggu-tungu pun tiba. Om Nick, yang dipapah untuk melangkah ke atas pentas, akhirnya hadir setelah sekian lama absen dari panggung jazz Tanah Air. Dengan mengenakan sarung tangan, Om Nick tampil membawakan beberapa komposisi Indonesia, seperti Tanah Pusaka, Selendang Sutera, Rindu Lukisan, serta Doa Dan Restu. Semuanya dimainkan dengan tema jazz yang kental.

Om Nick tampak bahagia malam itu. Rasa syukurnya pada Tuhan diungkapkannya melalui komposisi Doa dan Restu Mu. Itulah salah satu alasan Om Nick memainkan jazz. “Jadi, di samping memainkan musik jazz untuk publik, kita juga harus memainkannya untuk memuja Tuhan, ujarnya kepada wartawan.

Di akhir pertunjukan, ritual jazz akhirnya menjadi puncak dari acara yang digelar oleh Komseni dan Pia Alisjahbana ini. Ritual jam session, yang memang ditunggu oleh penonton, akhirnya mempertemukan Deviana, Irsa, Bubi Chen, dan Om Nick Deviana. Komposisi-komposisi yang dimainkan pada ritual tersebut adalah Tenderly, Today So many Roses, One Note Samba, Summer Time, hingga Burung Kakatua.

Puncak acara tersebut masih diikuti oleh penjualan CD Om Nick, Music From Mandarin, yang hanya diproduksi 100 buah. Rencananya, hasil penjualannya – termasuk penjualan tiket konser malam itu, akan digunakan untuk membantu pengobatan Om Nick, dan mengurusi sejumlah buku-buku jazz yang dimilikinya. CD ini merupakan rekaman permainan Om Nick di Hotel Mandarin, pada era 80-an, yang direkam oleh Jack Daniels. (yollismn)